Juni 3, 2026

Ancaman Terbesar China Militer Setara USA

39891173_605

Ancaman Terbesar China Militer saat ini telah mencapai tingkat yang setara dengan Amerika Serikat, demikian pernyataan tegas Letnan Jenderal Stephen Sklenka dari Korps Marinir AS. Dalam pidatonya di Shangri-La Dialogue 2026 di Singapura, Jenderal Sklenka menyatakan bahwa tidak ada ancaman yang lebih besar bagi keamanan global dan stabilitas Indo-Pasifik selain China. Ia bahkan menegaskan bahwa kemampuan militer AS dan China saat ini setara, dan akan tetap demikian di masa mendatang.

Pernyataan Sklenka ini menjadi salah satu pernyataan paling keras dari pejabat militer AS dalam beberapa tahun terakhir. “China menyaingi Amerika Serikat dalam hampir setiap ukuran pengaruh nasional,” ujarnya di hadapan para delegasi dari lebih 40 negara. Menurutnya, visi Beijing bukan sekadar menjadi kekuatan regional, tetapi secara fundamental mengubah struktur internasional yang selama ini didominasi oleh aturan-aturan berbasis Barat pasca-Perang Dingin.

Sklenka, yang sebelumnya menjabat sebagai Komandan Pasukan Marinir AS di Pasifik, memiliki pengalaman langsung berhadapan dengan ekspansi militer China di Laut China Selatan dan sekitarnya. Ia menyoroti bahwa dalam satu dekade terakhir, China telah membangun pangkalan militer di Laut China Selatan, mengembangkan armada kapal perang terbesar di dunia, serta memiliki kemampuan rudal balistik anti-kapal yang mampu menjangkau pangkalan AS di Guam dan Jepang.

Kesetaraan militer yang mengejutkan

Klaim bahwa militer AS dan China kini setara patut dicermati. Selama beberapa dekade, AS memiliki keunggulan teknologi yang signifikan, terutama dalam hal pangkalan militer global, kapal induk, dan pesawat siluman. Namun China telah melakukan lompatan besar dalam pengembangan rudal hipersonik, kecerdasan buatan untuk perang elektronik, serta sistem anti-akses dan area denial (A2/AD) yang membuat AS sulit beroperasi di dekat wilayah China.

Salah satu indikator kesetaraan adalah kemajuan China dalam pengembangan kapal selam nuklir dan pesawat tempur siluman J-20 yang sebanding dengan F-22 dan F-35 milik AS. Selain itu, China juga memiliki kemampuan siber yang sangat agresif, yang oleh Badan Keamanan Nasional AS dinilai sebagai ancaman paling serius terhadap infrastruktur kritis Amerika.

Sklenka juga menyoroti aspek pengaruh ekonomi dan diplomatik. China kini menjadi mitra dagang terbesar bagi lebih dari 120 negara, mengalahkan AS. Belt and Road Initiative (BRI) telah mengikat banyak negara berkembang ke dalam jaringan ekonomi yang dipimpin Beijing. Di forum multilateral seperti PBB, G20, dan BRICS, China secara konsisten mendorong reformasi lembaga-lembaga internasional yang selama ini didominasi negara-negara Barat.

Respons China dan implikasi kawasan

Pernyataan Sklenka langsung mendapat respons dari delegasi China di forum yang sama. Mayor Jenderal Meng Xiangqing, yang mewakili China karena Menteri Pertahanan tidak hadir, kembali mengulang seruan agar AS membangun hubungan yang konstruktif, strategis, dan stabil. Ia menolak label ancaman dan menyebut bahwa China hanya ingin mempertahankan kepentingan nasionalnya yang sah serta menjaga perdamaian kawasan.

Bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pernyataan Jenderal AS ini menjadi dilema baru. Di satu sisi, mereka tidak ingin berada di bawah hegemoni kekuatan manapun. Di sisi lain, kesetaraan militer AS-China berarti bahwa tidak ada lagi “polisi kawasan” yang jelas. Jika kedua negara adidaya ini benar-benar setara, maka risiko konflik terbuka menjadi lebih tinggi karena tidak ada pihak yang merasa inferior atau takut untuk mengambil risiko.

Para analis militer yang hadir di Shangri-La Dialogue menilai bahwa pernyataan Sklenka bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari perubahan nyata dalam keseimbangan kekuatan global. AS masih unggul dalam hal aliansi dan pangkalan global, tetapi China unggul dalam hal kemampuan proyeksi kekuatan di wilayah regional, terutama di Laut China Selatan dan Selat Taiwan.

Analitis ke depan

Jika militer AS dan China benar-benar setara, maka strategi pencegahan tradisional AS yang mengandalkan keunggulan teknologi mutlak sudah tidak relevan. AS harus mencari cara baru untuk mempertahankan dominasinya, mungkin dengan lebih mengandalkan aliansi seperti AUKUS, QUAD, dan aliansi bilateral dengan Jepang, Korea Selatan, serta Filipina.

Namun, perlombaan senjata yang semakin cepat hanya akan meningkatkan risiko kesalahan perhitungan. Insiden kecil di laut atau udara bisa dengan cepat meningkat menjadi konflik besar jika tidak ada mekanisme komunikasi krisis yang efektif. China dan AS saat ini tidak memiliki saluran komunikasi militer tingkat tinggi yang andal, sebuah kondisi yang sangat berbahaya di era kesetaraan strategis.

Bagi Indonesia, pendekatan yang paling rasional adalah memperkuat diplomasi pertahanan dan menjaga netralitas aktif. Namun netralitas menjadi semakin sulit ketika kedua kekuatan besar memandang kawasan ini sebagai medan pertempuran utama mereka. Indonesia harus mulai memikirkan skenario terburuk: bagaimana jika konflik benar-benar pecah di Laut China Selatan? Apakah ASEAN memiliki mekanisme yang cukup untuk melindungi kepentingan anggotanya? Saat ini, jawabannya masih belum jelas.

Yang pasti, pernyataan Sklenka adalah alarm bagi seluruh kawasan. Dunia sudah memasuki era bipolar baru, dan kali ini kedua kubu memiliki kemampuan militer yang hampir seimbang. Stabilitas ke depan tidak lagi dijamin oleh supremasi satu kekuatan, melainkan oleh kemampuan kedua belah pihak untuk saling menahan diri—sesuatu yang tidak pernah mudah dalam sejarah hubungan internasional.


Internal Link (minimal 5):

“China desak hubungan stabil usai AS soroti penumpukan militer di Shangri-La” — /geopolitik/china-desak-hubungan-stabil-sorotan-militer-as-shangri-la-2026/
“Indonesia perkuat diplomasi pertahanan di Shangri-La Dialogue 2026” — /geopolitik/diplomasi-pertahanan-indonesia-2026-shangri-la-dialogue/
“Trump dan Xi bertemu bahas Iran, Taiwan, dan perdagangan” — /geopolitik/trump-xi-summit-beijing-iran-taiwan-perdagangan-2026/
“krisis Greenland dan pasukan Eropa di tengah tarif Trump” — /geopolitik/krisis-greenland-pasukan-eropa-tarif-trump-2026/
“Eropa dorong kemandirian pertahanan di tengah ketegangan AS-China” — /geopolitik/eropa-kemandirian-pertahanan-rearme-as-2026/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *