Juli 18, 2026

Gencatan Senjata Israel-Lebanon Gagal Bertahan, 47 Tewas dalam 24 Jam Terakhir

images (13)

Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang disepakati pada Jumat (19/6/2026) gagal bertahan. Israel melancarkan serangan udara dan drone ke Lebanon selatan serta Lembah Bekaa sebagai respons atas roket yang ditembakkan Hizbullah. Serangan ini menewaskan sedikitnya 47 orang sejak Jumat, sementara korban tewas total sejak eskalasi konflik pada 2 Maret 2026 mencapai 3.980 jiwa.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan udara Israel sejak Jumat dini hari telah menewaskan 47 orang, termasuk tujuh perempuan dan dua anak-anak, serta melukai 97 lainnya. Serangan paling mematikan terjadi di Harouf, Distrik Nabatieh, di mana sembilan orang tewas, termasuk tiga perempuan. Enam orang lainnya tewas di al-Duweir, termasuk satu anak-anak dan satu perempuan, sementara tujuh orang tewas di Haboush. Serangan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain seperti al-Sharqiyah, Kfarsir, dan Nabatieh.

Gencatan Senjata yang Rapuh Sejak Awal

Kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan oleh seorang pejabat AS pada Jumat itu sebenarnya telah dipertaruhkan sejak awal. Hizbullah, yang tidak dilibatkan dalam perundingan di Washington, sebelumnya telah menolak ketentuan-ketentuan utama dalam proposal gencatan senjata yang ditengahi AS. Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, dengan tegas menyatakan bahwa persyaratan untuk menarik diri sementara operasi militer Israel terus berlanjut sama saja dengan penyerahan diri.

Meskipun ada pengumuman gencatan senjata, militer Israel mengonfirmasi bahwa pasukannya akan “terus bergerak untuk melenyapkan ancaman yang datang seketika”. Bahkan setelah gencatan senjata dinyatakan berlaku pada pukul 16.00 waktu setempat, petugas penyelamat di Nabatieh melaporkan sedikitnya 12 serangan udara terjadi.

Saling Tuding Pelanggaran

Israel dan Hizbullah saling menuduh melanggar gencatan senjata. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut serangan Hizbullah sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata” dan memerintahkan militer untuk menyerang Hizbullah dengan kekuatan. Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, mengatakan bahwa Israel akan terus merespons pelanggaran Hizbullah dan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi warga sipil Israel.

Sementara itu, Hizbullah membantah tuduhan Israel dan menyatakan bahwa Israel tidak pernah mematuhi perjanjian gencatan senjata apa pun sejak 27 November 2024. Kelompok yang didukung Iran itu menegaskan bahwa Israel terus melakukan pelanggaran melalui serangan militer, penghancuran bangunan tempat tinggal dan infrastruktur sipil, serta pelanggaran wilayah.

Dampak terhadap Kesepakatan AS-Iran

Eskalasi di Lebanon mengancam kesepakatan yang baru saja ditandatangani antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Nota kesepahaman (MoU) tersebut menyatakan gencatan senjata di Lebanon, tetapi realitas di lapangan berbicara sebaliknya. Iran menuduh AS gagal menahan Israel, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Israel menginginkan “perang abadi”.

Iran bahkan menangguhkan semua negosiasi 60 hari dengan AS setelah menuduh Washington melanggar klausul pertama MoU yang baru saja ditandatangani. Delegasi Iran yang bersiap berangkat ke Swiss untuk putaran pertama negosiasi tiba-tiba membatalkan perjalanan.

Perundingan Berikutnya di Washington

Meskipun terjadi kekerasan, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan bahwa putaran negosiasi berikutnya antara pemerintah Lebanon dan Israel akan diadakan di Washington pada 23-25 Juni 2026. Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahwa gencatan senjata yang komprehensif adalah pilar fundamental bagi kemajuan negosiasi.

Sejak konflik dimulai pada 2 Maret 2026, total korban tewas di Lebanon mencapai 3.980 orang dan lebih dari 12.000 lainnya terluka. Lebih dari 1 juta warga juga mengungsi dari rumah mereka.

Kegagalan gencatan senjata Israel-Lebanon hanya 24 jam setelah diumumkan menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan yang tidak melibatkan semua pihak secara langsung. Selama Israel dan Hizbullah terus saling menuding dan melanjutkan operasi militer, perdamaian yang langgeng akan sulit terwujud. Putaran negosiasi di Washington pekan depan menjadi harapan terakhir untuk mencapai kesepakatan yang lebih permanen, tetapi tanpa komitmen nyata dari kedua belah pihak untuk menghentikan permusuhan, konflik diperkirakan akan terus berlanjut dengan korban jiwa yang semakin bertambah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *