Sudan Tambah Pasukan di Perbatasan Ethiopia, Tuduh Addis Ababa Dukung Pemberontak
Ininih.com – Militer Sudan dilaporkan mengerahkan tambahan pasukan dan sistem pertahanan anti-pesawat di dekat perbatasan Ethiopia di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Langkah ini dilakukan setelah Khartoum kembali menuduh Addis Ababa mendukung kelompok pemberontak dalam perang saudara Sudan yang telah berlangsung selama tiga tahun.
Pemerintah Sudan menyebut pengerahan militer tersebut sebagai bagian dari upaya pengamanan wilayah timur yang dinilai semakin rawan. Dalam beberapa bulan terakhir, Sudan berulang kali menuduh Ethiopia memberikan ruang bagi kelompok Rapid Support Forces (RSF) untuk beroperasi dan melakukan pelatihan di dekat wilayah perbatasan.

Ketegangan terbaru juga berkaitan dengan tuduhan Sudan mengenai serangan drone yang disebut berasal dari wilayah Ethiopia pada Februari dan Maret 2026. Khartoum mengklaim memiliki bukti bahwa sejumlah drone yang menyerang wilayah Sudan diluncurkan dari area dekat perbatasan Ethiopia.
Namun, pemerintah Ethiopia membantah seluruh tuduhan tersebut dan menyebut pernyataan Sudan tidak berdasar. Addis Ababa justru menuding Sudan ikut mendukung kelompok bersenjata yang beroperasi di kawasan Tigray dan wilayah perbatasan Ethiopia.
Situasi ini memperlihatkan bahwa perang saudara Sudan mulai berkembang menjadi persoalan regional yang melibatkan negara-negara tetangga di Tanduk Afrika. Kawasan perbatasan seperti al-Fashqa dan Umm Barakit selama bertahun-tahun memang menjadi titik sengketa antara Sudan dan Ethiopia.
Pengamat keamanan menilai pengerahan sistem anti-pesawat oleh Sudan menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap ancaman serangan udara dan drone di wilayah timur negara tersebut. Risiko eskalasi juga dinilai semakin besar jika kedua negara terus saling menuduh mendukung kelompok bersenjata lawan.

Selain berdampak pada stabilitas keamanan, ketegangan Sudan-Ethiopia juga berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan di kawasan. Konflik berkepanjangan di Sudan telah memicu jutaan pengungsi dan mengganggu jalur perdagangan regional di Afrika Timur.
Hingga kini belum terlihat adanya mediasi besar yang mampu meredakan ketegangan terbaru antara Khartoum dan Addis Ababa. Komunitas internasional masih memantau perkembangan situasi karena konflik di kawasan ini berpotensi meluas dan mengganggu stabilitas regional Tanduk Afrika.
