Peringatan 23 Juni Liga Awami di Bangladesh Dibubarkan, 26 Aktivis Ditangkap, Tentara Dikerahkan di 6 Distrik
Peringatan 23 Juni untuk Liga Awami di Bangladesh dibubarkan paksa dan memicu gelombang penangkapan besar-besaran pada Selasa (23/6/2026), saat partai tertua dan terbesar di negara itu genap berusia 77 tahun. Kepolisian Metropolitan Dhaka (DMP) mengonfirmasi penangkapan sedikitnya 26 pemimpin dan aktivis Liga Awami serta organisasi afiliasinya dalam operasi terpisah yang melibatkan delapan kantor polisi di ibu kota. Puluhan lainnya ditahan di berbagai daerah karena mengadakan pawai dadakan dan berusaha mengibarkan bendera partai meskipun ada larangan nasional.
“Kami telah menggagalkan rencana mereka sejauh ini, dan saya berharap dalam sisa waktu ini, mereka tidak akan bisa mengadakan pawai, rapat umum, atau berkumpul di mana pun,” kata Komisaris Polisi Metropolitan Dhaka Mosleh Uddin Ahmed dalam konferensi pers. Meskipun ada pembatasan, video yang diunggah di media sosial Liga Awami menunjukkan para pemimpin dan pendukung partai membawa bendera dan spanduk, berbaris di jalanan dan meneriakkan yel-yel di beberapa lokasi.
Menteri Dalam Negeri Bangladesh Salahuddin Ahmed menegaskan bahwa Liga Awami secara resmi tidak lagi diakui sebagai organisasi politik. “Tidak ada organisasi bernama Liga Awami,” katanya kepada wartawan saat ditanya tentang peringatan hari jadi partai tersebut. Penegasan ini menggarisbawahi sikap pemerintah yang tidak mengakui keberadaan partai yang pernah berkuasa selama bertahun-tahun tersebut.
Pemerintah Bangladesh mengerahkan tentara di enam distrik—Dhaka, Chattogram, Gazipur, Narayanganj, Faridpur, dan Gopalganj—mulai 22 Juni hingga 30 Juni 2026. Kepolisian Metropolitan Dhaka mengerahkan lebih dari 18.000 personel di ibu kota, dengan pos pemeriksaan khusus di lebih dari 200 lokasi strategis. Pasukan Penjaga Perbatasan Bangladesh (BGB) juga dikerahkan di lima distrik tambahan. Unit-unit khusus seperti Detektif, Counter Terrorism and Transnational Crime (CTTC), dan Special Branch (SB) melakukan operasi intelijen, sementara 15 Tim Respons Cepat (QRT) disiagakan. Pemerintah juga memberikan kewenangan magistrat kepada perwira militer setingkat kapten ke atas hingga 30 Juni.
Liga Awami, yang didirikan pada 23 Juni 1949 ketika Bangladesh masih menjadi Pakistan Timur, adalah partai politik tertua di Bangladesh dan memainkan peran utama dalam Perang Kemerdekaan 1971. Partai ini dibubarkan oleh pemerintahan transisi yang dipimpin Muhammad Yunus setelah pemerintahan Hasina digulingkan pada 5 Agustus 2024, menyusul pemberontakan mahasiswa. Langkah tersebut kemudian disahkan oleh Parlemen di bawah pemerintahan Perdana Menteri Tarique Rahman. Mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina, yang telah tinggal di pengasingan di India sejak kejatuhannya, dijatuhi hukuman mati secara in absensia pada November 2025 oleh Pengadilan Kejahatan Internasional atas tuduhan terkait upaya penindasan terhadap agitasi yang dipimpin mahasiswa. Pada malam peringatan hari jadi, Hasina mengunggah di media sosial: “Kami tidak dilahirkan untuk dikalahkan,” dan Liga Awami menyatakan akan kembali “dengan kekuatan 10 kali lebih besar”. Media arus utama dan platform berita online Bangladesh dilarang mempublikasikan atau menyiarkan pernyataan Hasina atau aktivitas Liga Awami.
Keputusan pemerintah untuk melarang peringatan hari jadi Liga Awami dan pengerahan militer skala besar telah memicu perdebatan tentang ruang politik yang semakin menyempit di Bangladesh. Para kritikus berpendapat bahwa membatasi aktivitas partai besar yang masih memiliki dukungan politik signifikan dapat memperdalam polarisasi politik. Pemerintah, di sisi lain, menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut diperlukan untuk mencegah kekerasan, menjaga ketertiban umum, dan memastikan proses hukum yang sedang berlangsung tidak terganggu. Larangan total terhadap partai tertua di Bangladesh merupakan langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menandai pergeseran dramatis dalam lanskap politik negara itu. Dengan banyaknya pemimpin senior Liga Awami yang ditangkap, diselidiki, atau meninggalkan negara, masa depan partai yang pernah mendominasi politik Bangladesh selama puluhan tahun kini berada di ujung tanduk.
