Harga Minyak Dunia Melonjak 4 Persen, Ketegangan Teluk Picu Kekhawatiran Pasokan
ininih.com — Harga minyak dunia melonjak sekitar 4 persen pada perdagangan Senin, 4 Mei 2026, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi akibat eskalasi cepat ketegangan di kawasan Teluk, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak global.
Pada pukul 11:16 waktu AS bagian timur, minyak mentah Brent sebagai patokan internasional naik 4,49 dolar AS atau 4,2 persen ke level 112,66 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,71 dolar AS atau 1,7 persen ke posisi 103,65 dolar AS per barel, mencerminkan respons langsung pasar terhadap risiko geopolitik yang meningkat tajam.
Lonjakan harga ini dipicu oleh dua insiden utama pada hari yang sama, yakni peluncuran rudal Iran ke arah Uni Emirat Arab yang untuk pertama kalinya terjadi sejak gencatan senjata awal April 2026, serta insiden kebakaran kapal kargo Korea Selatan di Selat Hormuz yang menambah ketidakpastian keamanan jalur pelayaran. Sistem pertahanan udara UEA dilaporkan berhasil mencegat sebagian besar rudal, namun kejadian ini tetap memicu kekhawatiran luas terhadap stabilitas kawasan.
Selain itu, laporan insiden maritim tambahan di dekat Dubai serta meningkatnya aktivitas militer memperkuat persepsi risiko pasar. Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair melewati jalur sempit tersebut, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada harga global.
Pergerakan harga sebelumnya sempat melemah pada awal perdagangan Asia setelah pengumuman operasi “Project Freedom” oleh Presiden AS Donald Trump, yang bertujuan mengawal kapal-kapal keluar dari kawasan konflik. Namun, sentimen cepat berbalik setelah muncul laporan ancaman militer dan insiden kapal, mendorong harga naik tajam dalam hitungan jam.
Analis pasar menilai tren kenaikan ini masih berpotensi berlanjut. Selama arus distribusi melalui Selat Hormuz belum kembali normal, tekanan terhadap harga akan tetap tinggi. Ketidakpastian geopolitik dan potensi eskalasi militer menjadi faktor dominan yang menopang harga minyak dalam jangka pendek.
Sebagai upaya penyeimbang, OPEC+ mengumumkan peningkatan target produksi sebesar 188.000 barel per hari untuk bulan Juni. Namun, pasar memandang langkah ini belum cukup signifikan untuk menutup potensi kekurangan pasokan jika gangguan di kawasan Teluk terus berlangsung.
Data historis menunjukkan bahwa sebelum krisis ini, harga WTI berada di kisaran 91 dolar AS per barel pada April 2026. Lonjakan ke atas 100 dolar dalam waktu singkat menegaskan bahwa faktor geopolitik kembali menjadi pendorong utama volatilitas pasar energi global.
harga-minyak-dunia-melonjak-4-persen-ketegangan-teluk
harga minyak dunia, Brent, WTI, Selat Hormuz, Iran, UEA, Project Freedom, konflik Teluk, OPEC+
Harga minyak dunia melonjak 4 persen akibat ketegangan di Teluk dan gangguan pasokan di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran pasar global.
