Produksi Tebu Indonesia 2026 Diproyeksi 39,5 Juta Ton, Target Gula 3 Juta Ton
Produksi tebu Indonesia pada 2026 diproyeksikan mencapai 39,5 juta ton tebu atau setara dengan 2,8 juta ton gula. Angka ini menjadi bagian dari target produksi gula nasional sebesar 3 juta ton yang dicanangkan Kementerian Pertanian, meningkat dari produksi 2025 yang berada di kisaran 2,67 juta ton. Indonesia saat ini menjadi produsen gula tebu terbesar di Asia Tenggara dengan kualitas gula yang terus ditingkatkan melalui program peremajaan lahan dan penggunaan bibit unggul.
Sentra Produksi dan Kontribusi Daerah
Produksi tebu Indonesia sebagian besar dihasilkan di 12 provinsi, dengan sentra utama di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Jawa Timur menjadi daerah dengan lahan tebu terbesar di Indonesia, mencapai 215,47 ribu hektare, dan ditargetkan menyumbang 51 persen produksi gula nasional pada 2026.
Pemerintah menargetkan perluasan dan optimalisasi lahan tebu hingga 100 ribu hektare secara nasional, dengan sekitar 70 ribu hektare atau 70 persen di antaranya berada di Jawa Timur. Provinsi Jawa Barat juga diharapkan dapat menutup kekurangan sekitar 10 ribu hektare lahan tebu melalui pengembangan di Kabupaten Indramayu.
Target Swasembada dan Penghentian Impor Gula Konsumsi
Pemerintah menargetkan swasembada gula kristal putih (GKP) atau gula untuk konsumsi pada 2026. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia akan menghentikan impor gula putih mulai 2026.
Berdasarkan Neraca Komoditas Pangan Nasional 2026, pemerintah memastikan tidak ada impor gula konsumsi sepanjang tahun tersebut. Stok awal gula konsumsi 2026 diperkirakan sebesar 1,437 juta ton hasil carry over dari 2025. Dengan estimasi produksi gula nasional mencapai 2,72 juta ton dan kebutuhan konsumsi sekitar 2,836 juta ton per tahun, pasokan gula nasional diproyeksikan surplus.
Sementara itu, impor gula masih dibuka untuk kebutuhan industri sebesar 3,12 juta ton gula mentah (raw sugar) serta gula skema KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor) sebesar 508.360 ton.
Program Revitalisasi dan Dukungan Pemerintah
Untuk mencapai target produksi 3 juta ton gula, pemerintah menjalankan sejumlah program strategis:
Program Bongkar Ratoon
Pemerintah melakukan peremajaan lahan tebu melalui program bongkar ratoon (membongkar tunas tebu lama yang sudah tidak produktif) seluas 300 ribu hektare secara bertahap pada 2025–2027. Di Jawa Timur, program ini ditargetkan mencapai 48.315 hektare bongkar ratoon dan 6.582 hektare perluasan areal tebu pada 2026.
Bantuan Benih Unggul
Pada 2026, pemerintah menargetkan penyaluran bantuan benih tebu untuk pengembangan areal seluas 99.547 hektare dengan total 5,9 miliar mata benih di 10 provinsi dan 74 kabupaten.
Dukungan Alat dan Mesin Pertanian
Pemerintah menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian, termasuk minimal 100 unit traktor di Jawa Timur, dengan nilai mencapai ratusan miliar rupiah.
Peran BUMN
PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menargetkan produksi gula pada musim giling 2026 mencapai 1,1 juta ton, atau 34 persen dari target nasional 3 juta ton. Sementara PTPN I melakukan perluasan lahan tebu di Jawa dan Sulawesi untuk mendukung target swasembada gula konsumsi pada 2027.
Proyeksi produksi tebu 39,5 juta ton pada 2026 menjadi langkah penting menuju swasembada gula nasional. Dengan target produksi gula 3 juta ton dan penghentian impor gula konsumsi, Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri sekaligus memperkuat kedaulatan pangan. Namun, tantangan tetap ada. Produktivitas tebu masih terkendala oleh 70-80 persen ratoon yang rusak atau tidak layak, serta ancaman cuaca El Niño yang diperkirakan dapat mempengaruhi luas panen dan rendemen tebu.
Keberhasilan program revitalisasi lahan dan bantuan benih unggul akan menjadi kunci utama. Jika program bongkar ratoon 300 ribu hektare dan perluasan lahan 100 ribu hektare dapat direalisasikan secara konsisten, Indonesia tidak hanya akan mencapai swasembada gula konsumsi pada 2026, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai produsen gula tebu terkemuka di Asia Tenggara.
