Juli 23, 2026

Iran Balas Serang Fasilitas AS di Bahrain dan Kuwait, IRGC Klaim Hancurkan Hanggar Drone dan Radar Patriot

a_6a239bb149018

Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone skala besar terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait pada Senin (20/7) hingga Selasa (21/7) dini hari. Serangan ini merupakan bagian dari gelombang ke-24 Operasi Nasr-2 sebagai balasan atas serangan udara AS yang terus berlanjut di wilayah Iran. IRGC menyatakan bahwa serangan ini berhasil melumpuhkan sejumlah sistem pertahanan udara dan radar strategis AS di kedua negara Teluk tersebut, yang selama ini digunakan untuk memantau dan menyerang posisi-posisi Iran.

Di Bahrain, IRGC mengklaim telah menghancurkan hanggar perawatan dan perbaikan drone AS di Pangkalan Udara Al-Sakhir dalam gelombang serangan pertama. Target lainnya termasuk markas Armada Kelima AS di Pelabuhan Salman, di mana gudang persiapan kapal Task Force 59 dilaporkan hancur dan sejumlah kapal mengalami kerusakan parah. IRGC juga menambahkan bahwa serangan di Bahrain menyasar dua sistem pertahanan udara Patriot serta instalasi radar di dua pos terdepan AS, yang selama ini menjadi bagian penting dari sistem pertahanan udara koalisi di kawasan Teluk.

Sementara itu, di Kuwait, serangan difokuskan pada Camp Arifjan yang menjadi fasilitas pendukung pasukan komando laut khusus AS serta Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber. IRGC mengklaim telah menghancurkan hangar drone MQ-9 Reaper, sistem radar jarak jauh, pusat komunikasi, dan sistem penerimaan satelit. Serangan juga menargetkan sistem radar FPS-117 dan pertahanan Patriot di Pangkalan Ahmad Al-Jaber. Tentara Iran juga mengaku menggunakan drone kamikaze untuk menyerang tiga pangkalan utama AS di Kuwait, menunjukkan peningkatan kapabilitas serangan presisi yang dimiliki oleh IRGC.

Menteri Luar Negeri Bahrain mengutuk keras serangan berulang Iran yang dinilai menargetkan infrastruktur sipil vital dan mengancam keselamatan warga sipil. Bahrain menyatakan bahwa sistem navigasi penerbangan sipil di wilayah informasinya juga menjadi sasaran drone Iran, yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan komersial. Di Kuwait, serangan menyebabkan kerusakan pada infrastruktur listrik dan air, serta mengganggu operasional bandara dan upaya tanggap darurat. Kuwait yang sangat bergantung pada pabrik desalinasi untuk pasokan airnya kini menghadapi kekhawatiran atas kerentanan infrastruktur kritis yang menjadi tulang punggung kehidupan sehari-hari.

Serangan Iran ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang semakin memanas pasca-runtuhnya gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada Juni lalu. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah menyelesaikan serangan malam ke-9 berturut-turut terhadap Iran, menargetkan pusat komando militer, sistem pertahanan udara, dan lokasi rudal. IRGC juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan memperingatkan bahwa selat tersebut tidak akan aman bagi produk petrokimia selama serangan AS berlanjut. Konflik yang meluas ini telah menimbulkan kekhawatiran global atas pasokan energi dan stabilitas kawasan Timur Tengah, dengan harga minyak mentah yang terus melonjak sebagai respons terhadap eskalasi ini.

Pasar energi global merespons dengan cepat terhadap perkembangan terbaru ini. Harga minyak mentah Brent melonjak melewati angka 90 dolar AS per barel, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan signifikan. Analis memperingatkan bahwa jika konflik terus berlanjut dan Selat Hormuz tetap tertutup, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi lagi, berpotensi memicu krisis energi global dan memperlambat pemulihan ekonomi dunia yang masih rapuh pasca-pandemi.

Diplomasi internasional juga bergerak cepat. Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat untuk membahas eskalasi ini, dengan beberapa negara anggota menyerukan penghentian segera permusuhan dan kembali ke meja perundingan. Namun, dengan kedua belah pihak yang sama-sama bersikukuh pada pendiriannya, upaya diplomatik tampaknya masih akan menghadapi jalan yang panjang dan berliku. Beberapa negara mediator, termasuk Oman dan Pakistan, telah menawarkan jasa mereka untuk mencoba menjembatani perbedaan, tetapi belum ada tanda-tanda bahwa salah satu pihak bersedia mundur.

Serangan Iran terhadap fasilitas AS di Bahrain dan Kuwait ini juga memicu kekhawatiran di antara negara-negara Teluk lainnya. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang memiliki hubungan yang rumit dengan Iran, kini meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat pertahanan udara mereka. Kedua negara tersebut juga telah melakukan kontak darurat dengan AS untuk mendiskusikan langkah-langkah keamanan tambahan. Ketegangan di kawasan Teluk yang sudah tinggi kini semakin meningkat, menciptakan atmosfer ketidakpastian yang menyelimuti seluruh kawasan.

Di tengah eskalasi yang terus meningkat, Iran menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam menghadapi serangan AS yang berulang. Dengan menggunakan rudal dan drone yang semakin canggih, Iran telah membuktikan bahwa mereka mampu menjangkau dan menghantam target-target strategis AS di negara-negara tetangga. Hal ini menjadi sinyal yang jelas bahwa konflik ini tidak lagi terbatas pada perbatasan Iran, tetapi telah meluas ke seluruh kawasan Teluk. Pertanyaan besar yang kini membayangi adalah seberapa jauh eskalasi ini akan berlanjut dan apakah akan ada upaya serius untuk menghentikan siklus kekerasan yang tampaknya tidak ada ujungnya ini. Sementara itu, rakyat di Bahrain dan Kuwait harus hidup dalam ketakutan akan serangan berikutnya, sementara dunia menyaksikan dengan cemas dari kejauhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *