Juli 18, 2026

Bekantan, Primata Endemik Kalimantan dengan Hidung Besar yang Unik

proboscis-monkey-2422094_1280

Bekantan primata endemik Kalimantan merupakan salah satu satwa paling ikonik di Indonesia. Dengan nama ilmiah Nasalis larvatus, bekantan dikenal luas karena hidungnya yang besar dan panjang, terutama pada individu jantan. Keunikan ini membuatnya dijuluki monyet belanda atau kera belanda oleh masyarakat setempat. Bekantan hanya ditemukan di Pulau Kalimantan, yang meliputi wilayah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Keberadaannya menjadi simbol kekayaan fauna Indonesia, khususnya di ekosistem hutan rawa, mangrove, rawa gambut, hingga pinggiran sungai.

Ciri fisik bekantan sangat khas dan mudah dikenali. Tubuhnya ditutupi bulu berwarna cokelat kemerahan di bagian punggung, sementara bagian perut dan anggota tubuhnya berwarna putih keabuan. Panjang ekornya hampir sama dengan panjang tubuhnya, sekitar 559 hingga 762 milimeter. Hidung jantan dewasa jauh lebih besar dibandingkan betina, dan ukuran tubuh jantan juga lebih besar. Hidung besar pada jantan berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menarik perhatian betina saat musim kawin dan menunjukkan dominasi di antara sesama jantan. Hidung ini juga diduga berfungsi untuk memperkuat suara panggilan saat berkomunikasi.

Bekantan menghuni kawasan lahan basah seperti hutan mangrove, hutan rawa gambut, dan wilayah hutan riparian di sepanjang tepian sungai. Mereka lebih sering ditemukan di daerah dataran rendah, umumnya pada ketinggian di bawah 200 meter di atas permukaan laut, meskipun ada juga yang hidup hingga 350 meter. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 58 persen populasi bekantan hidup dalam jarak sekitar 50 kilometer dari garis pantai, yang menegaskan ketergantungan mereka pada ekosistem lahan basah. Hampir 95 persen makanan utamanya adalah daun-daunan muda atau pucuk pohon bakau, serta sisanya berupa bunga dan buah-buahan. Sistem pencernaan mereka yang kompleks memungkinkan mereka mencerna makanan berserat tinggi seperti daun dan buah-buahan, yang membuat perut mereka terlihat membuncit.

Bekantan adalah hewan sosial yang hidup berkelompok dengan jumlah 10 hingga 32 individu dalam satu kelompok. Satu kelompok biasanya terdiri dari satu jantan dewasa, beberapa betina dewasa, dan anak-anaknya. Selain itu, terdapat kelompok all-male yang terdiri dari beberapa bekantan jantan. Jantan yang menginjak remaja akan keluar dari kelompok one-male dan bergabung dengan kelompok all-male sebagai strategi untuk menghindari terjadinya inbreeding. Bekantan juga dikenal sebagai perenang yang handal, dengan kemampuan menyeberangi sungai atau melompat dari pohon ke air untuk menghindari bahaya. Keahlian berenang ini didukung oleh selaput kecil di antara jari-jari kaki mereka. Selain mahir berenang, bekantan juga bisa menyelam dalam beberapa detik, dan hidungnya dilengkapi semacam katup untuk menunjang kemampuan tersebut.

Populasi bekantan menghadapi ancaman serius akibat hilangnya habitat alami mereka. Perusakan hutan bakau, alih fungsi lahan untuk perkebunan, serta perburuan ilegal menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup spesies ini. Bekantan diburu untuk dikonsumsi dagingnya karena dipercaya dapat meningkatkan stamina, dan juga banyak diperdagangkan untuk dipelihara. Akibatnya, bekantan saat ini berstatus “Terancam Punah” menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Di Kalimantan Selatan, yang merupakan fauna identitas provinsi berdasarkan Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 29 Tahun 1990, populasi bekantan dilaporkan meningkat 10 persen dari sekitar 3.000 ekor pada 2019 menjadi sekitar 4.000 ekor berdasarkan laporan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Namun, peningkatan ini tidak serta-merta menghilangkan ancaman yang dihadapi bekantan di wilayah lain. Bekantan termasuk satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MenLHK/Setjen/Kum.1/12/2018.

Keberadaan bekantan tidak hanya menarik dari segi keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi ikon konservasi di Indonesia. Sebagai primata endemik yang unik, bekantan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan bakau dan lahan basah. Upaya konservasi yang telah dilakukan meliputi pembentukan kawasan konservasi dan program rehabilitasi habitat, seperti Taman Nasional Tanjung Puting dan Suaka Margasatwa Pulau Kaget. Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan bakau dan ekosistem lahan basah juga menjadi bagian penting dari upaya pelestarian ini.

Bekantan adalah primata endemik Kalimantan yang memiliki keunikan fisik dan perilaku yang luar biasa. Hidung besar pada jantan, kemampuan berenang, serta sistem sosial yang kompleks menjadikannya salah satu satwa paling menarik di Indonesia. Namun, ancaman terhadap habitat dan perburuan ilegal masih membayangi kelangsungan hidupnya. Dengan status “Terancam Punah” menurut IUCN, upaya konservasi yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk melindungi bekantan dan habitatnya. Kerja sama antara pemerintah, organisasi lingkungan, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan bekantan tetap lestari di alam liar. Ke depan, penguatan kawasan konservasi, penegakan hukum terhadap perburuan ilegal, serta peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya ekosistem lahan basah akan menjadi faktor penentu bagi kelangsungan hidup bekantan di Pulau Kalimantan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *