Kasus Ebola di Kongo Tembus 5.000, WHO Peringatkan Wabah Belum Terkendali
Jumlah kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo (KDR) telah melampaui angka 5.000, menjadikannya wabah terbesar kedua dalam sejarah dan yang paling mematikan di negara tersebut . Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah ini masih jauh dari terkendali .
Hingga 15-17 Agustus 2026, data dari pemerintah KDR mencatat 5.021 kasus terkonfirmasi dan 2.378 kematian di 55 zona kesehatan di enam provinsi, dengan tingkat kematian mencapai 47,4 persen . Wabah ini telah melampaui wabah Ebola 2018-2020 yang menewaskan 2.299 orang di negara yang sama .
Wabah yang disebabkan oleh strain Bundibugyo ini menyebar lebih cepat dari semua wabah Ebola sebelumnya . Selama 95 hari pertama pelaporan, rata-rata kasus harian mencapai lebih dari 90 kasus, jauh lebih tinggi dibandingkan wabah besar di Afrika Barat 2014-2016 pada tahap yang sama . Menurut Africa CDC, wabah ini membunuh satu orang setiap 30 menit dan berisiko menjadi wabah Ebola paling mematikan yang pernah tercatat secara global jika tidak segera dibalik arahnya .
Tantangan Penanganan
Penanganan wabah menghadapi berbagai tantangan berat:
- Belum Ada Vaksin atau Pengobatan Khusus: Strain Bundibugyo berbeda dari strain Zaire yang memiliki vaksin Ervebo. Hingga saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk strain ini . Uji coba dua vaksin eksperimental telah memasuki tahap uji pada manusia, dan WHO serta pemerintah KDR sedang mengkaji kemungkinan penggunaan vaksin Ervebo secara “compassionate” untuk melindungi tenaga kesehatan .
- Tingkat Kematian Tinggi di Komunitas: Banyak pasien meninggal di rumah atau komunitas, bukan di fasilitas kesehatan. Hal ini menunjukkan adanya rantai penularan yang belum terdeteksi dan mempersulit upaya pelacakan kontak .
- Konflik dan Misinformasi: Wilayah timur KDR masih dilanda konflik, yang menghambat akses tim medis ke daerah terpencil. Selain itu, misinformasi dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan turut memperburuk upaya penanggulangan .
- Risiko Penyebaran Lintas Batas: WHO memperingatkan risiko penyebaran ke negara-negara tetangga seperti Uganda, Sudan Selatan, dan Republik Afrika Tengah masih sangat tinggi .
Wilayah Terdampak
Provinsi Ituri di timur laut tetap menjadi episentrum wabah, mencakup 84,8 persen dari kasus kumulatif . Namun, infeksi semakin cepat di provinsi-provinsi tetangga seperti Kivu Utara, Kivu Selatan, Tshopo, Haut-Uélé, dan Bas-Uélé . Otoritas kesehatan telah meningkatkan pemeriksaan di sepanjang jalur sungai menuju Kinshasa, ibu kota negara, untuk mencegah penyebaran lebih lanjut .
