BEM UI Gelar Aksi #MerebutKemerdekaan, Bawa 8 Tuntutan untuk Prabowo-Gibran
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (18/8), sehari setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Aksi bertajuk #MerebutKemerdekaan ini membawa delapan tuntutan utama yang menyoroti berbagai persoalan kebangsaan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Koordinator Aksi BEM UI, Ridho, menjelaskan bahwa konsolidasi massa melibatkan unsur internal kampus dan jaringan luar, terdiri atas pengurus BEM UI, 15 BEM fakultas di lingkungan Universitas Indonesia, serta 25 lembaga mahasiswa dari luar kampus. “Kami bergerak bersama dari Depok,” ujarnya.
Ketua BEM UI Yatalathof Mashum Imawan menegaskan bahwa aksi ini bukan wadah untuk merayakan seremoni kenegaraan, melainkan bentuk gugatan atas kondisi riil Indonesia setelah 81 tahun merdeka. “Hari ini, sehari setelah seremoni kenegaraan itu digelar, kami turun ke jalan bukan untuk merayakan, tapi untuk bertanya dengan lantang: kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan?” ujarnya.
BEM UI menyoroti delapan isu utama, antara lain penolakan terhadap kriminalisasi aktivis, penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku korupsi, evaluasi terhadap kebijakan ekonomi yang dinilai belum berpihak pada rakyat, serta penghentian penggusuran dan kriminalisasi terhadap masyarakat adat dan petani. Mereka juga menuntut pengawasan yang lebih ketat terhadap perjanjian dagang bilateral yang dianggap merugikan kepentingan nasional.
BEM UI menilai persoalan struktural di Indonesia telah bergeser menjadi krisis kedaulatan, di mana kedaulatan diklaim digadaikan lewat perjanjian dagang yang tunduk pada kepentingan asing, sementara di dalam negeri suara rakyat dibungkam. Aksi ini menjadi sorotan publik dan menunjukkan adanya aspirasi dari elemen mahasiswa yang menginginkan perubahan dan perbaikan tata kelola pemerintahan.
Pemerintah dan aparat keamanan diharapkan dapat menanggapi aspirasi ini secara bijak dan konstruktif. Dialog yang terbuka antara pemerintah dan elemen mahasiswa sangat penting untuk menjembatani perbedaan pandangan dan menemukan solusi bersama dalam membangun Indonesia yang lebih baik. Sinergi antara pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat sipil menjadi kunci untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat.
