Mei 25, 2026

DENMARK DAN TUJUH NEGARA EROPA KIRIM PASUKAN KE GREENLAND, KESEPAKATAN DAGANG EU-AS TERANCAM GAGAL

5aed5f7c001b941a731f3fa3f3fb5992

Ininih.com — Delapan negara Eropa — Denmark, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, Swedia, Finlandia, dan Norwegia — mengerahkan pasukan militer ke Greenland dalam misi yang disebut Arctic Endurance, setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan memberlakukan tarif yang terus meningkat sampai AS diizinkan “membeli” wilayah otonomi Denmark itu. Kedelapan negara yang sama mengeluarkan pernyataan bersama menyebut ancaman itu sebagai “pemerasan” yang berisiko memicu spiral penurunan berbahaya dalam hubungan transatlantik. Di meja perundingan, kesepakatan dagang EU-AS yang dicapai Juli 2025 kini terancam gagal diratifikasi sebelum tenggat ultimatum Trump pada 4 Juli 2026.

Dari Bahan Peledak di Landasan Pacu hingga Pasukan di Lapangan

Ketegangan ini jauh lebih dalam dari sekadar perang kata-kata diplomatik. Pada Januari 2026, setelah AS menyerang Venezuela dan Trump memperbarui ancaman terhadap Greenland, Denmark secara diam-diam membawa bahan peledak ke Greenland — disiapkan untuk menghancurkan landasan pacu bandara di Nuuk dan Kangerlussuaq jika AS nekat melancarkan invasi. Persediaan darah dari bank darah Denmark ikut dikirim untuk mengantisipasi korban. Fakta ini baru terungkap dari laporan yang mengutip sumber resmi Prancis, Jerman, dan Denmark.

Kini, respons Eropa bergeser dari persiapan defensif rahasia menjadi kehadiran militer terbuka. Dua pesawat angkut tentara Denmark mendarat di Greenland pada 30 April. Prancis mengirim pasukan pertama yang akan diperkuat aset darat, udara, dan maritim. Jerman mengirim 13 tentara — angka simbolis, tetapi bermakna politik. Tujuannya bukan konfrontasi langsung dengan Washington, melainkan menciptakan situasi di mana Trump harus memerintahkan penembakan terhadap sesama anggota NATO — sebuah perintah yang akan memecah Kongres dan menghancurkan legitimasi aliansi secara permanen.

Tenggat 4 Juli dan Titik Tidak Bisa Kembali

Di luar arena militer, krisis Greenland telah meracuni negosiasi dagang transatlantik yang sebelumnya menjadi salah satu pencapaian diplomatik paling signifikan tahun lalu. Di bawah kesepakatan Juli 2025, AS memberlakukan tarif 15 persen pada sebagian besar barang EU, sementara EU menangguhkan tarif pada produk industri AS. Trump kini memberi ultimatum kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen: implementasikan kesepakatan sebelum 4 Juli 2026, atau hadapi tarif yang lebih tinggi.

Masalahnya, Parlemen Eropa — yang harus meratifikasi kesepakatan itu — kemungkinan akan menangguhkan prosesnya. Ketua negosiator Parlemen Eropa Bernd Lange menegaskan bahwa hukum Eropa tidak boleh didikte oleh postingan media sosial yang mengancam dari Washington. Putaran final negosiasi dijadwalkan 19 Mei di Strasbourg, dengan sidang paripurna terakhir sebelum tenggat pada 15-18 Juni. Jika ratifikasi gagal, Trump memiliki justifikasi untuk menerapkan tarif baru — dan Prancis sudah mendorong aktivasi Anti-Coercion Instrument yang dapat membatasi akses perusahaan AS ke tender publik dan layanan digital Eropa.

NATO di Persimpangan Paling Berbahaya

Para analis dari Jacques Delors Institute memetakan tiga skenario: “Arctic Munich” di mana Eropa tunduk dan kehilangan kedaulatan de facto, “Line of Deterrence” di mana kehadiran militer Eropa berhasil menahan Washington, dan “Suez Moment” di mana konfrontasi terbuka menghancurkan NATO tetapi juga membakar reputasi AS secara permanen. Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen, yang mengonfirmasi pada 12 Mei bahwa negosiasi masih berlangsung tanpa kesepakatan, menegaskan posisi yang tidak berubah: Greenland tidak dijual dan tidak akan menerima ancaman pengambilalihan.

Yang membuat krisis ini berbeda dari semua ketegangan transatlantik sebelumnya adalah preseden yang sedang dibentuk. Jika AS berhasil memaksakan kehendaknya atas Greenland — baik melalui tekanan ekonomi maupun militer — tidak ada lagi dasar hukum dan moral yang tersisa untuk mempertahankan argumen bahwa aliansi NATO dibangun di atas prinsip kedaulatan yang setara. Dan jika Eropa berhasil menahan tekanan itu, hasil yang sama membuktikan bahwa Washington bukan lagi pemimpin aliansi yang tak terbantahkan. Dari kedua arah, NATO yang muncul dari krisis Greenland ini tidak akan pernah kembali ke bentuknya sebelum Januari 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *