Mei 25, 2026

Dari Doha Sampai Jakarta: Dunia Mulai Muak dengan Ekspansi Israel

Israel-bom-Qatar

ininih.com


Pertengahan September 2025, kota Doha mendadak jadi titik temu para pemimpin dunia Islam.

Bukan karena jadwal diplomatik rutin. Tapi karena Israel baru saja melancarkan serangan ke Doha yang menargetkan Hamas — sebuah eskalasi yang membuat banyak negara Arab tersadar bahwa yang sedang terjadi bukan sekadar konflik biasa.

Di sanalah Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan berbicara. Dalam wawancara dengan Al Jazeera yang kemudian viral ke seluruh dunia, ia mengeluarkan pernyataan yang langsung ke inti persoalan:

“Masalah terbesar di kawasan adalah ekspansionisme Israel. Tujuannya dua — memperluas wilayah, dan menjaga negara-negara tetangga tetap lemah dan terpecah.”

Kata-kata itu menggaung. Bukan karena baru — sudah lama banyak yang berpikir seperti itu — tapi karena kali ini diucapkan seorang menteri luar negeri negara NATO, di depan kamera, dalam forum darurat internasional.


Satu Pernyataan, Gelombang Reaksi

Sejak awal 2026, rentetan pernyataan pejabat Israel soal perluasan wilayah memantik respons dari hampir semua penjuru dunia.

Dimulai dari Netanyahu yang mengaku “sangat terhubung” dengan visi Israel Raya kepada i24 News di bulan Januari.https://ininih.com/wacana-israel-raya-kembali-menguat-picu-kekhawatiran-global/ Lalu berlanjut ke pernyataan Duta Besar AS Mike Huckabee yang menyinggung “legitimasi historis dan teologis” atas wilayah-wilayah di luar batas Israel saat ini.

Di Jakarta, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta langsung merespons: “Dalam situasi geopolitik yang sensitif, pernyataan semacam ini berpotensi menimbulkan preseden normatif yang berbahaya. Kita semua harus menjaga dunia dari ekspansionisme baru seperti ini.”

Bukan pernyataan seremonial. Ini posisi politik yang eksplisit dari parlemen Indonesia — negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.


Arab yang Tak Bisa Lagi Diam

Negara-negara Arab yang selama ini memilih jalur diplomasi sunyi mulai bersuara keras.

Mesir adalah yang paling vokal. Menteri Luar Negeri Badr Abdelatty menegaskan bahwa Kairo “tidak akan membiarkan ilusi tentang Israel Raya mewujud menjadi kenyataan.” Bukan tanpa alasan — dalam peta Israel Raya versi maksimalis, wilayah Mesir masuk dalam batas “Tanah yang Dijanjikan” dari Sungai Nil ke Sungai Efrat.

Bayangkan menjadi pemimpin negara yang namanya disebut dalam peta ekspansi tetanggamu. Tentu saja Mesir bereaksi.

Yordania juga dalam posisi tak nyaman. Sebagian wilayahnya — dalam tafsiran Israel Raya yang lebih luas — masuk dalam klaim alkitabiah yang sering disinggung kelompok-kelompok Zionis religius di Israel.

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyebut pernyataan-pernyataan pejabat Israel sebagai “perpanjangan retorika ekstremisme” dan pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam PBB. Liga Arab menyuarakan hal serupa dalam pertemuan-pertemuan daruratnya.


Barat Pun Mulai Bergerak

Yang menarik — dan mungkin mengejutkan banyak pihak — adalah respons dari negara-negara Barat yang selama ini dianggap sebagai pembela setia Israel.

September 2025 menjadi titik balik. Inggris, Australia, dan Kanada secara resmi mengakui negara Palestina. Bukan sekadar pernyataan simpati — ini perubahan kebijakan luar negeri yang signifikan.

Smotrich langsung bereaksi keras: “Siapa pun yang mencoba mengakui negara Palestina akan mendapat jawaban dari kami di lapangan.”

Sebuah ancaman terbuka kepada negara-negara berdaulat yang menggunakan haknya dalam hukum internasional.

PBB tidak tinggal diam. Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menegaskan bahwa ekspansi permukiman Israel yang “tak kenal henti” tidak hanya memicu ketegangan, tapi secara aktif “mengancam kelangsungan negara Palestina yang berdaulat.”


74 Ribu Nyawa dan Satu Survei Global

Satu data yang mungkin paling menggambarkan kondisi saat ini datang bukan dari kantor berita, tapi dari sebuah survei global.

Lembaga riset Nira Data merilis Global Country Perception 2026 — survei yang melibatkan 46.667 responden dari berbagai negara, menilai pandangan dunia terhadap 129 negara. Hasilnya: Israel menempati posisi paling bawah. Negara paling dibenci di dunia.

Konteksnya bisa dipahami. Sejak Oktober 2023, lebih dari 74.000 warga Palestina dilaporkan tewas. Sebagian besar infrastruktur sipil Gaza hancur. Hampir seluruh penduduk Gaza terpaksa mengungsi. Sejumlah pakar PBB dan akademisi menyebut kondisi tersebut sebagai indikasi genosida.

Di Lebanon, per Mei 2026, lebih dari 2.000 orang tewas dan 1,2 juta mengungsi akibat serangan Israel yang dimulai 2 Maret lalu.


Mengapa Ini Penting bagi Indonesia?

Indonesia bukan negara yang berbatasan dengan Israel. Tapi reaksi DPR RI dan posisi konsisten pemerintah Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina bukan tanpa dasar strategis.

Dalam kerangka geopolitik, destabilisasi Timur Tengah berdampak langsung pada harga energi global, jalur perdagangan internasional, dan keamanan warga Indonesia yang bekerja atau beribadah di kawasan tersebut.

Lebih dari itu — isu Israel Raya adalah isu tentang prinsip: apakah ekspansi wilayah melalui kekuatan militer bisa dilegitimasi dengan narasi agama atau sejarah? Jika jawabannya ya di Timur Tengah, preseden itu berbahaya di mana-mana di dunia.

“Kita semua harus waspada terhadap ekspansionisme baru,” kata Sukamta dari DPR RI.

Kalimat sederhana. Tapi relevansinya melintasi batas geografi.


Wacana “Israel Raya” Kembali Menguat, Picu Kekhawatiran Global

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *