Mei 25, 2026

AS Beri Ultimatum Iran soal Stok Uranium yang Diperkaya

IMG-20260511-WA0005

Ininih.com – Amerika Serikat mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran terkait stok uranium yang diperkaya dan memperingatkan akan mengambil “segala cara yang diperlukan” jika Teheran tidak memenuhi tuntutan Washington.

Ultimatum itu muncul dalam proposal 14 poin yang disampaikan AS melalui mediator Pakistan pada awal Mei 2026 di tengah negosiasi yang masih berlangsung mengenai konflik dan program nuklir Iran.

Salah satu tuntutan utama Washington adalah agar Iran menyerahkan sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen. Tingkat pengayaan itu dinilai hanya sedikit di bawah ambang 90 persen yang dibutuhkan untuk pembuatan senjata nuklir.

Selain itu, AS juga meminta Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium setidaknya selama 12 tahun dan membongkar fasilitas nuklir utama di Fordow, Natanz, serta Isfahan.

Sebagai imbalan, Washington menawarkan pencabutan bertahap sanksi ekonomi, pembukaan blokade pelabuhan Iran, pencairan aset Iran di luar negeri, dan pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.

Trump Ancam Gunakan Kekuatan Militer

Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan keras dalam wawancara yang ditayangkan pada 10 Mei 2026. Ia mengatakan AS memantau stok uranium Iran melalui sistem pengawasan Space Force.

Trump menyatakan siapa pun yang mencoba mendekati lokasi penyimpanan uranium Iran akan diketahui dan dapat menjadi target serangan Amerika Serikat.

Pernyataan itu memperkuat ancaman Washington sebelumnya bahwa AS siap mengambil stok uranium Iran “dengan cara apa pun” apabila negosiasi gagal.

Iran Tolak Serahkan Uranium

Pemerintah dan parlemen Iran langsung menolak ultimatum tersebut. Anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Behnam Saeedi, menyebut tuntutan AS sebagai “gertakan politik”.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, juga menegaskan bahwa uranium yang telah diperkaya tidak akan dipindahkan ke luar negeri.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan asing dan tetap menganggap program nuklir sebagai hak nasional yang tidak bisa dinegosiasikan.

Ketegangan Militer dan Diplomasi Masih Berjalan

Menyusul ancaman dari Washington, militer Iran dilaporkan meningkatkan status siaga penuh untuk melindungi fasilitas nuklir utama, terutama di kompleks Isfahan.

Di saat yang sama, Iran dan AS masih membuka peluang melanjutkan negosiasi melalui mediator Pakistan, meski Trump menyebut respons Iran terhadap proposal terbaru Washington “tidak dapat diterima”.

Situasi kawasan juga makin rumit setelah muncul serangan drone di Teluk dan blokade maritim yang masih berlangsung di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *