Kabinet Trump Ditinggal Empat Pejabat dalam Tiga Bulan, Siapa Berikutnya?
Kabinet Trump ditinggal empat pejabat perempuan senior dalam waktu kurang dari tiga bulan — sebuah pergantian yang belum pernah terjadi dalam skala ini di periode kedua Trump, dan yang kini memunculkan pertanyaan terbuka tentang stabilitas internal Gedung Putih di tengah tekanan perang Iran.
Noem: Yang Pertama Pergi
Kristi Noem adalah yang pertama. Menteri Keamanan Dalam Negeri itu dicopot Trump pada 5 Maret 2026, menjadi anggota kabinet pertama yang disingkirkan di periode kedua Trump. Noem adalah wajah utama agenda deportasi massal pemerintahan Trump — sebuah kebijakan yang kerap memicu kontroversi. Trump mengambil keputusan itu setelah merasa tidak puas dengan kesaksian Noem di Kongres, yang dianggap tidak sejalan dengan posisi Gedung Putih. Jabatannya diambil alih oleh pejabat sementara sementara pencarian pengganti tetap berlangsung.
Bondi: Dipecat di Tengah Kekacauan Berkas Epstein
Kurang dari sebulan setelah Noem, giliran Jaksa Agung Pam Bondi. Trump menyingkirkannya pada awal April, menempatkan Wakil Jaksa Agung Todd Blanche sebagai penjabat sementara. Alasan resmi tidak pernah diumumkan secara langsung, namun laporan dari dalam lingkaran Gedung Putih menyebut Trump semakin tidak puas dengan cara Departemen Kehakiman di bawah Bondi menangani berkas terkait Jeffrey Epstein — sebuah isu yang terus membakar kontroversi di kalangan pendukung Trump sendiri. Pemecatan itu diumumkan Trump melalui media sosial, jam-jam setelah laporan tentang posisi Bondi yang terancam pertama kali beredar.
Chavez-DeRemer: Skandal yang Tak Bisa Diselamatkan
Menteri Tenaga Kerja Lori Chavez-DeRemer menyusul pada 20 April. Sebelum pengunduran dirinya diumumkan, ia sudah menjadi subjek investigasi inspektur jenderal Departemen Tenaga Kerja atas sejumlah tuduhan pelanggaran profesional — termasuk penggunaan sumber daya pemerintah untuk perjalanan pribadi dan dugaan hubungan dengan anggota tim keamanannya. Gedung Putih awalnya bersikukuh bahwa Chavez-DeRemer dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick “melakukan pekerjaan luar biasa” dan “terus mendapat dukungan penuh Trump.” Namun pernyataan itu runtuh dalam hitungan hari. Wakil Menteri Tenaga Kerja Keith Sonderling mengambil alih jabatan dalam kapasitas penjabat.
Gabbard: Pamit dengan Alasan Pribadi

Yang terakhir dan yang paling mengejutkan adalah Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard. Ia mengumumkan pengunduran diri pada akhir Mei, dengan surat resmi kepada Trump yang menyebut suaminya, Abraham, baru saja didiagnosis dengan kanker tulang jenis langka. Pengunduran dirinya resmi berlaku per 30 Juni 2026. Gabbard menyatakan rasa terima kasih yang dalam kepada Trump atas kepercayaan yang diberikan kepadanya selama setahun setengah memimpin komunitas intelijen AS.
Namun konteks yang lebih luas dari kepergiannya tidak bisa diabaikan. Sebelumnya, Gabbard sempat menjadi sorotan karena posisi komunitas intelijen yang menyebut Iran tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap AS — sebuah penilaian yang berbenturan langsung dengan narasi perang yang sedang dibangun Trump. Gedung Putih sempat keras membantah laporan bahwa Trump mempertimbangkan menyingkirkan Gabbard, dengan Direktur Komunikasi Gedung Putih menyebutnya sebagai “berita palsu total.” Namun Gabbard tetap pergi.
Siapa Berikutnya?
Keempat kepergian ini meninggalkan satu pertanyaan yang semakin keras dibicarakan di Washington: siapa yang berikutnya? Menteri Perdagangan Howard Lutnick disebut dalam beberapa laporan sebagai pejabat yang menghadapi tekanan — dengan tuduhan bahwa ia kerap menjalankan negosiasi dan kebijakan tanpa koordinasi yang memadai dengan Gedung Putih. Direktur FBI Kash Patel juga masuk dalam spekulasi, meski keduanya masih bertahan. Seorang sumber dalam orbit politik Trump merangkumnya dengan singkat: “Presiden sedang membentuk ulang timnya, dan pesannya jelas — loyalitas diharapkan, tapi performa adalah keharusan.”
Trump sendiri menepis spekulasi tentang reshuffle besar-besaran. Dalam sebuah wawancara singkat, ia menyebut laporan soal pergantian kabinet tidak perlu ditafsirkan berlebihan, dan menyatakan negara sedang berada di jalur yang benar. Namun fakta di lapangan berbicara berbeda: dalam waktu 90 hari, empat pejabat perempuan senior meninggalkan kabinet — lebih dari separuh representasi perempuan yang pernah ada di susunan awal. Bagi administrasi yang sedang menghadapi perang Iran, tekanan ekonomi, dan persiapan menjelang pemilu tengah periode, pergolakan internal ini datang di waktu yang paling tidak menguntungkan.
Internal link:
- “biaya perang Iran AS bengkak” — /konflik-dunia/biaya-perang-iran-as-bengkak/
- “ultimatum Trump Iran 48 jam” — /konflik-dunia/ultimatum-trump-iran-48-jam-2026/
- “gencatan senjata AS-Iran rapuh” — /konflik-dunia/gencatan-senjata-as-iran-rapuh-2026/
- “Trump Merz pasukan AS Jerman” — /geopolitik/pasukan-as-jerman-dikurangi/
- “inflasi AS April 2026” — /ekonomi-global/inflasi-as-april-2026-the-fed-suku-bunga/
