KKP Perkuat SDM Perikanan Lewat Pelatihan Budidaya Bioflok di 100 Titik KDMP Jawa
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus memperkuat kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) kelautan dan perikanan. Salah satu upaya strategis yang dilakukan adalah melalui pelatihan budidaya ikan tematik sistem bioflok yang menyasar 100 titik lokasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di wilayah Jawa. Pelatihan ini bertujuan mendorong terwujudnya budidaya perikanan yang lebih produktif, inovatif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penyediaan protein berkualitas bagi masyarakat.
Program pelatihan budidaya ikan lele dan nila dengan sistem bioflok ini merupakan bagian dari sinergi antara BPPSDM KP dan DJPB yang telah berlangsung sejak tahun 2025. Pelatihan ini dilaksanakan di 100 titik yang tersebar di empat provinsi di Pulau Jawa, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat. Cakupan terbesar berada di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Target peserta pelatihan adalah sebanyak 300 orang yang terdiri dari perwakilan pengurus koperasi dan penyuluh perikanan.
Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta, menjelaskan bahwa pelatihan ini menyasar KDMP yang telah menerima unit bantuan bioflok dari KKP. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kapasitas SDM pengelola agar bantuan yang diberikan dapat dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Pelatihan dirancang dengan metode Training of Trainers (ToT) di mana dua orang perwakilan dari setiap koperasi dipilih untuk mengikuti pelatihan sehingga mereka mampu mentransfer teknik budidaya kepada anggota lain di daerahnya masing-masing.
Para peserta tidak hanya mempelajari sistem bioflok secara teoritis, tetapi juga mendapatkan praktik langsung yang mencakup manajemen pakan, kualitas air, kontrol panen, hingga strategi pemasaran. Sistem bioflok sendiri merupakan teknologi budidaya intensif dan ramah lingkungan yang mengubah limbah metabolisme ikan menjadi nutrisi kembali melalui pemanfaatan bakteri heterotrof. Teknologi ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mampu meningkatkan produktivitas dengan padat tebar tinggi, penggunaan pakan yang lebih efisien, hemat air, serta ramah lingkungan karena buangan airnya tidak berbau.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono secara langsung telah meninjau dan menyerahkan bantuan program budidaya ikan tematik dengan sistem bioflok di beberapa lokasi, salah satunya di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Program ini diharapkan tidak hanya menyediakan sarana fisik, tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan pembudidaya. Selain itu, hasil produksi dari budidaya bioflok ini juga diarahkan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.
Di tingkat lapangan, program ini telah menunjukkan hasil yang positif. Sebagai contoh, KDKMP Kepatihan di Wonogiri berhasil mengelola 60.000 ekor benih lele di 24 kolam bioflok. Sementara itu, 22 KDMP di Kabupaten Kudus telah mengajukan bantuan program budidaya ikan bioflok dari KKP. Di Purworejo, program budidaya bioflok yang dimulai pada 2025 dengan menyasar empat KDMP telah berhasil memanen lele hingga 4 ton per siklus. Melihat hasil positif tersebut, Pemerintah Kabupaten Purworejo bahkan mengusulkan penambahan sembilan KDMP baru.
Keberhasilan program budidaya ikan bioflok tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi dan fasilitas, tetapi juga pada peningkatan kapasitas SDM yang menjadi kunci utama. Melalui pelatihan yang komprehensif dan pendampingan berkelanjutan, KKP berharap 100 koperasi dapat mengembangkan unit budidaya bioflok yang mandiri dan produktif, membuka peluang kerja, serta menyediakan ikan konsumsi yang terjangkau bagi masyarakat. Sinergi antara pembangunan fisik, transfer teknologi, dan penguatan kapasitas SDM ini menunjukkan pentingnya keterpaduan dalam mewujudkan program perikanan yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.
