Juli 19, 2026

PLTN Pertama Indonesia Ditargetkan Beroperasi 2032, Kalbar dan Babel Jadi Lokasi Prioritas

IMG_20260719_110506

Indonesia saat ini mengoperasikan Reaktor Nuklir Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) di Serpong, Tangerang Selatan, yang merupakan reaktor riset terbesar di Asia Tenggara. Resmi beroperasi sejak 1987 dengan kapasitas 30 Megawatt, fasilitas ini merupakan reaktor riset berdaya 30 MW dengan fluks neutron tinggi pertama di dunia yang menggunakan bahan bakar uranium berpengayaan rendah. Reaktor ini digunakan untuk riset, produksi isotop, dan pengembangan teknologi nuklir, didampingi dua reaktor skala lebih kecil di Bandung dan Yogyakarta.

Kini, demi transisi energi bersih, pemerintah mulai mematangkan regulasi dan mengkaji wilayah Bangka Belitung serta Kalimantan Barat sebagai lokasi potensial PLTN komersial pertama di tanah air. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pembangunan PLTN akan berlangsung di kedua provinsi tersebut dengan kapasitas awal 500 megawatt. Pemerintah menargetkan keputusan lokasi pembangunan PLTN ditetapkan sekitar pertengahan tahun ini, dengan target operasional awal pada 2032 dan kapasitas mencapai sekitar 7 gigawatt pada 2040. Pembangunan proyek ditargetkan mulai pada 2027.

Untuk merealisasikan ambisi tersebut, Indonesia memperkuat kerja sama strategis dengan perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom. Fokus utamanya adalah menjajaki teknologi Small Modular Reactor (SMR) dan PLTN Terapung (Floating Nuclear Power Plant). Kedua teknologi inovatif ini dinilai sangat cocok untuk karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan karena mampu menyuplai listrik ke wilayah-wilayah terpencil yang sulit dijangkau infrastruktur konvensional. Rosatom menyebut Indonesia tertarik membangun armada PLTN terapung. Unit terapung pertama Indonesia dijadwalkan diluncurkan pada 2032-2033, dengan satu unit mampu menghasilkan 70 hingga 100 MW listrik.

Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari perjanjian antar pemerintah mengenai pemanfaatan energi atom untuk tujuan damai yang telah berlangsung selama 20 tahun, ditandatangani pada 1 Desember 2006. Rosatom siap menawarkan pendekatan komprehensif bagi Indonesia dalam mengembangkan program nuklir nasional, termasuk pelatihan personel dan transfer teknologi. Indonesia juga menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat dan Jepang melalui program FIRST untuk pengembangan SMR, serta terbuka bekerja sama dengan berbagai negara.

Melalui proyek besar yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan energi nasional ini, Indonesia ingin menjadi pionir pemanfaatan energi baru di kawasan ASEAN. Pemerintah menegaskan bahwa seluruh pengembangan teknologi mutakhir ini dilakukan murni untuk tujuan damai dan kesejahteraan masyarakat, bukan untuk persenjataan. BAPETEN menekankan bahwa pemanfaatan energi nuklir hanya dapat dilakukan apabila seluruh aspek keselamatan (safety), keamanan (security), dan garda-aman (safeguards) dipenuhi secara ketat dan konsisten. Indonesia telah memiliki kerangka regulasi nasional yang komprehensif untuk PLTN, mencakup seluruh tahapan mulai dari pra-studi, pemilihan dan persetujuan tapak, persetujuan desain, izin konstruksi, persetujuan komisioning, hingga izin operasi dan dekomisioning.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *