13 Titik Kelaparan Dunia: FAO dan WFP Peringatkan 266 Juta Orang dalam Krisis Pangan Akut
FAO dan WFP peringatkan 13 titik kelaparan dunia yang akan mengalami kerawanan pangan akut pada periode Juni hingga November 2026, menurut laporan Hunger Hotspots yang dirilis bersama oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dan Program Pangan Dunia (WFP) pada 17 Juni 2026. Laporan yang diterbitkan dua kali setahun melalui Global Network Against Food Crises (GNAFC) ini mengidentifikasi Sudan, Sudan Selatan, Yaman, dan Palestina sebagai titik krisis paling kritis dalam hal tingkat keparahan dan skala kelaparan. Sementara itu, Nigeria dan Somalia baru saja ditambahkan ke dalam daftar perhatian tertinggi karena kondisi yang memburuk menuju tingkat bencana. Secara keseluruhan, laporan tersebut memperkirakan sekitar 266 juta orang di 13 negara dan wilayah tersebut saat ini menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi. Konflik bersenjata dan kekerasan tetap menjadi pendorong utama kerawanan pangan akut, mempengaruhi 12 dari 13 titik krisis. Tekanan ini diperparah oleh guncangan ekonomi, kekurangan pendanaan yang parah, dan meningkatnya risiko yang terkait dengan fenomena El Nino yang diperkirakan akan membawa pola curah hujan yang tidak merata, kekeringan, dan banjir di negara-negara yang sudah memiliki kerentanan tinggi.
Di Sudan, sekitar 19,5 juta orang atau 41 persen dari populasi menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi. Risiko kelaparan telah diidentifikasi di 14 wilayah di Darfur Utara, Darfur Selatan, dan Kordofan Selatan hingga September 2026, dan diperkirakan akan bertahan di 13 wilayah melalui periode panen hingga Januari 2027. Sudan tetap menjadi krisis kelaparan terburuk di dunia, dengan risiko kelaparan di seluruh Darfur dan Kordofan Selatan diperkirakan akan berlanjut hingga awal 2027. Di Sudan Selatan, 7,8 juta orang atau 55 persen dari populasi diperkirakan akan menghadapi tingkat Krisis atau lebih buruk dalam kerawanan pangan akut. Empat wilayah di negara bagian Jonglei dan Upper Nile diperkirakan menghadapi risiko Kelaparan hingga Juli 2026. Di Yaman, lebih dari separuh populasi diperkirakan akan menghadapi tingkat Krisis atau lebih buruk dalam kerawanan pangan akut. Hampir 5,4 juta orang di wilayah yang dikuasai pemerintah diperkirakan akan menghadapi tingkat Krisis atau lebih buruk antara Juni dan September 2026. Yaman terus mengalami salah satu krisis kelaparan paling serius di dunia, dengan perkiraan sebelumnya menunjukkan lebih dari 18 juta orang bisa menghadapi kekurangan pangan yang parah. Di Palestina, seluruh wilayah Gaza menghadapi risiko Kelaparan hingga pertengahan April 2026. Sekitar 1,6 juta orang mengalami kerawanan pangan akut dan membutuhkan bantuan mendesak, termasuk lebih dari setengah juta orang dalam kondisi Darurat (IPC Fase 4). Meskipun kondisi di Jalur Gaza telah membaik sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025, situasinya tetap sangat rapuh.
Nigeria baru saja ditambahkan ke dalam kelompok perhatian tertinggi. Sebanyak 34,8 juta orang diperkirakan akan menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi, termasuk 1,8 juta dalam kondisi Darurat dan sekitar 15.000 dalam kondisi Bencana di Negara Bagian Borno. Nigeria telah masuk ke dalam kategori risiko tertinggi setelah perkiraan menunjukkan bagian dari Negara Bagian Borno bisa menghadapi kelaparan tingkat bencana. Somalia juga baru ditambahkan ke dalam kategori ini. Enam juta orang menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi, dengan risiko kelaparan diidentifikasi di Distrik Burhakaba, wilayah Bay. Somalia dinaikkan statusnya karena kekeringan, konflik, dan gagal panen yang buruk.
Afghanistan dan Republik Demokratik Kongo tetap menjadi titik krisis dengan perhatian sangat tinggi. Di Kongo, wabah Ebola yang dilaporkan pada Mei 2026 menambah lapisan risiko baru yang berbahaya bagi mata pencaharian dan dapat semakin memperburuk kerawanan pangan akut. Haiti telah ditambahkan ke daftar titik krisis dengan perhatian sangat tinggi, meskipun dinilai menghadapi risiko yang lebih ringan karena perlambatan inflasi tahunan, kondisi pertanian musim dingin yang umumnya menguntungkan, dan peningkatan akses di beberapa koridor jalan. Lebanon dan Madagaskar telah ditambahkan ke daftar titik krisis akibat eskalasi permusuhan pada akhir Februari 2026 dan kondisi cuaca buruk yang tidak menentu. Sementara itu, Myanmar diklasifikasikan ulang dari titik krisis dengan perhatian sangat tinggi menjadi titik krisis biasa. Mali tetap menjadi titik krisis, tetapi tidak lagi diklasifikasikan sebagai titik krisis dengan perhatian tertinggi.
Peringatan FAO dan WFP datang di tengah kekurangan pendanaan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pendanaan untuk bantuan pangan, bantuan pertanian darurat, dan gizi dalam krisis pangan telah menurun sekitar 59 persen antara 2022 dan 2025, kembali ke tingkat yang terakhir terlihat hampir satu dekade lalu. Pada saat yang sama, jumlah orang yang menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi di negara-negara ini telah meningkat menjadi sekitar 266 juta. Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa guncangan tambahan—seperti efek riak dari konflik di Timur Tengah dan wabah Ebola di Kongo—semakin memperburuk prospek bagi jutaan orang. Guncangan ini berisiko semakin mengganggu mata pencaharian, pasar, dan akses kemanusiaan.
Laporan FAO-WFP tentang 13 titik kelaparan dunia pada Juni-November 2026 adalah peringatan paling jelas bahwa krisis pangan global telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dengan 266 juta orang dalam kondisi rawan pangan akut dan pendanaan bantuan yang anjlok 59 persen, dunia menghadapi ujian nyata tentang komitmennya terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan. Konflik tetap menjadi pendorong utama, tetapi perubahan iklim, guncangan ekonomi, dan pemotongan drastis pendanaan kemanusiaan memperburuk situasi yang sudah rapuh. Ke depan, respons yang cepat dan terkoordinasi menjadi keniscayaan. FAO dan WFP menyerukan investasi awal dalam bantuan pertanian darurat dan ketahanan sebagai cara paling hemat biaya untuk melindungi mata pencaharian, mempertahankan produksi pangan lokal, dan mengurangi kebutuhan kemanusiaan di masa depan. Tanpa tindakan sekarang, jutaan orang akan menghadapi tingkat kelaparan yang semakin parah dalam beberapa bulan mendatang, mendorong sebagian dari mereka lebih dekat ke jurang kelaparan.
