Lula Murka AS Tetapkan Geng Brasil Teroris: “Kami Bukan Republik Pisang”
Lula murka AS tetapkan geng Brasil teroris dalam sebuah pernyataan keras 435 kata yang ia unggah di media sosial — menyebut keputusan Washington sebagai tindakan sewenang-wenang yang mengancam kedaulatan Brasil sekaligus intervensi terselubung dalam pemilu presiden Oktober mendatang.
Apa yang AS Lakukan
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 28 Mei mengumumkan penetapan dua kelompok kriminal terbesar Brasil — Primeiro Comando da Capital (PCC) dan Comando Vermelho (CV) — sebagai “specially designated global terrorists.” Keduanya akan resmi berstatus Foreign Terrorist Organizations mulai 5 Juni 2026. Menurut Departemen Luar Negeri AS, FBI melaporkan PCC dan CV memiliki sel di 12 negara bagian AS, terutama di Massachusetts, New Jersey, New York, Florida, Connecticut, dan Tennessee. Keduanya dituduh menyelundupkan senjata, narkoba, dan melakukan pencucian uang melalui jaringan warga Brasil yang bepergian ke AS.
Yang membuat keputusan ini lebih rumit dari sekadar kebijakan keamanan adalah konteks di baliknya. Pengumuman Rubio datang sehari setelah Senator Flávio Bolsonaro — putra mantan Presiden Jair Bolsonaro dan rival utama Lula dalam pemilu Oktober — mengunjungi Gedung Putih. Kepada wartawan usai pertemuan itu, Flávio Bolsonaro mengonfirmasi bahwa ia secara aktif meminta Trump untuk menetapkan PCC dan CV sebagai organisasi teroris. Trump memiliki hubungan dekat dengan keluarga Bolsonaro dan sudah berulang kali mengintervensi politik Brasil demi kepentingan mereka.
Kemarahan Lula dan Argumennya
Dalam pernyataannya dari Sergipe, Lula tidak menyembunyikan kemarahannya. “Kami tidak akan menerima diperlakukan seperti anak-anak. Kami tidak akan menerima diperlakukan seolah-olah kami adalah republik kecil yang tidak berarti,” katanya. “Kedaulatan nasional tidak bisa dinegosiasikan.”
Lula membuat pembedaan yang menarik dalam argumennya. Ia tidak membantah bahwa PCC dan CV adalah ancaman nyata. “Teror yang ditimpakan organisasi-organisasi ini kepada komunitas bertujuan menghasilkan keuntungan melalui kejahatan — khususnya perdagangan narkoba dan senjata,” tulisnya. Namun ia menegaskan perbedaan fundamental: geng-geng itu adalah penjahat kriminal lokal, bukan kelompok teroris berideologi politik seperti yang selama ini menjadi target undang-undang antiterorisme internasional. “Trump ingin Osama Bin Laden — bukan penjahat jenis ini,” katanya.
Lula secara terang-terangan menuduh Flávio Bolsonaro “memanfaatkan koneksi keluarganya untuk meminta bantuan otoritas asing” — sebuah tuduhan intervensi pemilu yang langsung menaikkan suhu politik dalam negeri Brasil.
Kekhawatiran Praktis Pemerintah Brasil
Di luar retorika, ada kekhawatiran konkret di dalam pemerintahan Lula. Menteri Kehakiman Ricardo Lewandowski sudah sebelumnya menolak permintaan AS untuk mengklasifikasikan kedua geng sebagai teroris di dalam hukum Brasil, dengan alasan keduanya tidak memenuhi definisi hukum terorisme di negara itu. Pejabat Lula juga mengkhawatirkan bahwa designasi AS akan meningkatkan tekanan terhadap bank dan bisnis Brasil yang secara tidak sengaja melakukan transaksi yang terkait dengan jaringan kedua geng — sebuah risiko sanksi sekunder yang bisa mengganggu sistem keuangan Brasil.
Dari sisi AS, FBI melaporkan 113 orang ditolak visa masuk AS pada 2024 saja karena terkait kejahatan terorganisir Brasil, dan pada Maret lalu jaksa federal AS mendakwa 18 warga Brasil atas perdagangan senjata ilegal dengan keterkaitan ke PCC.
Bolsonaro Rayakan, Brasil Terbelah
Kontras dengan murka Lula, Flávio Bolsonaro merayakan pengumuman itu di media sosial dengan singkat: “Hari yang besar.” Ia saat ini bersaing ketat dengan Lula menjelang pemilu Oktober — dan keputusan Trump ini menempatkan persaingan itu langsung di tengah hubungan bilateral Brasil-AS.
Pertarungan ini bukan hanya soal PCC dan CV. Ini adalah pertarungan tentang seberapa jauh Washington bisa menggunakan instrumen kebijakan luar negerinya — designasi teroris, tarif, kunjungan prestisius ke Gedung Putih — untuk membentuk hasil pemilu di negara demokrasi terbesar Amerika Latin. Lula sudah memberi jawabannya. Yang belum jelas adalah apakah pemilih Brasil pada Oktober nanti akan melihatnya sebagai pembelaan kedaulatan atau sebagai kelemahan dalam menghadapi ancaman kriminal nyata yang sudah lama mengancam kehidupan mereka sehari-hari.
Internal link:
- “kabinet Trump ditinggal empat pejabat” — /geopolitik/kabinet-trump-ditinggal-empat-pejabat/
- “nama Trump dihapus Kennedy Center” — /geopolitik/nama-trump-dihapus-kennedy-center/
- “Trump sebut Paus Leo lemah” — /konflik-dunia/trump-sebut-paus-leo-lemah/
- “pasukan AS Jerman dikurangi” — /geopolitik/pasukan-as-jerman-dikurangi/
- “Trump Xi summit Beijing perdagangan” — /geopolitik/trump-xi-summit-beijing-iran-taiwan-perdagangan-2026/
