Juli 18, 2026

Korut Tuding AS dan Korsel Latihan Perang Nuklir, Ancaman Respons Tegas Menguat

IMG_20260706_232337

Korea Utara kembali melontarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat dan Korea Selatan, menuduh kedua negara tersebut melakukan latihan perang nuklir yang membahayakan stabilitas kawasan. Pyongyang menyatakan bahwa langkah ini merupakan provokasi serius dan mengancam akan memberikan respons tegas jika provokasi serupa terus berlanjut.

Tudingan ini muncul menyusul serangkaian latihan militer gabungan yang dilakukan AS dan Korsel, yang menurut Pyongyang dirancang khusus untuk mensimulasikan skenario perang nuklir terhadap mereka. Korea Utara secara khusus menyoroti pertemuan keenam Nuclear Consultative Group (NCG), sebuah mekanisme konsultasi untuk memperluas pencegahan nuklir AS di Semenanjung Korea. Pyongyang menyebut latihan simulasi yang dihasilkan dari pertemuan tersebut sebagai “skenario perang nuklir” yang terperinci, termasuk metode peperangan, prosedur misi, pelatihan, hingga elemen operasional yang dianggap sebagai bukti nyata upaya untuk mendorong Semenanjung Korea ke ambang konflik nuklir .

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menyatakan bahwa situasi geopolitik di Semenanjung Korea semakin memburuk akibat modernisasi angkatan bersenjata di kawasan tersebut oleh AS dan Korsel . Ia menekankan bahwa hal ini menjadi pembenaran bagi Pyongyang untuk terus mempercepat pengembangan kemampuan pertahanan nuklirnya sebagai bentuk pencegahan yang “ampuh dan benar-benar dapat diandalkan” . Pernyataan ini mempertegas komitmen Korut pada statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir yang “tidak dapat diubah” .

Seiring dengan retorika yang semakin memanas, Korea Utara juga menunjukkan keseriusan militernya. Belum lama ini, Kim Jong Un meresmikan kapal perusak baru berbobot 5.000 ton dan berjanji untuk mempersenjatai angkatan lautnya dengan senjata nuklir. Ini merupakan pengumuman publik pertama tentang rencana pembangunan kapal perang sekelas itu, yang menandakan adanya peningkatan kemampuan proyeksi kekuatan militer Pyongyang . Ketegangan yang berlangsung ini terjadi di tengah kondisi kedua Korea yang secara teknis masih dalam keadaan perang, karena konflik 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *