Serangan Drone Baru Targetkan Tangki Bahan Bakar di Kilang Zawiya, Libya
National Oil Corporation (NOC) Libya pada Selasa (11/8) mengatakan bahwa atap tangki penyimpanan solar No. 4/4 di kilang Zawiya di Libya barat menjadi target serangan drone. Serangan ini merupakan yang terbaru dalam rangkaian insiden yang menargetkan fasilitas minyak dan energi di wilayah tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, NOC mengungkapkan drone tersebut menyerang tangki dan memicu kebakaran. Perusahaan itu juga menambahkan bahwa tim darurat dan keamanan telah berhasil mengendalikan kobaran api dan mencegah penyebarannya. NOC mengonfirmasi bahwa pasokan bahan bakar tidak terpengaruh oleh insiden tersebut dan pengiriman bahan bakar ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tetap berjalan sesuai jadwal dan prosedur normal.
Serangan terbaru itu terjadi di tengah insiden-insiden berulang yang menargetkan fasilitas bahan bakar dan tangki penyimpanan di area Zawiya dalam beberapa hari terakhir. Tangki-tangki bahan bakar di kompleks kilang minyak Zawiya menjadi target serangan drone pada Senin (10/8) malam waktu setempat, hingga menyebabkan kebakaran. Otoritas Libya kemudian menyatakan bahwa mereka telah menemukan puing-puing drone dan komponen terkait, serta menyita amunisi mortir berukuran 82 mm di lokasi tersebut.
Perdana Menteri Libya Abdul Hamid Dbeibah pada Selasa berjanji akan menindak pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan drone ke fasilitas minyak dan industri di Zawiya, menyebut serangan itu sebagai “eskalasi berbahaya” sekaligus ancaman langsung bagi keselamatan warga dan pekerja, serta fasilitas nasional yang vital. Misi Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Libya (UNSMIL) pada Selasa menyerukan agar bentrokan di kota tersebut segera dihentikan dan menuntut akuntabilitas kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Terletak sekitar 60 km di sebelah barat ibu kota Tripoli, kilang minyak Zawiya merupakan salah satu fasilitas minyak utama di Libya. Serangan berulang terhadap infrastruktur minyak ini mengancam stabilitas ekonomi dan pasokan energi di negara yang masih dilanda konflik politik. Masyarakat internasional mengkhawatirkan eskalasi lebih lanjut yang dapat mengganggu produksi minyak Libya dan memengaruhi harga minyak global. Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan dan melindungi infrastruktur penting ini terus didorong oleh PBB dan komunitas internasional.
