KTT ASEAN ke-59 Dibuka di Manila, Tiga Isu Panas Dominasi Agenda: Iran, Myanmar, dan Laut China Selatan
U.S. Secretary of State Marco Rubio poses during the ASEAN Post Ministerial Conference with the United States on the sidelines of the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Foreign Ministers' Meeting in Pasay City, Metro Manila, Philippines, July 22, 2026. Aaron Favila/Pool via REUTERS
Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-59 resmi dibuka di Manila, Filipina, pada 21 Juli 2026, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan regional. Mengusung tema “Navigating Our Future, Together” (Bersama Menavigasi Masa Depan Kita), pertemuan para menteri luar negeri ini menjadi ajang bagi negara-negara Asia Tenggara untuk bersatu menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kehadiran para menteri luar negeri dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, China, dan Rusia, menjadikan forum ini sebagai panggung diplomasi yang sangat strategis di kawasan.
Konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran membayangi seluruh rangkaian pertemuan. ASEAN menyatakan keprihatinan serius atas eskalasi permusuhan dan dampaknya terhadap ketahanan energi kawasan. Dalam pernyataan bersama, para menteri menyerukan penghentian segera permusuhan di Timur Tengah serta pemulihan navigasi yang aman dan bebas di Selat Hormuz. Hal ini sangat krusial karena Asia Tenggara sangat bergantung pada jalur minyak dari Timur Tengah, dan setiap gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi yang akan membebani perekonomian negara-negara ASEAN yang masih dalam masa pemulihan. Menlu Filipina, Ma. Theresa Lazaro, menekankan urgensi isu ini dan mengkhawatirkan gangguan pada rantai pasok energi dan pangan, mengingat Filipina sendiri sempat mendeklarasikan darurat energi pada Maret lalu akibat perang yang berkepanjangan.
Konflik saudara di Myanmar yang berkepanjangan sejak kudeta militer 2021 menjadi fokus utama dalam pertemuan ini. ASEAN terus berupaya menemukan jalan keluar dari krisis yang telah berlangsung lebih dari lima tahun tersebut. Blok ini masih berupaya menghidupkan kembali konsensus perdamaian yang telah mandek, dengan berbagai upaya diplomatik yang terus dilakukan untuk membangun dialog antara pihak-pihak yang bertikai. Menlu RI Sugiono menekankan pentingnya ASEAN terus terlibat dan mendorong proses yang inklusif di Myanmar, karena ketidakstabilan di negara tersebut dapat mengganggu keamanan dan stabilitas kawasan secara keseluruhan. Diskusi khusus tentang Myanmar diadakan pada 22 Juli, dengan harapan dapat ditemukan titik terang dalam penyelesaian krisis yang telah memakan banyak korban jiwa dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.
Ketegangan di Laut China Selatan, termasuk bentrokan terbaru antara China dan Filipina, menjadi agenda utama lainnya. ASEAN dan China terus berupaya merampungkan negosiasi Kode Etik (COC) untuk mencegah sengketa teritorial meningkat menjadi konflik terbuka. Para menteri menegaskan pentingnya kebebasan navigasi dan penerbangan di laut yang disengketakan, sesuai dengan hukum internasional yang tertuang dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982. Sengketa di Laut China Selatan melibatkan klaim teritorial yang tumpang tindih antara China dan beberapa negara ASEAN, termasuk Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei Darussalam, sehingga penyelesaiannya memerlukan pendekatan yang hati-hati dan penuh kebijaksanaan.
Rangkaian pertemuan di Manila pada 21-24 Juli ini juga dihadiri oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Luar Negeri China Wang Yi, dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Kehadiran para diplomat top dunia ini menunjukkan bahwa ASEAN masih menjadi forum yang relevan bagi dialog antar negara-negara besar di tengah persaingan geopolitik yang semakin ketat. ASEAN resmi menyetujui Türkiye sebagai mitra dialog ke-12, sebuah langkah yang memperluas jangkauan kerja sama ASEAN ke luar kawasan Asia Tenggara dan memperkuat posisi ASEAN di panggung global. Blok ini juga terus mendukung penguatan integrasi Timor Leste ke dalam ASEAN, sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan komunitas ASEAN yang inklusif dan mencakup seluruh negara di Asia Tenggara.
Di tengah perpecahan global yang semakin dalam, Menlu Filipina menekankan pentingnya persatuan ASEAN. Dalam lanskap global yang terfragmentasi, tidak ada satu negara pun yang dapat melewati badai ini sendirian. Kekuatan dan ketahanan mereka terletak pada komunitas ASEAN yang telah terbukti mampu bertahan dan berkembang selama lebih dari lima dekade. KTT ASEAN ke-59 di Manila diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan-kesepakatan konkret yang dapat memperkuat kerja sama regional dan menjaga stabilitas kawasan di tengah berbagai tantangan yang semakin kompleks. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus berdialog, ASEAN optimis dapat menavigasi masa depan yang penuh ketidakpastian ini bersama-sama, menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai, stabil, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya.
