Blokade AS di Selat Hormuz Mulai Tunjukkan Dampak terhadap Pengiriman Minyak Iran
Ininih.com – Penerapan blokade laut Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz mulai menunjukkan dampak nyata terhadap aktivitas pengiriman minyak Iran. Sejumlah kapal tanker yang terkait perdagangan energi Iran dilaporkan gagal menembus blokade maritim yang diperketat oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) sejak pertengahan April 2026.
Tekanan terbaru terlihat setelah kapal tanker Rich Starry dan Elpis dilaporkan dipaksa berbalik arah saat mencoba keluar dari jalur pelayaran menuju Teluk Oman. Kedua kapal tersebut sebelumnya sudah masuk daftar sanksi Amerika Serikat karena diduga terkait jaringan perdagangan minyak Iran.
Menurut data operasional CENTCOM per 9–10 Mei 2026, sebanyak 58 kapal komersial telah dialihkan dari pelabuhan Iran sejak blokade dimulai pada 13 April 2026. Selain itu, empat kapal lain disebut telah dinonaktifkan karena mencoba melanggar prosedur blokade.
Kapal Tanker China Gagal Tembus Selat Hormuz
Kasus paling menonjol melibatkan kapal tanker Rich Starry yang diyakini membawa sekitar 250 ribu barel metanol. Kapal tersebut sempat menghilang dari pemantauan selama lebih dari 10 hari di Teluk Persia sebelum akhirnya mencoba melintasi Selat Hormuz pada malam hari.
Namun kapal itu kemudian dicegat dan dipaksa kembali menuju perairan dekat Pulau Qeshm, Iran. Kapal lain bernama Elpis juga dilaporkan mengalami nasib serupa di titik yang hampir sama.
Analis pelayaran dari Kpler menyebut situasi itu sebagai contoh keberhasilan blokade yang diterapkan AS untuk mencegah kapal terkait Iran keluar masuk pelabuhan energi utama.
CENTCOM Klaim Operasi Berhasil
Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui media sosial X pada 9 Mei 2026, CENTCOM menyebut operasi maritim mereka berhasil mengganggu rantai distribusi minyak Iran.
Data yang dipublikasikan menunjukkan:
58 kapal komersial dialihkan
4 kapal dinonaktifkan
Puluhan kapal tanker lain masih tertahan di sekitar jalur pelayaran Iran
Amerika Serikat juga disebut mengerahkan lebih dari 24 kapal perang dan sekitar 10 ribu personel untuk menjaga operasi blokade di kawasan Teluk dan Teluk Oman.
Iran dan China Kecam Tekanan AS
Pemerintah China mengecam langkah Washington dan menyebut blokade tersebut sebagai tindakan berbahaya yang dapat memperburuk ketegangan global.
China selama ini menjadi pembeli utama minyak Iran dan menyerap sekitar 90 persen ekspor minyak Teheran. Karena itu gangguan distribusi di Selat Hormuz langsung berdampak terhadap rantai pasok energi China.
Sementara Iran menilai operasi AS sebagai bentuk perang ekonomi dan menegaskan tetap memiliki jalur alternatif untuk mempertahankan ekspor minyaknya.
Dampak terhadap Ekonomi Iran
Blokade maritim ini diperkirakan memberi tekanan besar terhadap ekonomi Iran. Beberapa laporan memperkirakan kerugian pendapatan energi Iran mencapai ratusan juta dolar AS per hari akibat terganggunya aktivitas ekspor.
Kapasitas penyimpanan minyak darat Iran juga disebut mulai terbatas karena kapal tanker kosong yang biasanya masuk untuk memuat minyak kini sulit mencapai pelabuhan Iran.
Di saat yang sama, nilai tukar rial Iran dilaporkan kembali melemah terhadap dolar AS seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan tekanan pasar energi.
Ketegangan di Selat Hormuz Terus Meningkat
Situasi di kawasan Teluk masih sangat tegang. Iran sebelumnya juga menerapkan pembatasan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz dan memperingatkan akan mengambil tindakan terhadap kapal asing yang dianggap melanggar aturan mereka.
Beberapa analis menilai konflik saat ini berubah menjadi perang tekanan ekonomi dan maritim antara Washington dan Teheran, di mana kedua pihak berusaha memaksimalkan biaya bagi lawan masing-masing.
Meski AS mengklaim blokade berjalan efektif, sejumlah pakar menilai Iran masih memiliki kemampuan bertahan melalui jalur darat, armada bayangan, dan mekanisme penghindaran sanksi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
