Agustus 24, 2026

Kasus Ebola di Kongo Tembus 5.000, WHO Peringatkan Wabah Belum Terkendali

IMG-20260820-WA0005

Jumlah kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo (KDR) telah melampaui angka 5.000, menjadikannya wabah terbesar kedua dalam sejarah dan yang paling mematikan di negara tersebut . Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah ini masih jauh dari terkendali .

Hingga 15-17 Agustus 2026, data dari pemerintah KDR mencatat 5.021 kasus terkonfirmasi dan 2.378 kematian di 55 zona kesehatan di enam provinsi, dengan tingkat kematian mencapai 47,4 persen . Wabah ini telah melampaui wabah Ebola 2018-2020 yang menewaskan 2.299 orang di negara yang sama .

Wabah yang disebabkan oleh strain Bundibugyo ini menyebar lebih cepat dari semua wabah Ebola sebelumnya . Selama 95 hari pertama pelaporan, rata-rata kasus harian mencapai lebih dari 90 kasus, jauh lebih tinggi dibandingkan wabah besar di Afrika Barat 2014-2016 pada tahap yang sama . Menurut Africa CDC, wabah ini membunuh satu orang setiap 30 menit dan berisiko menjadi wabah Ebola paling mematikan yang pernah tercatat secara global jika tidak segera dibalik arahnya .

Tantangan Penanganan

Penanganan wabah menghadapi berbagai tantangan berat:

  1. Belum Ada Vaksin atau Pengobatan Khusus: Strain Bundibugyo berbeda dari strain Zaire yang memiliki vaksin Ervebo. Hingga saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk strain ini . Uji coba dua vaksin eksperimental telah memasuki tahap uji pada manusia, dan WHO serta pemerintah KDR sedang mengkaji kemungkinan penggunaan vaksin Ervebo secara “compassionate” untuk melindungi tenaga kesehatan .
  2. Tingkat Kematian Tinggi di Komunitas: Banyak pasien meninggal di rumah atau komunitas, bukan di fasilitas kesehatan. Hal ini menunjukkan adanya rantai penularan yang belum terdeteksi dan mempersulit upaya pelacakan kontak .
  3. Konflik dan Misinformasi: Wilayah timur KDR masih dilanda konflik, yang menghambat akses tim medis ke daerah terpencil. Selain itu, misinformasi dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan turut memperburuk upaya penanggulangan .
  4. Risiko Penyebaran Lintas Batas: WHO memperingatkan risiko penyebaran ke negara-negara tetangga seperti Uganda, Sudan Selatan, dan Republik Afrika Tengah masih sangat tinggi .

Wilayah Terdampak

Provinsi Ituri di timur laut tetap menjadi episentrum wabah, mencakup 84,8 persen dari kasus kumulatif . Namun, infeksi semakin cepat di provinsi-provinsi tetangga seperti Kivu Utara, Kivu Selatan, Tshopo, Haut-Uélé, dan Bas-Uélé . Otoritas kesehatan telah meningkatkan pemeriksaan di sepanjang jalur sungai menuju Kinshasa, ibu kota negara, untuk mencegah penyebaran lebih lanjut .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *