China Serukan Penghentian Serangan di Selat Hormuz demi Stabilitas Kawasan dan Rantai Pasok Global
Kementerian Luar Negeri China mengeluarkan pernyataan resmi yang mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik di Selat Hormuz untuk segera menghentikan serangan. Seruan ini disampaikan pada Senin (13/7/2026), di tengah eskalasi militer yang semakin meningkat antara Iran dan koalisi pimpinan Amerika Serikat, yang telah mengancam stabilitas kawasan dan kelancaran rantai pasok energi global.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers rutinnya menyatakan bahwa China sangat prihatin dengan situasi di Selat Hormuz. “Kami mendesak semua pihak yang terlibat untuk menahan diri, menghentikan semua tindakan yang dapat memperburuk situasi, dan kembali ke jalur dialog,” ujarnya. China menekankan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Teluk, yang merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dunia.
China, sebagai salah satu importir minyak terbesar di dunia, memiliki kepentingan langsung dalam keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Setiap gangguan di selat tersebut dapat berdampak langsung pada harga energi global dan stabilitas ekonomi China. Seruan ini juga mencerminkan posisi Beijing yang konsisten dalam mendukung resolusi konflik melalui jalur diplomatik dan menghindari konfrontasi militer terbuka.
Lin Jian juga menekankan pentingnya menghormati hukum internasional dan kedaulatan negara-negara di kawasan tersebut. China mendukung upaya-upaya diplomatik yang sedang berlangsung dan siap memainkan peran konstruktif dalam meredakan ketegangan. “Kami berharap semua pihak dapat bekerja sama untuk menjaga keamanan dan stabilitas Selat Hormuz, yang merupakan kepentingan bersama seluruh masyarakat internasional,” tambahnya.
Pernyataan China ini muncul setelah serangkaian serangan balasan antara Iran dan AS, yang telah mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur di beberapa wilayah. China juga telah berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan utama, termasuk Iran, AS, dan negara-negara Teluk, untuk mendorong de-eskalasi.
Ke depan, posisi China sebagai kekuatan besar yang memiliki hubungan dengan kedua belah pihak dalam konflik ini dapat menjadi faktor penting dalam upaya menurunkan ketegangan. Namun, efektivitas seruan ini akan sangat bergantung pada kesediaan Iran dan AS untuk merespons secara positif dan kembali ke meja perundingan, di tengah eskalasi yang terus berlanjut. China menekankan bahwa selat ini bukanlah milik siapa pun, dan negara manapun tidak boleh mengganggu akses bebasnya, sehingga penyelesaian melalui negosiasi dan konsultasi diplomatik menjadi satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian yang langgeng dan menyeluruh di kawasan.
