TNI AL dan Pakistan Navy Perkuat Kerja Sama Multi Domain Operations di Tengah Dinamika Samudera Hindia
Enam tahun sejak pertama kali digagas, forum Navy to Navy Experts Level Staff Talks (NTNELST) terus menjadi instrumen penting diplomasi maritim antara Indonesia dan Pakistan. Putaran keenam forum ini digelar di Museum Pusat TNI AL, Surabaya, pada Kamis, 25 Juni 2026, dengan hasil yang jauh lebih substantif dari sekadar pertemuan seremonial. Delegasi TNI AL yang dipimpin Asisten Operasi (Asops) Kasal, Laksamana Muda TNI Yayan Sofiyan, dan delegasi Pakistan Navy yang dipimpin Assistant to the Chief of Naval Staff for Special Operations and Marines, Commodore Anwar Saeed, sepakat untuk membawa hubungan bilateral ke level yang lebih tinggi. Fokus utama kesepakatan ini adalah penguatan kerja sama di bidang pendidikan dan latihan angkatan laut dengan pendekatan multi domain operations (MDO), sebuah langkah yang dinilai krusial mengingat pesatnya perkembangan teknologi modern yang mengubah wajah peperangan di laut.
Museum Pusat TNI AL di Surabaya sengaja dipilih sebagai lokasi pertemuan bukan tanpa alasan. Tempat ini menjadi pengingat akan hubungan historis yang telah terjalin antara kedua negara selama beberapa dekade, jauh sebelum istilah-istilah seperti MDO atau perang siber menjadi bagian dari perbincangan sehari-hari. Pertemuan di ruang yang sarat nilai sejarah itu menjadi afirmasi bahwa pondasi kerja sama yang kuat saat ini dibangun di atas pijakan hubungan bilateral yang telah teruji oleh waktu. Kedua angkatan laut berharap pondasi ini akan menjadi kontribusi positif bagi hubungan kedua negara, terutama dalam kerja sama pertahanan yang lebih luas, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan resmi usai pertemuan.
Dalam diskusi tertutup yang konstruktif, kedua pihak mengakui bahwa akselerasi teknologi modern tidak lagi memungkinkan pendekatan konvensional dalam menjaga keamanan maritim. Laksamana Muda Yayan Sofiyan menegaskan bahwa arahan visioner Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali menempatkan diplomasi sebagai ujung tombak keamanan regional. Karena itulah, kerja sama ke depan tidak hanya akan berfokus pada latihan konvensional, melainkan beralih ke konsep Multi Domain Operations yang mengintegrasikan siber, antariksa, laut, dan udara. Pergeseran pendekatan ini mencerminkan kesadaran bersama bahwa tantangan maritim kontemporer tidak bisa lagi dihadapi secara parsial, melainkan membutuhkan interoperabilitas yang tinggi antarangkatan laut di kawasan.
Komitmen untuk menjaga stabilitas Samudera Hindia menjadi salah satu pilar utama dari kesepakatan ini. Kedua angkatan laut menilai wilayah perairan yang menghubungkan Asia Selatan dan Asia Tenggara ini sangat vital bagi rantai pasok ekonomi dunia. Penekanan ini selaras dengan arahan Kasal Laksamana Muhammad Ali yang secara konsisten menitikberatkan peran diplomasi angkatan laut dalam menjaga keamanan regional. Commodore Anwar Saeed, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa Pakistan memandang Indonesia sebagai mitra strategis utama di kawasan, dengan komitmen bersama untuk menjamin kebebasan bernavigasi dan pertahanan kolektif di Samudera Hindia.
Pertemuan tingkat ahli ini bukan sekadar ajang tukar pikiran teknis, melainkan wujud nyata dari navy diplomacy yang digagas oleh pimpinan TNI AL. Kolaborasi yang menyasar aspek pendidikan dan latihan bersama ini diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia unggul yang mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi pertahanan. Di tengah dinamika geopolitik yang cepat berubah, kemampuan untuk berlatih dan belajar bersama menjadi aset strategis yang tidak ternilai. Sebelumnya, pada Mei 2026, kedua angkatan laut telah menggelar latihan bersama bernama Teman E Bahr di perairan Laut Jawa, yang melibatkan kapal perang dari kedua negara. Latihan tersebut menjadi puncak dari rangkaian kunjungan armada Pakistan Navy ke Indonesia yang dimulai pada 18 Mei 2026.
Ke depan, kerja sama TNI AL dan Pakistan Navy diprediksi akan semakin intensif, terutama dalam menghadapi tantangan keamanan nontradisional seperti perompakan, penyelundupan, dan potensi konflik di jalur perdagangan strategis. Pendekatan multi domain operations yang diusung bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan operasional yang mendesak. Kemampuan untuk mengintegrasikan data dari berbagai domain—laut, udara, darat, siber, dan antariksa—akan menentukan efektivitas operasi maritim di masa depan. Bagi Indonesia, penguatan kerja sama dengan Pakistan juga membuka peluang untuk pertukaran teknologi dan peningkatan kapasitas personel, terutama dalam menghadapi dinamika Samudera Hindia yang semakin kompleks. Sinergi ini, jika dikelola dengan baik, bukan hanya akan memperkuat ketahanan maritim kedua negara, tetapi juga menjadi pilar stabilitas di kawasan yang menghubungkan dua samudera besar dunia.
