BRICS Jalan Ketiga Indonesia 2026, Bukan Poros Konfrontasi
BRICS jalan ketiga Indonesia 2026 bukan sekadar narasi diplomatik — ini adalah posisi yang secara konsisten dipertahankan Jakarta sejak bergabung sebagai anggota penuh pada Januari 2025.
Di sela BRICS FMM New Delhi, ketika Iran mendorong blok ini menjadi platform perlawanan terhadap AS-Israel dan Rusia memperkuat koordinasi keamanan regional, Indonesia memilih posisi yang berbeda: BRICS harus menjadi penyeimbang tatanan global, bukan instrumen konfrontasi yang memaksa negara berkembang memilih satu poros.
Pilihan itu bukan sekadar retorika — ini adalah kalkulasi strategis yang menentukan seberapa lama Jakarta bisa mempertahankan ruang gerak diplomatiknya di dunia yang semakin terpolarisasi.
Iran Mendorong, Indonesia Mengerem
Di New Delhi, Menlu Iran Abbas Araghchi mendesak sesama anggota BRICS untuk secara tegas mengutuk “agresi ilegal” AS dan Israel terhadap Teheran, serta mengambil tindakan konkret menghentikan apa yang ia sebut sebagai impunitas pihak-pihak yang melanggar Piagam PBB. Rusia, melalui Lavrov, memperkuat narasi serupa — BRICS sebagai platform yang harus aktif melawan dominasi AS dalam tatanan global.
Perpecahan internal yang paling mencolok muncul antara Iran dan UEA, dua anggota BRICS yang berada di sisi berlawanan dalam konflik yang sama. Iran wakil menlu-nya Kazem Gharibabadi menyebut bahwa “satu negara anggota” terus mendorong bahasa yang mengutuk Iran, mempersulit upaya membangun konsensus dalam blok tersebut.
Di sinilah posisi Indonesia menjadi penting. Menlu Sugiono mempertahankan posisi bahwa keanggotaan Indonesia di BRICS adalah “perwujudan kebijakan luar negeri bebas dan aktif” — berupaya menjembatani kepentingan negara berkembang dan kawasan Indo-Pasifik. Bukan memilih Iran atas UEA, bukan memilih Rusia atas AS, melainkan mendorong agar forum ini tetap berfungsi sebagai ruang dialog yang inklusif. Tidak terikat namun berpengaruh terhadap berbagai keputusan termasuk tata letak strategis ny indonesia dlm berbagai lini dgn tetap visi dan idealisme masih terjaga, meskipun belum mampu merealisasikan ny sekarang.

Tiga Jalur, Satu Pilihan
Riset akademis dari Third World Quarterly mengidentifikasi tiga jalur diplomatik yang dihadapi Indonesia dalam BRICS: pertama, berpihak ke Global North seperti era Soeharto; kedua, bergabung dengan faksi China-Rusia-Iran yang dipersepsikan anti-Global North meski realitasnya lebih kompleks; dan ketiga, mempertahankan non-alignment melalui keanggotaan ganda di BRICS dan organisasi yang didominasi Global North seperti OECD.
Indonesia mendekati BRICS bukan sebagai blok ideologis melainkan sebagai platform untuk memperkuat suara sebagai kekuatan menengah. Kebijakan luar negeri Jakarta sudah lama beroperasi di bawah prinsip “seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.” Dalam konteks itu, keanggotaan BRICS adalah alat untuk memperluas jangkauan diplomatik — bukan deklarasi keberpihakan.
Presiden Prabowo Subianto secara eksplisit memilih “jalan persahabatan dengan semua negara” — mendorong keanggotaan OECD bersamaan dengan BRICS sebagai bukti bahwa Jakarta tidak menutup pintu ke Barat sambil membuka pintu ke Global South
Relevansi yang Harus Dipertahankan
BRICS yang terpecah antara Iran dan UEA, antara narasi perlawanan Rusia dan pragmatisme India, membutuhkan aktor yang bisa berfungsi sebagai jembatan — bukan pengeras suara satu poros. Indonesia memiliki rekam jejak dalam G20 dan ASEAN sebagai mediator yang mampu menerjemahkan agenda de-dolarisasi dan reformasi sistem keuangan global tanpa memicu reaksi konfrontatif dari pihak manapun.
Tantangan terbesar bukan apakah Indonesia bisa mempertahankan posisi jalan ketiga ini — melainkan apakah BRICS sendiri akan memberi ruang bagi posisi itu untuk bertahan. Jika konflik AS-Iran terus memperuncing perpecahan antara Iran dan UEA di dalam blok, dan jika tekanan untuk memilih sisi semakin keras menjelang KTT September 2026 di India, Indonesia akan menghadapi ujian apakah non-alignment aktif masih bisa dioperasikan di dalam forum yang semakin terpolarisasi. Pilar yang paling dibutuhkan BRICS hari ini bukan negara yang paling lantang menyuarakan perlawanan terhadap AS — melainkan negara yang cukup dipercaya oleh semua pihak untuk menjaga forum itu tetap relevan sebagai ruang dialog.
- “BRICS FMM New Delhi krisis Asia Barat” — /geopolitik/brics-fmm-new-delhi-iran-uae-selat-hormuz-2026/
- “Indonesia BRICS FMM Sugiono perdamaian” — /nasional/indonesia-brics-fmm-sugiono-perdamaian-2026/
- “Iran Rusia BRICS poros anti AS” — /geopolitik/iran-rusia-brics-fmm-poros-anti-as-2026/
- “China absen BRICS FMM Wang Yi Trump Xi” — /geopolitik/china-absen-brics-fmm-wang-yi-trump-xi-beijing-2026/
- “Islamic NATO BRICS poros keamanan muslim” — /geopolitik/islamic-nato-brics-fmm-indonesia-global-south-2026/
