Houthi Umumkan Blokade Laut terhadap Arab Saudi, Buka Front Baru dan Ancam Pasokan Minyak Global
Kelompok Houthi yang didukung Iran secara resmi mengumumkan pemberlakuan blokade maritim terhadap Arab Saudi pada Senin (20/7). Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa langkah ini diambil berdasarkan prinsip “mata dibayar mata” sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai “pengepungan yang tidak adil dan represif” yang dilakukan Arab Saudi terhadap Yaman selama hampir 12 tahun. Pengumuman ini berpotensi membuka front baru dalam konflik regional yang sedang memanas antara AS dan Iran, serta mengancam stabilitas pasokan energi global.
Blokade tersebut berpusat di Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit di ujung selatan Semenanjung Arab yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Selat ini merupakan jalur pelayaran strategis bagi ekspor minyak Arab Saudi, terutama mengingat Selat Hormuz yang nyaris lumpuh total akibat konflik. Houthi menyatakan tidak akan mengizinkan kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi untuk beroperasi melalui Selat Bab el-Mandeb dan melarang setiap kapal memuat atau membongkar muatan di pelabuhan-pelabuhan Saudi.
Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman merespons dengan menyatakan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kapal-kapal komersialnya di Selat Bab al-Mandab dan merespons secara tegas setiap ancaman. Juru bicara koalisi Turki Al-Malki menepis larangan maritim Houthi sebagai “kekeliruan logika dan bentuk eskalasi”, sementara Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam tudingan Houthi dan menyatakan akan mengambil “segala langkah yang diperlukan” untuk melindungi kapal-kapalnya.
Pada Kamis (23/7), Houthi mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi, Encelia dan Layla, di Laut Merah. Kapal Encelia dilaporkan terkena serangan sekitar 70 mil laut di barat daya Al Shuqaiq dan mengalami kebakaran di bagian haluan, namun seluruh awak kapal dipastikan selamat. Klaim serangan terhadap kapal Layla hingga kini belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Dampak ancaman ini mulai terlihat nyata di jalur pelayaran. Lima kapal tanker mengubah rute untuk menghindari Selat Bab el-Mandeb pada Rabu (22/7), sementara tiga kapal tanker bermuatan minyak Saudi tujuan China dan India berbalik arah sehari sebelumnya. Jika Selat Bab el-Mandeb benar-benar diblokade, sekitar 7 persen pasokan minyak global berpotensi terganggu karena sebagian besar ekspor minyak Saudi tidak dapat meninggalkan kawasan. Angka ini akan menambah perkiraan penurunan 10 persen aliran minyak global akibat konflik di Teluk.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan keprihatinan mendalam atas ancaman baru ini dan menyerukan deeskalasi segera. Juru bicara Sekjen PBB memperingatkan bahwa blokade di Laut Merah akan memengaruhi arus pengiriman logistik PBB dan menghadirkan dampak negatif terhadap perdagangan global serta perdagangan energi. Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg tengah melakukan pembicaraan di Oman dan Arab Saudi untuk mencegah Yaman terseret dalam eskalasi regional yang lebih luas.
Ancaman blokade Houthi juga berpotensi memperluas perang sekaligus menambah beban operasi militer AS di kawasan. Para pejabat AS menilai langkah ini bisa menghentikan ekspor minyak Arab Saudi dan memutus tambahan 7 persen pasokan minyak dunia. Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa gangguan di jalur pelayaran vital itu bisa menyeret AS turun tangan, meskipun menaklukkan Houthi tidak akan mudah karena kelompok itu dikenal tangguh dan berhasil bertahan dari kampanye pengeboman sebelumnya. Dengan dua front aktif di Teluk dan Laut Merah, militer AS terpaksa membagi kekuatannya di kawasan tersebut.
