Pabrik Baterai Listrik CATL di Karawang Resmi Beroperasi Akhir Juli 2026, Investasi Rp19,4 Triliun
Indonesia akan segera memiliki pabrik baterai listrik berkapasitas besar yang menjadi tulang punggung ekosistem kendaraan listrik nasional. Pabrik baterai listrik hasil kolaborasi antara MIND ID, Indonesia Battery Corporation (IBC), dan konsorsium CBL (CATL) asal China di Karawang, Jawa Barat, ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada akhir Juli 2026. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan langsung pabrik yang diberi nama Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) ini sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam mendorong hilirisasi industri.
Presiden Direktur Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif, menyatakan bahwa proyek strategis ini telah memasuki tahap akhir persiapan operasional. “Insyaallah Juli ini COD (Commercial Operation Date). Kemungkinan akhir bulan,” ujarnya dalam bincang Mind Club di Jakarta beberapa waktu lalu. Dengan total investasi mencapai USD 1,1 miliar atau setara Rp19,4 triliun, pabrik ini akan menjadi salah satu pusat produksi baterai terbesar di Asia Tenggara.
Pabrik CATIB dirancang dengan kapasitas produksi total tahap pertama sebesar 6,9 gigawatt hour (GWh) yang mencakup dua jenis baterai utama, yaitu nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium iron phosphate (LFP). Untuk tahap kedua, kapasitas akan ditambah sebesar 8,1 GWh, sehingga total kapasitas produksi mencapai sekitar 15 GWh. Dari total produksi di Karawang, baterai jenis LFP akan mendominasi sebesar 80 persen, sementara sisanya 20 persen adalah baterai NMC. Dominasi LFP ini didasarkan pada tren industri kendaraan listrik global yang saat ini lebih banyak mengadopsi teknologi tersebut karena dinilai lebih aman, tahan lama, dan lebih murah.
Selain untuk kendaraan listrik, baterai LFP hasil produksi IBC juga diproyeksikan untuk mendukung sistem penyimpanan energi, seperti pada pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan tenaga bayu (PLTB). Aditya menjelaskan bahwa kondisi pasar saat ini memang lebih banyak menggunakan LFP, terutama untuk kendaraan roda dua dan mobil listrik di segmen entry-level. Di sisi lain, IBC tetap berkomitmen memproduksi baterai NMC untuk menjaga semangat hilirisasi nikel Indonesia yang telah dicanangkan sejak era Presiden Joko Widodo. Pasar ekspor utama yang dibidik untuk jenis baterai NMC ini adalah kawasan Eropa, khususnya Jerman, karena permintaan baterai berbasis nikel di wilayah tersebut dinilai masih cukup tinggi. Sementara untuk baterai LFP, IBC telah mengantongi calon pembeli potensial dengan salah satu target pasar utama adalah Jepang.
Keberadaan pabrik ini menjadi langkah maju bagi Indonesia dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya nikel sebagai bahan baku baterai, Indonesia tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mulai naik kelas menjadi pemain penting dalam rantai pasok industri baterai global. Pabrik CATIB di Karawang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan baterai dalam negeri dan ekspor, serta menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.
