Suriah Klaim Gagalkan Plot Pembunuhan Hizbullah terhadap Pejabat Senior
Ininih.com – Pemerintah Suriah mengklaim berhasil menggagalkan rencana pembunuhan terhadap pejabat senior negara yang diduga melibatkan sel terkait Hizbullah Lebanon. Operasi keamanan tersebut diumumkan setelah aparat Suriah melakukan penggerebekan serentak di sejumlah provinsi utama pada 5 Mei 2026.
Menurut otoritas Suriah, penggerebekan dilakukan di Damaskus, Aleppo, Homs, Tartous, dan Latakia. Aparat keamanan menyebut operasi itu berhasil membongkar jaringan terorganisasi yang diduga telah masuk ke wilayah Suriah sekitar dua bulan sebelumnya.
Pemerintah Suriah menuduh anggota sel tersebut mendapat pelatihan di Lebanon selatan, termasuk penggunaan drone dan bahan peledak. Mereka disebut sedang mempersiapkan serangkaian aksi yang menargetkan pejabat tinggi pemerintahan sebelum akhirnya berhasil dihentikan melalui operasi keamanan nasional.
Hingga kini, pihak berwenang belum mengungkap jumlah tersangka yang ditangkap maupun identitas pejabat yang diduga menjadi target pembunuhan. Namun, penggerebekan besar di lima provinsi menunjukkan operasi tersebut dianggap sebagai ancaman serius terhadap stabilitas keamanan Suriah.
Tuduhan terhadap Hizbullah muncul di tengah situasi kawasan Timur Tengah yang masih tegang akibat konflik berkepanjangan di Lebanon, Suriah, dan wilayah perbatasan Israel. Kasus ini juga menjadi sorotan karena Hizbullah selama bertahun-tahun dikenal memiliki pengaruh kuat dalam konflik Suriah.

Sementara itu, Hizbullah membantah seluruh tuduhan yang disampaikan Damaskus. Kelompok tersebut menyebut klaim Suriah tidak berdasar dan menolak keterlibatan dalam rencana pembunuhan pejabat pemerintah.
Pengamat regional menilai insiden ini dapat memperumit hubungan politik dan keamanan di kawasan Levant. Jika tuduhan Suriah terus berkembang atau muncul penangkapan tambahan, ketegangan antara Damaskus dan Hizbullah berpotensi meningkat.
Selain menyoroti isu keamanan internal Suriah, kasus ini juga memunculkan kembali perhatian terhadap penggunaan drone dan jaringan bersenjata lintas batas di Timur Tengah. Risiko eskalasi politik maupun operasi keamanan lanjutan masih terbuka dalam beberapa pekan mendatang.
