Tentara Bayaran Kolombia di Sudan Terungkap, Jaringan Global dan Peran dalam Konflik Berdarah
ininih.com –
Sebuah laporan investigasi terbaru mengungkap jaringan rumit yang melibatkan tentara bayaran asal Kolombia yang direkrut untuk bertempur dalam konflik berdarah di Sudan, didanai oleh aktor asing. Para tentara bayaran ini, yang merupakan mantan personel militer Kolombia, didatangkan untuk membantu Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dalam perang melawan tentara nasional Sudan .
Konflik di Sudan, yang dimulai pada April 2023, telah menewaskan sedikitnya 59.000 orang dan menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di dunia .
Jaringan dan Aktor Kunci
Investigasi oleh Conflict Insights Group (CIG) yang dipublikasikan oleh BBC mengungkap bahwa para tentara bayaran ini direkrut melalui jaringan yang terhubung dengan Uni Emirat Arab (UEA).

Direktur CIG, Justin Lynch, menyatakan bahwa ini adalah penelitian pertama yang dapat membuktikan keterlibatan UEA dengan pasti dalam konflik Sudan .
Para tentara bayaran diatur oleh seseorang bernama Alvaro Andres Quijano Becerra, seorang pensiunan kolonel tentara Kolombia. Melalui perusahaannya, Fénix dan pendahulunya A4SI (yang telah disanksi AS), Quijano merekrut mantan tentara untuk dikirim ke zona perang .
Jaringan ini juga memanfaatkan perantara keuangan di Panama untuk menyembunyikan aliran dana ke RSF .

Rute Penyusupan: Dari Bogotá ke Darfur
Para tentara bayaran ini tidak langsung dikirim ke Sudan. Berdasarkan investigasi CIG yang melacak jejak digital ponsel lebih dari 50 tentara bayaran Kolombia, rute perjalanan mereka sangat sistematis :
· Titik Keberangkatan: Rekrutmen dimulai di Bogotá, Kolombia.
· Pelatihan di UEA: Mereka diterbangkan ke Zayed International Airport, lalu menjalani pelatihan di fasilitas militer di Ghayathi, Abu Dhabi.
· Pangkalan Perantara: Dari UEA, mereka dikirim ke pangkalan RSF di Bandara Kufra, Libya tenggara, yang dikenal sebagai pusat logistik RSF. Rute lain juga melalui Bosaso, Somalia, di fasilitas yang didanai UEA .
· Tujuan Akhir: Mereka akhirnya tiba di Bandara Nyala, Sudan, yang diidentifikasi sebagai pusat saraf bagi operasi tentara bayaran Kolombia dan drone RSF .
Brigade tempat mereka bertugas dijuluki “Desert Wolves” (Serigala Gurun). Bukti geospasial menunjukkan bahwa mercenaries ini mengoperasikan drone dengan jaringan lokal bernama “DRONES” dan “LOBOS DEL DISIERTO” .
Peran dalam Kejahatan Perang dan Genosida
Keterlibatan mereka bukan hanya sebagai prajurit kaki, tetapi sebagai operator teknologi tinggi yang mengubah jalannya perang.
· Ahli Drone dan Artileri: Para mantan tentara Kolombia ini sangat dicari karena keahlian mereka dalam mengoperasikan drone dan sistem artileri. Justin Lynch dari CIG menyatakan, “Skala kekejaman dan pengepungan di el-Fasher tidak akan terjadi tanpa operasi drone yang disediakan tentara bayaran”.
· Kejatuhan El-Fasher: Investigasi CIG secara spesifik menghubungkan unit “Device 3” dengan pengepungan dan penangkapan kota El-Fasher pada Oktober 2025. Selama di dalam kota yang terkepung, perangkat tersebut terhubung ke jaringan lokal bernama “ATACADOR” (Spanyol untuk “penyerang”) .
· Tanda-tanda Genosida: Penangkapan El-Fasher memicu kejahatan perang massal. Tim pencari fakta PBB menemukan bahwa tindakan RSF di El-Fasher menunjukkan “tanda-tanda genosida” terhadap komunitas Zaghawa dan Fur. RSF dituduh melakukan eksekusi warga sipil, termasuk pembantaian lebih dari 460 pasien di Rumah Sakit Bersalin Saudi .
Imbalan dan Konsekuensi
Para tentara bayaran ini direkrut dengan janji gaji mencapai US$2.500 hingga US$4.000 per bulan (sekitar Rp40 juta – Rp64 juta), atau enam kali lipat dari pensiun tentara Kolombia .
Namun, bagi banyak dari mereka, kenyataannya adalah kematian di negeri asing. Pemerintah Kolombia melaporkan bahwa sejumlah tentara bayaran “tertipu” oleh jaringan perdagangan manusia. Beberapa yang selamat kini menyatakan keinginan untuk pulang, namun menghadapi kendala seperti paspor yang disita .
Respons Internasional
Sebagai respons, Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan dua perusahaan yang terlibat dalam jaringan rekrutmen ini. Pemerintah AS juga telah menyatakan bahwa anggota RSF telah melakukan “kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan pembersihan etnis” .
Laporan PBB tambahan mengungkapkan bahwa hampir 10.000 orang Kolombia direkrut untuk berperang dalam konflik bersenjata di seluruh dunia selama dekade terakhir, termasuk di Ukraina, Yaman, dan Republik Demokratik Kongo, menunjukkan bahwa fenomena tentara bayaran ini adalah masalah global.
tentara-bayaran-kolombia-sudan-jaringan-global-konflik
tentara bayaran kolombia, konflik sudan, rsf sudan, jaringan militer bayaran, perang sudan 2023
Investigasi mengungkap keterlibatan tentara bayaran Kolombia dalam konflik Sudan, termasuk jaringan global, pendanaan, dan peran dalam eskalasi perang
