Trump Ancam Iran Akan Bayar Berkali-kali Lipat usai Tiga Tentara AS Tewas, Harga Minyak Melonjak
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras kepada Iran menyusul kematian tiga personel militer AS dalam serangan pada akhir pekan. Trump menegaskan bahwa Iran akan membayar “berkali-kali lipat” setiap kali menewaskan seorang tentara Amerika, dengan perintah tersebut telah disampaikan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Daniel Caine. Ancaman ini muncul saat AS melancarkan serangan malam ke-9 berturut-turut terhadap Iran, yang disebut dilakukan untuk menghormati tiga tentara yang gugur.
Tiga tentara AS tewas dalam dua serangan terpisah selama akhir pekan. Dua personel tewas dalam serangan Iran di Yordania pada Jumat, sementara satu tentara lainnya tewas di Irak utara pada Sabtu. Dengan korban tambahan ini, jumlah total tentara AS yang tewas sejak perang dengan Iran dimulai pada Februari meningkat menjadi 17 orang. Sekitar 430 tentara AS juga telah terluka dalam konflik tersebut.
Trump menyampaikan ancaman melalui platform Truth Social pada Senin (20/7). “Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan membayar untuk pembunuhan itu berkali-kali lipat,” tulis Trump. Ia menambahkan bahwa arahan tersebut telah disampaikan kepada Menteri Pertahanan dan seluruh pemimpin militer. Joe Kent, yang menjabat sebagai kepala Pusat Kontraterorisme Nasional hingga Maret, memperingatkan bahwa baku tembak antara pasukan AS dan Iran berisiko menyebabkan eskalasi lebih besar dan menyerukan penarikan pasukan AS sebelum terjadi serangan massal.
Serangan AS terus berlanjut dengan malam ke-9 yang menargetkan pusat komando militer, sistem pertahanan udara, dan lokasi rudal di Iran, termasuk kota Tabriz, Chabahar, Konarak, dan Bandar Imam Khomeini. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah menyerang situs di Bahrain dan Suriah, serta menargetkan pesawat AS di Yordania. IRGC juga menyatakan bahwa Selat Hormuz “tidak akan aman untuk transit produk petrokimia” selama serangan AS berlanjut dan akan merespons dengan “operasi penghukuman”. Presiden Iran Masoud Pezeshkian kemudian mengatakan bahwa Iran sedang berperang “skala penuh” dengan AS. Meskipun terjadi eskalasi, kedua belah pihak masih saling bertukar pesan diplomatik melalui perantara.
Harga minyak dunia melonjak tajam sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Pada Kamis (23/7), harga minyak mentah Brent naik 4 persen menjadi US$97,87 per barel, level tertinggi sejak 3 Juni. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik 3,2 persen ke US$89,63 per barel. Ancaman terhadap Selat Hormuz dan eskalasi konflik telah mendorong para pedagang memperhitungkan risiko gangguan pasokan yang semakin tinggi. Kelompok Houthi yang didukung Iran juga membuka front baru dengan menyerang kapal tanker minyak Saudi di Selat Bab el-Mandeb dan berupaya memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Goldman Sachs memperkirakan bahwa aliran minyak melalui Selat Bab el-Mandeb rata-rata mencapai hampir 9 juta barel per hari selama sebulan terakhir.
Konflik yang semakin memanas ini mengancam pasokan energi global melalui dua jalur pelayaran utama, Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali Iran menembaki kapal di Selat Hormuz. Dengan kedua chokepoint utama yang terancam dan eskalasi yang terus berlanjut, pasar minyak dunia menghadapi ketidakpastian pasokan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Analis memperingatkan bahwa harga minyak dapat melonjak lebih tinggi lagi jika konflik meluas atau jalur ekspor utama semakin terganggu, sebuah skenario yang akan berdampak luas pada perekonomian global dan negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.
