IRGC Hantam Pangkalan AS di Kuwait, Dua Drone Reaper Rusak, Lima Personel Terluka
IRGC serang pangkalan AS Kuwait dalam serangan balistik yang menandai eskalasi paling langsung sejak gencatan senjata AS-Iran mulai berlaku April lalu — sebuah malam yang berakhir dengan dua drone MQ-9 Reaper senilai total US$60 juta rusak, lima personel Amerika terluka, dan Kuwait mengaktifkan pertahanan udara nasionalnya untuk menangkis gelombang rudal dan drone.
Rantai Pembalasan yang Memicu Eskalasi
Untuk memahami apa yang terjadi Senin dini hari, perlu ditelusuri rantai aksi-reaksi yang terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam. Pada Minggu siang, CENTCOM mengumumkan bahwa pasukan AS telah melancarkan serangan terhadap instalasi radar Iran dan situs komando-kendali drone di Goruk dan Pulau Qeshm — diklaim sebagai respons terhadap “tindakan agresif Iran” terhadap pelayaran regional. Tidak lama setelah itu, AS menyerang menara telekomunikasi di kawasan Sirik, sebuah pulau kecil di Provinsi Hormozgan yang strategis karena posisinya mengawasi jalur masuk ke Selat Hormuz.
IRGC langsung merespons sekitar satu jam setelah serangan ke Sirik. Rudal balistik Fateh-110 diluncurkan dari wilayah Khuzestan, mengarah ke Ali Al-Salem Air Base di Kuwait — pangkalan yang menurut pernyataan IRGC digunakan AS sebagai titik peluncuran untuk serangan tersebut. Sistem pertahanan udara Kuwait memang berhasil mencegat rudal itu, namun serpihan jatuh di dalam kompleks pangkalan. Dua drone MQ-9 Reaper dinyatakan rusak — satu hancur total, satu lagi rusak parah. Masing-masing drone bernilai sekitar US$30 juta. Lima orang, termasuk personel militer AS dan kontraktor sipil, mengalami luka ringan.
“Semua Target Dihancurkan” — dan Peringatan Eskalasi Lebih Jauh
Dalam pernyataan resminya, IRGC mengklaim seluruh target yang sudah ditentukan sebelumnya berhasil dihancurkan dalam operasi itu. Lebih penting dari klaim keberhasilan itu adalah peringatan yang menyertainya: jika AS mengulangi tindakan serangan mana pun, Iran akan merespons dengan serangan yang “sepenuhnya berbeda dalam skala dan sifatnya.” Pernyataan itu secara eksplisit menempatkan tanggung jawab penuh atas eskalasi ke pundak Washington.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei mengkonfirmasi posisi yang sama — menyebut serangan AS terhadap Bandar Abbas dan Sirik sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sedang berlaku, dan menegaskan Iran berhak penuh untuk membela kedaulatannya.
Kuwait sendiri tidak diam. Militer Kuwait mengeluarkan pernyataan bahwa sistem pertahanan udara mereka sedang aktif menangkis serangan rudal dan drone. Sirens pertahanan sipil berbunyi di seluruh wilayah Kuwait pada pukul 05.22 pagi waktu setempat. Kementerian Luar Negeri Kuwait kemudian secara resmi mengecam “serangan kriminal Iran yang menargetkan wilayahnya.” Penerbangan sipil ikut terdampak — sistem pemantau penerbangan mencatat sejumlah pesawat dialihkan dari Bandara Internasional Kuwait, dengan beberapa pesawat yang sudah dalam pola terbang menunggu dialihkan ke jalur lain.
Trump: “Tidak Terburu-buru” di Tengah Krisis yang Mendidih
Ironi terbesar dari eskalasi malam ini adalah konteksnya: serangan IRGC terjadi persis ketika Gedung Putih sedang mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata yang baru. Trump menyatakan pada Jumat lalu bahwa ia akan segera memutuskan soal perpanjangan kesepakatan awal April — yang dirancang memberi lebih banyak waktu bagi negosiator untuk menyelesaikan kerangka jangka panjang terkait program nuklir Iran. Namun Trump juga diketahui sudah memasukkan beberapa putaran revisi ke dalam teks perjanjian, mendorong konsesi yang lebih ketat dan tidak dapat dinegosiasikan soal stok uranium yang sudah diperkaya Iran. “Saya tidak terburu-buru,” kata Trump.
Seorang penasihat Khamenei — tokoh yang sudah meninggal dalam serangan Israel pada 28 Februari, namun nama jabatannya masih digunakan dalam pernyataan resmi pemerintah Iran dalam masa transisi — menyebut AS sedang “mengkhianati diplomasi dan membuat tuntutan berlebihan.” Dari sisi Iran, pola yang terlihat adalah mereka masih mau bernegosiasi, tapi juga masih mau menembakkan rudal — sebuah sinyal bahwa tekanan militer dianggap Teheran sebagai instrumen yang bisa dijalankan paralel dengan perundingan.
Kuwait: Korban Geografi yang Tidak Dipilih
Yang menarik perhatian dalam eskalasi terbaru ini adalah posisi Kuwait. Negara kecil yang selama ini menjaga hubungan diplomatik dengan Iran sambil menjadi tuan rumah pangkalan AS kini semakin terjepit di antara dua kekuatan yang saling hantam di atas wilayahnya. Jaksa Kuwait sebelumnya sudah merujuk dugaan anggota IRGC ke pengadilan atas kasus percobaan infiltrasi bersenjata ke Pulau Bubiyan. Listrik Kuwait sempat terganggu ketika puing drone Iran menjatuhkan enam jalur transmisi dari jaringan nasional.
Pertanyaan yang menggantung setelah malam ini bukan apakah gencatan senjata akan diperpanjang — melainkan apakah ia masih bermakna sesuatu di lapangan. AS menyerang instalasi Iran, Iran membalas dengan rudal balistik ke pangkalan AS di negara ketiga, dan keduanya masih menyebut diri sedang mematuhi “kerangka gencatan.” Selama logika saling balas ini belum dihentikan oleh satu dari dua hal — kesepakatan nyata atau kehabisan momentum eskalasi — malam-malam seperti ini akan terus berulang.
- “gencatan senjata AS-Iran rapuh” — /konflik-dunia/gencatan-senjata-as-iran-rapuh-2026/
- “Selat Hormuz krisis maritim” — /konflik-dunia/selat-hormuz-blokade-krisis-maritim-mei-2026/
- “ultimatum Trump Iran 48 jam” — /konflik-dunia/ultimatum-trump-iran-48-jam-2026/
- “biaya perang Iran AS bengkak” — /konflik-dunia/biaya-perang-iran-as-bengkak/
- “pasukan AS Jerman dikurangi” — /geopolitik/pasukan-as-jerman-dikurangi/
