Juni 3, 2026

Pecel Salad Terbaik Dunia TasteAtlas Duduki Peringkat 7, Kalahkan Som Tam Thailand

images (3)

Pecel salad terbaik dunia TasteAtlas 2026 resmi menduduki peringkat ketujuh — sebuah pencapaian yang tidak hanya mengangkat nama kuliner Jawa Timur ke panggung global, tetapi juga menandai momen bersejarah di mana salad saus kacang Indonesia menggeser som tam Thailand yang selama bertahun-tahun mendominasi peringkat salad terbaik Asia.

Apa Itu TasteAtlas dan Mengapa Peringkatnya Penting

TasteAtlas bukan sekadar platform rekomendasi restoran biasa. Ia adalah ensiklopedia kuliner tradisional dunia berbasis kroasia yang menghimpun penilaian dari jutaan pengguna aktif di seluruh penjuru dunia — mencakup puluhan ribu hidangan dari lebih dari 100 negara. Penilaiannya bukan bersifat editorial, melainkan berbasis ulasan nyata yang diverifikasi sistemnya untuk menyaring komentar tidak valid. Pada pembaruan 15 April 2026, TasteAtlas mencatat 19.437 penilaian total dalam kategori salad, dengan 11.015 di antaranya diakui sebagai penilaian yang sah.

Platform ini sudah berulang kali menjadi acuan media internasional dalam meliput tren kuliner global. Ketika sebuah hidangan masuk ke 10 besar daftar TasteAtlas, itu bukan sekadar pencapaian viral — melainkan rekognisi berbasis data dari komunitas kuliner global yang sesungguhnya.

Pecel di Posisi Tujuh, Som Tam Tergeser

Dalam daftar yang diperbarui April 2026, pecel khas Jawa Timur berhasil menduduki peringkat ke-7 dari seluruh salad di dunia. Pencapaian itu langsung menarik perhatian karena satu alasan spesifik: ia menggeser som tam asal Thailand — salad yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salad Asia paling populer dan paling dicintai lidah internasional. Pada 2024, som tam masih bertengger di peringkat sembilan sebagai salad terenak di Asia Tenggara. Kini pecel ada di atasnya, di daftar global.

Juara pertama daftar ini adalah Dakos, hidangan tradisional dari Pulau Kreta, Yunani — sebuah sajian yang terdiri dari roti barley kering yang diberi topping tomat cincang, keju myzithra, zaitun, caper, oregano, dan minyak zaitun berkualitas tinggi. Posisi-posisi berikutnya ditempati oleh berbagai salad dari Eropa Timur dan Timur Tengah seperti Ovcharska Salata dari Bulgaria, Fattoush dari Lebanon, dan Shopska Salata — sebelum pecel muncul di urutan ketujuh sebagai representasi Asia satu-satunya di papan atas.

Mengapa Pecel Menang

Dari perspektif kuliner internasional, pecel menawarkan sesuatu yang hampir tidak ditemukan di salad mana pun di dunia: kombinasi sayuran rebus hangat dengan saus kacang tanah yang kompleks — manis, gurih, pedas, dan aromatik sekaligus. Tidak seperti salad Barat yang umumnya berbasis sayuran segar dengan saus cair, pecel menyajikan tekstur yang berbeda di setiap gigitan. Kangkung, tauge, kacang panjang, dan bayam yang direbus sampai matang sempurna menjadi kanvas bagi sambal kacang yang dibuat dari kacang tanah goreng yang ditumbuk bersama gula merah, cabai, bawang putih, terasi, dan perasan jeruk.

Kerumitan rasa itu yang membuat para kritikus kuliner internasional sulit mengkategorikannya sebagai “salad biasa.” Pecel bukan sekadar sayuran dengan saus. Ia adalah hidangan berstruktur dengan keseimbangan rasa yang dibangun selama berabad-abad — berbeda di setiap daerah, namun tetap bisa dikenali sebagai satu keluarga kuliner yang kohesif.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa pengakuan ini bukan sekadar soal rasa, melainkan juga rekognisi atas kekayaan budaya dan filosofi hidup masyarakat Jawa Timur yang tercermin dalam setiap sajiannya. “Pecel bukan hanya makanan tradisional, tetapi identitas budaya masyarakat Jawa Timur. Dari sepincuk pecel, dunia bisa melihat bagaimana masyarakat Jawa hidup berdampingan dengan alam, memanfaatkan bahan-bahan lokal yang sehat, sederhana, namun kaya rasa,” ujarnya.

Indonesia Mendominasi Top 100

Yang membuat pencapaian ini lebih bermakna adalah fakta bahwa pecel tidak sendirian. Dalam daftar 100 Salad Terbaik Dunia versi TasteAtlas 2026, kuliner Indonesia hadir dalam barisan yang panjang. Ketoprak — sajian khas Jakarta yang memadukan ketupat, tahu goreng, bihun, tauge, dan saus kacang dengan sentuhan bawang putih pekat serta kecap manis — duduk di peringkat 18. Gado-gado, yang oleh banyak wisatawan asing sudah lama dijuluki “saladnya Indonesia,” mengamankan posisi ke-30 berkat komposisinya yang menggabungkan sayuran mentah dan rebus, telur, tahu, tempe, dan kerupuk. Lebih jauh di daftar yang sama, rujak cingur, asinan, dan karedok juga ikut tercantum.

Dominasi ini bukan kebetulan. Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang paling kaya dalam tradisi hidangan berbasis sayuran dengan saus — sebuah kategori yang secara global masuk dalam definisi luas salad. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki versi hidangan sejenis yang berbeda bumbu, berbeda tekstur, namun memiliki akar filosofi yang sama: menghormati bahan-bahan lokal, menyeimbangkan rasa, dan menyajikan makanan yang menyehatkan tanpa mengorbankan kompleksitas cita rasa.

Dari Warung Pinggir Jalan ke Peta Kuliner Dunia

Ironi terbesar dari pencapaian ini adalah kontrasnya dengan realitas keseharian pecel. Di Madiun, Mojokerto, Surabaya, dan ratusan kota kecil di Jawa Timur, pecel adalah makanan warung — disajikan di atas daun pisang atau piring plastik dengan harga yang tidak pernah membuat kantong terkuras. Ia bukan makanan fine dining. Ia bukan kuliner yang butuh reservasi. Ia adalah sarapan rakyat, makan siang pekerja, dan camilan sore yang sudah ada jauh sebelum kata “superfood” ada dalam kosakata internasional.

Namun justru itulah yang membuatnya bertahan dan menang. Dalam dunia kuliner global yang kini semakin menghargai keaslian, kesederhanaan, dan kedalaman rasa tradisional di atas glamornya presentasi modern, pecel menawarkan sesuatu yang sangat langka: kejujuran rasa yang tidak perlu berpura-pura menjadi sesuatu yang lain. Dan dunia, tampaknya, sudah siap mengakuinya.


Internal link:

  • “krisis chip AI DRAM 2026” — /teknologi-global/krisis-chip-ai-dram-2026/
  • “Veda Ega Pratama Moto3 Italia 2026” — /olahraga/veda-ega-pratama-moto3-italia-2026/
  • “kelaparan AS lampaui pandemi Covid” — /nasional/kelaparan-as-lampaui-pandemi-covid/
  • “Vietnam amnesti 10000 tahanan 2026” — /geopolitik/amnesti-vietnam-10000-tahanan-2026/
  • “regulasi AI konten digital” — /teknologi-global/regulasi-ai-konten-digital/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *