Pollard Peringatkan Perang Israel-Turki-Mesir
Perang Israel Turki Mesir diprediksi akan segera terjadi oleh Jonathan Pollard, mantan mata-mata Israel yang menghabiskan 30 tahun di penjara Amerika Serikat. Dalam sebuah podcast yang dirilis pekan ini, Pollard yang kini menjadi warga Israel menyatakan bahwa negaranya harus bersiap menghadapi konflik besar berikutnya melawan Turki dan Mesir.
“Badai akan datang,” ujar Pollard tegas. Pernyataan itu muncul di tengah memburuknya hubungan Israel dengan kedua negara pasca perang di Gaza yang telah berlangsung lebih dari dua setengah tahun. Pollard, yang dihukum pada 1987 karena menjual rahasia militer AS ke Israel, mengatakan bahwa perjanjian damai yang selama ini menjadi fondasi stabilitas regional tidak lagi dapat diandalkan.

Menurut Pollard, perang Gaza yang pecah pada Oktober 2023 hanyalah awal dari konflik regional yang lebih besar. Ia memprediksi bahwa pertempuran berikutnya tidak akan lagi terbatas di kantong-kantong Palestina, tetapi akan melibatkan pasukan reguler Turki dan Mesir secara langsung. Ia menilai dukungan Iran terhadap Hamas dan Hizbullah, serta sikap tegas Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan pemerintah Mesir, telah mengubah peta ancaman bagi Israel.
Hubungan Israel dengan Mesir memang sedang berada di titik terendah sejak perjanjian Camp David 1979. Mesir menarik duta besarnya dari Tel Aviv pada November 2023 sebagai protes atas serangan ke Gaza. Kairo juga berulang kali mengancam akan menutup perbatasan Rafah secara permanen, bahkan sempat membuka peluang pemutusan hubungan diplomatik jika Israel melanjutkan invasi darat ke kota Rafah. Di mata publik Mesir, dukungan terhadap Palestina telah menjadi isu lintas spektrum politik.
Sementara itu, Turki telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel sejak 2024. Erdogan secara konsisten menyebut Israel sebagai negara teroris dan mendukung upaya boikot ekonomi, olahraga, serta budaya terhadap produk-produk Israel. Intelijen Israel mendeteksi adanya pengiriman senjata dari Turki ke Hamas melalui jalur-laut, meskipun Ankara membantah keras tuduhan tersebut.
Pollard, yang kini berusia 71 tahun, memiliki catatan sebagai analis intelijen Angkatan Laut AS sebelum ditangkap FBI pada 1985. Setelah dibebaskan pada 2015, ia langsung pindah ke Israel dan diberikan kewarganegaraan. Meskipun banyak kalangan intelijen meragukan kapasitas analitisnya karena sudah puluhan tahun terisolasi dari dunia intelijen, pernyataannya tetap mendapat perhatian luas karena bobot sejarahnya sebagai agen ganda yang mengkhianati sekutu terdekat Israel.
Perang Gaza sendiri telah menewaskan lebih dari 45.000 warga Palestina menurut WHO, sementara 100 lebih sandera Israel masih ditahan Hamas. Durasi konflik yang telah memasuki tahun ketiga ini menimbulkan kelelahan diplomatik dan meningkatkan tekanan terhadap negara-negara Arab yang selama ini memiliki hubungan normal dengan Israel. Bahkan Arab Saudi, yang sebelumnya hampir menyetujui normalisasi, menghentikan proses tersebut pada akhir 2023.
Dari perspektif militer, skenario perang dua front melawan Turki dan Mesir akan menjadi tantangan terbesar sepanjang sejarah Israel. Mesir memiliki angkatan darat terbesar di dunia Arab, sementara Turki memiliki angkatan udara modern dengan drone berpengalaman dari konflik di Suriah dan Libya. Ditambah dengan ancaman dari Iran di front timur serta Hizbullah di Lebanon utara, Israel bisa menghadapi perang multi-front yang jauh lebih kompleks dibanding perang Yom Kippur 1973.
Analitis ke depan
Prediksi Pollard terdengar ekstrem, namun tidak bisa diabaikan begitu saja. Yang lebih penting dari sekadar benar atau salah ramalannya adalah fakta bahwa sentimen anti-Israel di Turki dan Mesir saat ini berada pada level tertinggi dalam dua dekade terakhir. Di Kairo, opini publik mendukung pemutusan total hubungan dengan Israel. Di Ankara, Erdogan menggunakan isu Palestina untuk mengonsolidasikan basis politik domestiknya.
Selama perang Gaza masih berlangsung tanpa titik temu, ruang bagi diplomasi Israel dengan dua negara tetangga terbesarnya akan terus menyempit. Jika suatu saat konflik terbuka terjadi di perbatasan Sinai atau di Laut Mediterania, Pollard bisa saja terbukti benar bahwa “badai” memang sudah di depan mata. Namun bagi sebagian besar analis di Tel Aviv, ancaman langsung saat ini justru datang dari Iran dan proksi-proksinya, bukan dari Ankara atau Kairo.
Bagi Indonesia, memburuknya hubungan Israel-Turki-Mesir memperkuat polarisasi Timur Tengah yang selama ini sudah terbelah antara kubu pro-Iran dan pro-Arab Saudi. Indonesia perlu menjaga posisi netral aktif, sekaligus mengantisipasi dampak ekonomi jika perang regional benar-benar meletus, terutama terhadap harga minyak dan arus perdagangan di Terusan Suez.
Internal Link (minimal 5):
“gencatan senjata Gaza-Lebanon yang terus dilanggar” — /konflik-dunia/gaza-lebanon-gencatan-dilanggar-2026/
“pengungsi Lebanon generasi terbuang akibat konflik berkepanjangan” — /konflik-dunia/pengungsi-lebanon-generasi-terbuang-2026/
“krisis pengungsi global tembus 117 juta jiwa pada 2026” — /migrasi-global-304-juta-pengungsi-paksa-117-juta-2026/
“ultimatum 48 jam Trump terhadap Iran” — /konflik-dunia/ultimatum-trump-iran-48-jam-2026/
“tekanan ekonomi Timur Tengah akibat konflik berkepanjangan” — /ekonomi-global/ekonomi-timur-tengah-tekanan-konflik-energi-2026/
