Musim Eropa Atalanta Dimulai Hari Ini: Dea yang Tak Pernah Padam
Petualangan Eropa Atalanta musim ini resmi dimulai malam ini. La Dea akan memulai langkahnya di ajang UEFA Conference League 2026/27, menghadapi Hapoel Tel Aviv dalam leg pertama play-off di Bergamo.
Ini bukan sekadar awal musim, tapi awal dari babak baru bagi klub yang telah mengubah DNA sepak bola Italia. Setelah dua musim beruntun di Liga Champions, termasuk menjadi wakil Italia terakhir yang bertahan di kompetisi elit Eropa musim lalu, Atalanta kini memulai lagi dari bawah. Tapi bagi La Dea, turun ke level ini bukanlah kemunduran—melainkan kelanjutan dari sebuah perjalanan luar biasa yang telah berlangsung selama satu dekade penuh.
Sejak kembali ke Eropa pada 2017/18, Atalanta telah tampil di kompetisi benua sembilan kali dalam sepuluh musim terakhir. Mereka telah menjelajahi semua medan: lima edisi Liga Champions, lima di Europa League dan Coppa UEFA, dua di Piala Winners, dan kini untuk pertama kalinya Conference League. Tidak ada yang bisa meramalkan hal ini ketika Gasperini mengambil alih tim yang nyaris terdegradasi.
Musim lalu memang berat. Musim pertama tanpa Gasperini sejak 2016 terbukti menjadi ujian yang lebih keras dari perkiraan. Di bawah Raffaele Palladino—setelah Ivan Juric dipecat—Atalanta hanya finis di peringkat ketujuh. Tapi di sinilah mentalitas underdog sesungguhnya teruji: dari keterpurukan, mereka justru mengamankan tiket Eropa.
Kini, babak baru dimulai dengan pelatih baru yang membawa filosofi berbeda. Maurizio Sarri, pelatih berpengalaman yang telah memenangkan Scudetto bersama Juventus dan membawa Napoli ke puncak persaingan, kini memegang kendali. Perubahan terbesar? Sarri membawa formasi 4-3-3, sebuah revolusi taktis yang belum pernah dilihat Bergamo dalam sepuluh tahun terakhir.
“Kami baru memulai perjalanan baru, dan kami masih tim yang sedang dalam pembangunan,” ujar Sarri menjelang debut Eropanya. “Tim ini tampak terus berkembang di laga-laga terakhir, tapi saya harap ini bukan puncaknya karena saya masih mengharapkan pertumbuhan lebih lanjut dalam beberapa pekan ke depan.”
Di tengah transisi, ada satu pilar yang tetap kokoh: Ederson. Gelandang Brasil yang nyaris hengkang ke Manchester United kini menjadi kapten baru dan menjadi pusat permainan Sarri. Bersama Carnesecchi di bawah mistar, Scalvini dan Kossounou di lini belakang, serta Krstovic dan Raspadori di depan, Atalanta memiliki inti skuad yang solid.
Malam ini, semua itu akan diuji. Hapoel Tel Aviv adalah lawan yang dianggap lebih kuat dari perkiraan. Tapi Atalanta bukanlah tim yang asing dengan status underdog—mereka pernah menjadi kuda hitam terbesar di babak 16 besar Liga Champions melawan Borussia Dortmund, Bayern Munich, dan tim-tim raksasa lainnya.
Inilah yang membuat Atalanta begitu istimewa: mereka selalu dianggap remeh, tapi tak pernah berhenti membuktikan diri. Dari tim promosi yang nyaris terdegradasi, mereka tumbuh menjadi kekuatan Eropa yang diperhitungkan. Mereka kehilangan pelatih legendaris, menjual pemain-pemain bintang, dan tetap bertahan di papan atas sepak bola Italia.
Kini mereka ada di Conference League—kompetisi yang selalu membawa keberuntungan bagi klub Italia. Ini bukan tentang kompetisi, tapi tentang bagaimana mereka menjalaninya.
Forza Atalanta! Semoga beruntung, Dea!
