AS Kirim Jet Tempur F-16 dan F-35 ke Timur Tengah, Tanda Kemungkinan Eskalasi Konflik dengan Iran
Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan kembali pesawat tempur siluman F-35 generasi kelima dan pesawat tempur F-16 dari Eropa ke kawasan tersebut. Langkah ini diambil untuk memberikan Presiden Donald Trump lebih banyak opsi dalam memperluas kampanye militer terhadap Iran di tengah memanasnya konflik setelah gencatan senjata antara kedua negara runtuh pada 8 Juli.
Pengerahan ini melibatkan F-16 Fighting Falcon dari Skuadron Tempur ke-480 yang berpangkalan di Spangdahlem, Jerman, serta F-35 Lightning II dari Sayap Tempur ke-48 yang berbasis di RAF Lakenheath, Inggris. Selain itu, pesawat tanker pengisian bahan bakar juga dikerahkan untuk mendukung operasi udara. Pesawat-pesawat tempur dari ketiga sayap tempur Angkatan Udara AS di Eropa dikerahkan dalam waktu kurang dari sepekan. Pengamat memperkirakan jet-jet tempur tersebut kemungkinan akan ditempatkan di pangkalan di Yordania dan Israel.
Selain pesawat tempur, AS juga mengerahkan pasukan operasi khusus, skuadron tambahan, dan pesawat pengebom B-1 yang ditempatkan di Inggris dalam status siap tempur. Lebih dari 150 dokter dikirim ke fasilitas medis militer di Landstuhl, Jerman, pusat perawatan bagi prajurit AS yang terluka dalam operasi militer di Timur Tengah. Di tengah eskalasi ini, Komando Pusat AS (CENTCOM) telah menyelesaikan 11 malam berturut-turut serangan terhadap Iran, menyasar pusat operasi militer, hangar pesawat, dan infrastruktur logistik.
Pengerahan ini terjadi setelah AS dan Iran menandatangani memorandum pada 18 Juni yang mengatur penghentian konflik, namun sejak 8 Juli AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Trump kemudian menyatakan gencatan senjata tidak lagi berlaku. Ketegangan semakin meningkat dengan serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Mantan komandan CENTCOM, Jenderal Joseph Votel, menyatakan bahwa pengerahan ini tidak serta-merta berarti operasi militer besar tak terhindarkan, melainkan lebih untuk memberi keluwesan maksimal bagi presiden dan menteri pertahanan dalam menentukan opsi. Peningkatan kekuatan AS terjadi di tengah ancaman baru dari kelompok Houthi yang mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, membuka potensi front baru yang dapat memperluas konflik. Dengan pengerahan jet tempur F-16 dan F-35 serta penguatan kekuatan di seluruh kawasan, AS menunjukkan kesiapan untuk merespons setiap eskalasi lebih lanjut dari Iran maupun sekutunya.
