Mei 25, 2026

Smotrich dan Peta Mimpi yang Menjadi Kebijakan

images (1)

ininih.com


Ada sesuatu yang bergeser dalam politik Israel — dan pergeseran itu tidak terjadi diam-diam.

Selama puluhan tahun, gagasan Israel Raya adalah barang yang disimpan di laci bawah: ada, diketahui, tapi tidak dikeluarkan di depan umum oleh siapa pun yang serius memegang kekuasaan. Ia adalah mimpi para ekstremis pinggiran, retorika demonstrasi, bukan kebijakan negara.

Hari ini, Bezalel Smotrich adalah Menteri Keuangan Israel. Dan ia berbicara di podium resmi pemerintah.


Siapa Smotrich?

Bezalel Smotrich bukan tokoh baru. Ia adalah pemimpin Partai Zionisme Religius — partai yang selama bertahun-tahun berada di tepi ekstrem spektrum politik Israel. Ia adalah pemukim Tepi Barat yang secara terbuka menyatakan bahwa wilayah “Yudea dan Samaria” (istilah yang digunakan Israel untuk Tepi Barat yang diduduki) adalah warisan ilahi yang tidak dapat dikompromikan.

Dalam sebuah film dokumenter saluran Prancis-Jerman Arte beberapa tahun lalu, Smotrich mengakui memimpikan wilayah Israel yang meluas jauh melampaui batas saat ini. Saat itu, pernyataan itu dibaca sebagai fantasi seorang politisi fringe.

Kini ia Menteri Keuangan, dengan kekuasaan belum pernah dimiliki pejabat Zionis religius sebelumnya atas kebijakan permukiman di Tepi Barat.


Dari Wacana ke Instruksi

Yang dilakukan Smotrich bukan sekadar berbicara. Ia berlegislasi.

Februari 2026: Ia menginstruksikan pencabutan larangan pembelian tanah langsung oleh warga Yahudi di Tepi Barat — sebuah aturan yang ada selama puluhan tahun justru untuk membatasi ekspansi permukiman. Ia menyebutnya sebagai langkah untuk “menyamakan status Tepi Barat dengan wilayah Israel lainnya.” Organisasi Peace Now menyebut ini “ekspansi permukiman terbesar sejak Perjanjian Oslo 1993.”

Dalam tiga tahun terakhir, total permukiman yang disetujui pemerintah Israel di bawah kendali Smotrich mencapai 69 — angka yang secara konsisten dikecam PBB sebagai melanggar hukum internasional.

April 2026: Dalam pidato di pembukaan pemukiman baru, Smotrich menyatakan Israel akan “memperluas perbatasannya” ke Gaza, Lebanon hingga Sungai Litani, dan Suriah. Ia menyebut proses ini sebagai “tahap diplomatik terakhir yang akan sepenuhnya menghilangkan gagasan negara Palestina.”

Ini bukan pidato kampanye. Ini pernyataan menteri aktif tentang arah kebijakan negara yang ia bantu jalankan.


Arsitektur Kekuasaan yang Memungkinkan Semua Ini

Pertanyaan yang lebih penting dari “apa yang Smotrich katakan” adalah: mengapa ia bisa mengatakan itu dengan aman?

Jawabannya terletak pada arsitektur koalisi Netanyahu. Pemerintahan yang terbentuk sejak 2022 adalah yang paling kanan dalam sejarah Israel — menggabungkan partai-partai nasionalis religius yang sebelumnya dianggap terlalu ekstrem untuk diberi kursi kabinet.

Smotrich mendapat kekuasaan atas kebijakan permukiman. Ben Gvir mendapat Kementerian Keamanan Nasional. Keduanya memberikan Netanyahu suara yang ia butuhkan untuk mempertahankan koalisi — dan sebagai imbalannya, mereka mendapat ruang untuk mendorong agenda yang bertahun-tahun hanya ada di manifesto kelompok pinggiran.

Di Washington, Mike Huckabee — seorang pendeta Baptis yang secara teologis mendukung gagasan “Tanah yang Dijanjikan” sebagai hak ilahi Israel — menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Israel. Posisi resmi pemerintah AS di bawah Trump tidak secara eksplisit mendukung Israel Raya, tapi juga tidak secara konsisten menolaknya.

Ini bukan kekosongan kebijakan. Ini ruang gerak yang diperhitungkan.


Yang Paling Berbahaya: Normalisasi

Analisis geopolitik sering terfokus pada tindakan — berapa tentara, berapa permukiman, berapa kilometer wilayah yang dikuasai. Tapi ada bahaya yang lebih halus dan lebih jauh jangkauannya: normalisasi wacana.

Ketika seorang menteri keuangan dari negara demokrasi modern bisa berbicara terbuka tentang “menghapus gagasan negara Palestina” tanpa sanksi nyata dari komunitas internasional — ketika seorang perdana menteri bisa berkata “sangat terhubung” dengan visi ekspansi teritorial yang mencakup wilayah delapan negara tetangga tanpa konsekuensi diplomatik serius — sesuatu dalam tatanan normatif dunia bergeser.

Batas antara “retorika ekstremis” dan “kebijakan yang dapat dinegosiasikan” menjadi kabur. Dan sejarah menunjukkan bahwa begitu kabur, sangat sulit untuk dikembalikan.

Smotrich menyebut rencananya sebagai “warisan leluhur.” Netanyahu menyebutnya “misi historis dan spiritual.”

Dalam kosakata politik, ada nama lain untuk itu: ekspansionisme. Dan dunia, perlahan-lahan, mulai mengatakannya dengan lantang.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *