Jerman dan Belanda Dirikan Markas Korps di Sisi Timur NATO, Pimpin Pasukan Darat Estonia-Latvia
Jerman dan Belanda secara resmi mendirikan markas Korps 1 Jerman-Belanda (1 German-Netherlands Corps/1GNC) yang akan bertanggung jawab atas operasi darat di Estonia dan Latvia, mulai berlaku pada 1 Juli 2026 . Penyerahan komando ini ditandai dengan upacara di kota perbatasan Valga-Valka pada 30 Juni 2026, yang dihadiri oleh para menteri pertahanan dari Estonia, Latvia, Jerman, Belanda, serta pejabat senior NATO lainnya .
Struktur baru ini menandai langkah penting bagi NATO, karena aliansi kini memiliki markas korps taktis kedua di sisi timurnya. Sebelumnya, seluruh pasukan NATO di negara-negara Baltik dan Polandia utara berada di bawah satu komando, yaitu Korps Multinasional Timur Laut yang bermarkas di Szczecin, Polandia . Dengan pembagian tugas baru ini, Korps Multinasional Timur Laut akan memfokuskan kegiatannya pada Polandia dan Lithuania, termasuk mengamankan Koridor Suwalki, jalur darat sempit yang strategis antara wilayah Kaliningrad Rusia dan Belarus .
Dalam skenario pertahanan, Korps 1 Jerman-Belanda akan memimpin pasukan darat NATO dan nasional di Estonia dan Latvia, merencanakan latihan, menyusun rencana pertahanan regional, dan mengintegrasikan bala bantuan yang masuk . Korps ini akan mengkomandoi Divisi Estonia dan Divisi Multinasional Utara, yang bertanggung jawab atas perlindungan Latvia . Sementara itu, Brigade Lapis Baja 45 (Panzerbrigade 45) yang ditempatkan di Lithuania tetap berada di bawah komando Korps Multinasional Timur Laut . Tugas penting lainnya adalah memastikan hubungan erat dengan kekuatan nasional Estonia dan Latvia, yang tetap memegang kendali atas pasukan mereka sendiri .
Korps ini, yang dibentuk pada tahun 1995 dan bermarkas di Münster, Jerman, telah memiliki pengalaman operasional yang kaya, termasuk memimpin misi di Afghanistan (2003, 2009, 2013) dan tujuh kali menjadi bagian dari Pasukan Respons NATO dalam 20 tahun terakhir . Saat ini, korps ini terdiri dari personel dari 14 negara mitra NATO dan mampu mengkoordinasikan operasi hingga 50.000 tentara .
Langkah ini merupakan bagian dari Model Kekuatan NATO yang baru, yang bertujuan untuk mempertahankan lebih banyak pasukan pada tingkat kesiapan yang lebih tinggi dan merespons potensi ancaman dengan lebih cepat . Hal ini juga terjadi di tengah tekanan yang meningkat terhadap negara-negara Eropa untuk memperkuat kemampuan pertahanan mereka . Ke depan, efektivitas markas baru ini akan sangat bergantung pada integrasi cepat pasukan tambahan ke dalam struktur komando, serta kemampuan untuk melaksanakan latihan gabungan guna memastikan kesiapan tempur yang optimal di kawasan Baltik yang secara strategis rentan.
