Juli 18, 2026

TNI AL dan Philippine Navy Sepakat Bentuk Working Group Marinir-Pasukan Katak dalam NTNCM ke-17 di Manila

FB_IMG_1784259020577

TNI Angkatan Laut dan Philippine Navy sepakat membentuk forum khusus untuk satuan elite mereka dalam pertemuan Navy to Navy Cooperation Meeting (NTNCM) ke-17 di Manila, Filipina, Kamis (16/7). Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksda TNI Yayan Sofiyan, S.T., M.Si., CHRMP., M.Tr.Opsla. bersama Chief of Staff Philippine Navy RADM Edwin M. Nera memimpin langsung jalannya forum bilateral tersebut.

Kedua petinggi militer ini sepakat membentuk kelompok kerja (working group) untuk mewadahi kolaborasi antara Korps Marinir dan pasukan katak kedua negara. Melalui wadah baru ini, kedua angkatan laut berkomitmen untuk konsisten menjaga keamanan maritim di kawasan, dengan fokus utama memperkuat pengamanan di wilayah perbatasan laut. “Kedua angkatan laut sepakat untuk konsisten menjaga keamanan maritim di kawasan dan perbatasan laut, termasuk membentuk kelompok kerja bagi Korps Marinir dan pasukan katak,” tulis Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal) dalam keterangan resminya.

Selain kerja sama pasukan elite, Yayan dan Edwin juga menyepakati program di bidang pendidikan. Kedua pihak bakal menggelar pertukaran taruna dan bintara tinggi, serta mengirimkan para perwira muda untuk belajar di atas kapal kombatan (combatant ship). Dispenal menyatakan program pertukaran ini bertujuan meningkatkan koneksi antarpribadi (people-to-people connection). Langkah ini menyasar para calon pemimpin angkatan laut serta pengawak senior alat utama sistem persenjataan (alutsista) sesuai dengan yang ditekankan Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali.

Setelah agenda NTNCM selesai, Yayan kemudian melangsungkan pertemuan terpisah. Yayan diterima langsung oleh Flag Officer in Command (FOIC) Philippine Navy, Vice Admiral Jose Ezpeleta. Dalam pertemuan lanjutan tersebut, Jose menyampaikan terima kasih secara langsung kepada TNI AL. Pihak Filipina mengapresiasi asistensi TNI AL dalam proyek pembuatan kapal jenis Landing Platform Dock (LPD) yang diproduksi oleh PT PAL Indonesia.

Kerja sama bilateral antara TNI AL dan Philippine Navy telah berlangsung lama dan terus diperkuat melalui berbagai forum. NTNCM yang telah memasuki edisi ke-17 ini menjadi bukti komitmen kedua negara untuk menjaga stabilitas keamanan maritim di kawasan yang semakin kompleks. Wilayah perbatasan laut Indonesia-Filipina, terutama di sekitar Sulawesi dan Laut Sulu, menjadi perhatian utama mengingat potensi ancaman keamanan seperti pembajakan, penyelundupan, dan pelanggaran wilayah.

Pembentukan working group untuk Korps Marinir dan pasukan katak menunjukkan bahwa kedua angkatan laut tidak hanya fokus pada kerja sama operasional, tetapi juga pada pengembangan kemampuan tempur satuan elite. Kolaborasi ini akan mencakup latihan bersama, pertukaran taktik, dan peningkatan interoperabilitas antara pasukan khusus kedua negara.

Program pertukaran taruna dan bintara tinggi menjadi investasi jangka panjang bagi hubungan kedua angkatan laut. Para perwira muda yang saling mengenal dan memahami budaya masing-masing akan menjadi jembatan kerja sama di masa depan. People-to-people connection yang dibangun sejak dini akan memperkuat kepercayaan dan memudahkan koordinasi operasional di kemudian hari.

Apresiasi Filipina terhadap asistensi TNI AL dalam pembuatan LPD di PT PAL Indonesia menegaskan posisi Indonesia sebagai negara maritim yang mampu membangun kapal perang secara mandiri. Kepercayaan yang diberikan oleh negara sahabat untuk memproduksi kapal perang menunjukkan peningkatan kapabilitas industri pertahanan nasional yang patut dibanggakan.

Melalui NTNCM ke-17 ini, TNI AL dan Philippine Navy tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas kawasan Asia Tenggara. Kolaborasi yang erat antara dua angkatan laut terbesar di kawasan ini menjadi sinyal positif bagi negara-negara lain bahwa keamanan maritim adalah tanggung jawab bersama yang harus dijaga dengan kerja sama, bukan konflik. Di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah, konsistensi menjaga perbatasan laut dan peningkatan kemampuan tempur bersama menjadi fondasi yang tak tergoyahkan bagi perdamaian dan kedaulatan di kawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *