Juli 19, 2026

China dan Rusia Gelar Latihan Bersama Joint Sea 2026, Kapal Perang Saling Berkunjung di Qingdao

FB_IMG_1783526022209

Di bawah langit cerah di kota pelabuhan Qingdao, Provinsi Shandong, China timur, Rabu (8/7/2026), kapal-kapal perang China dan Rusia yang berpartisipasi dalam latihan “Joint Sea-2026” bersandar berdampingan di dermaga. Bendera nasional kedua negara berkibar berdampingan di puncak tiang utama kapal. Perwira dan pelaut dari kedua angkatan laut saling mengunjungi kapal masing-masing untuk saling memahami latihan rutin dan pengelolaan peralatan kapal perang. Sisi China membuka kapal perusak berpeluru kendali Kaifeng, sementara Rusia membuka kapal penjelajah berpeluru kendali Varyag.

Fase darat latihan China-Rusia “Joint Sea-2026” berakhir dengan lancar pada Rabu malam. Kapal-kapal dari kedua belah pihak akan berangkat dari pelabuhan militer Qingdao pada Kamis pagi menuju area laut yang ditentukan untuk latihan gabungan di laut. Membuka kapal perang untuk kunjungan awak kapal merupakan praktik internasional yang sudah mapan dan aktivitas tradisional selama pertukaran kapal angkatan laut, serta menjadi platform berharga bagi perwira dan tentara China serta asing untuk saling belajar. Kunjungan ini memungkinkan pelaut dari kedua belah pihak untuk mengamati kekuatan satu sama lain, mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan, dan belajar satu sama lain melalui pertukaran langsung.

Sekitar pukul 08.30 pagi, pelaut Rusia menaiki Kaifeng, sebuah kapal perusak berpeluru kendali Tipe 052D yang dirancang dan dibangun secara mandiri oleh China. Dikenal sebagai “Aegis China” karena kemampuan pertahanan udaranya yang canggih, kapal ini juga memiliki kemampuan tempur anti-kapal yang kuat. Kaifeng berfungsi sebagai kapal komando China untuk latihan ini. Ini adalah partisipasi pertama Kaifeng dalam seri latihan angkatan laut China-Rusia Joint Sea. Ketertarikan pelaut Rusia pada kapal perang China terlihat jelas sepanjang tur. Mereka dengan cermat dan teliti mengamati peralatan dan peta operasional yang dipajang di sepanjang lorong, dengan beberapa berhenti untuk melihat lebih dekat. Perhatian mereka terutama terfokus pada sistem peluncuran vertikal 64-sel dan meriam utama di haluan kapal saat personel China memperkenalkan peralatan tersebut melalui penerjemah.

Seorang personel pendukung Rusia mengatakan kepada Global Times pada Rabu, “Anda dapat melihat ketertarikan pelaut kami di mata mereka. Kami ingin mempelajari lebih lanjut tentang kinerja teknis peralatan tersebut.” Perwira dan pelaut China juga menaiki Varyag, sebuah kapal penjelajah berpeluru kendali yang sering dijuluki “pembunuh kapal induk.” Sebagai peserta reguler dalam latihan Joint Sea, Varyag telah menjadi kehadiran yang akrab dalam latihan gabungan China-Rusia. Kapal ini memiliki bobot lebih dari 11.000 ton. Sistem persenjataannya yang khas terdiri dari delapan peluncur ganda untuk rudal anti-kapal supersonik jarak jauh yang dipasang di kedua sisi haluan. Kapal penjelajah ini dapat beroperasi secara independen atau sebagai bagian dari gugus tugas untuk menyerang kapal permukaan musuh, mengganggu jalur komunikasi maritim, dan memberikan dukungan tembakan angkatan laut selama operasi amfibi.

Yang Mingyi, awak Kaifeng yang menaiki Varyag untuk pertama kalinya, mengatakan, “Naik kapal dan mengamatinya dari dekat, saya terkesan dengan kesiapan tempur awak Rusia yang kuat. Penjaga bersenjata ditempatkan di gangway dan di geladak depan. Para penjaga dilengkapi dengan helm, rompi antipeluru, dan senjata api yang dilengkapi dengan penglihatan malam. Profesionalisme mereka meninggalkan kesan mendalam pada saya.” “Pertukaran ini memperluas wawasan saya. Kami akan menarik pengalaman berharga Rusia dan menyesuaikan apa yang telah kami pelajari untuk lebih memperkuat kesiapan tempur kami sendiri,” tambahnya.

Sejak diluncurkan pada tahun 2012, seri “Joint Sea” telah berkembang menjadi latihan bersama dengan pengaruh internasional yang semakin besar. Latihan ini telah menjadi platform penting untuk memperdalam kerja sama militer antara China dan Rusia dan jendela kunci bagi kepercayaan strategis dan koordinasi antara kedua angkatan bersenjata. Chang Hao, seorang anggota komando latihan bersama, mengatakan kepada Global Times pada Rabu bahwa China mengambil inisiatif dalam merencanakan program latihan sebelum berkoordinasi erat dengan pihak Rusia untuk menyesuaikan prosedur dan rincian operasional sesuai dengan praktik taktis kedua angkatan laut.

Ke depan, keberhasilan fase darat latihan Joint Sea 2026 ini menandai babak baru dalam hubungan militer China-Rusia yang semakin erat. Pertukaran awak kapal yang berlangsung dalam suasana saling menghormati dan belajar ini tidak hanya meningkatkan interoperabilitas taktis antara kedua angkatan laut, tetapi juga memperkuat fondasi kepercayaan strategis di tengah dinamika geopolitik kawasan Asia-Pasifik yang semakin kompleks. Dengan berlangsungnya latihan di laut, dunia akan menyaksikan bagaimana dua kekuatan maritim besar ini menyelaraskan kemampuan tempur mereka, yang pada gilirannya akan mempengaruhi keseimbangan kekuatan dan stabilitas di kawasan. Namun, di balik pertunjukan solidaritas ini, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga keseimbangan antara kerja sama bilateral dan kepentingan regional yang lebih luas, serta merespons kekhawatiran negara-negara tetangga tentang potensi eskalasi militer di perairan regional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *