Trump Sebut Respons Iran “Totally Unacceptable”, Gencatan Senjata di Ambang Kolaps
Ininih.com – Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu di tengah negosiasi AS Iran yang gagal menemukan titik temu sejak ultimatum uranium dikeluarkan pekan lalu. Presiden Donald Trump secara terbuka menolak respons tertulis Iran atas proposal damai Washington dan menyebutnya “totally unacceptable”. Pada Selasa, 12 Mei 2026, Trump memperkerasa pernyataannya — menyebut proposal Iran sebagai “garbage” dan mengklaim gencatan senjata yang sempat diumumkan kini berada dalam kondisi “on massive life support”.
Respons Iran Ditolak Mentah-Mentah
Krisis terbaru bermula setelah Iran mengirim jawaban resmi atas proposal 14 poin AS melalui mediator Pakistan pada 10 Mei 2026. Proposal Washington menuntut penghentian pengayaan uranium, pembongkaran fasilitas nuklir utama di Fordow, Natanz, dan Isfahan, serta pembatasan jangka panjang terhadap program nuklir Teheran.
Trump langsung merespons keras melalui Truth Social. Ia menuduh Iran terus mempermainkan Amerika Serikat dan dunia internasional selama puluhan tahun. Pada Senin malam waktu AS, Trump bahkan menyebut dokumen respons Iran sebagai “garbage” dan mengatakan gencatan senjata yang sempat berjalan kini hanya bertahan “on massive life support”.
Iran menolak seluruh tuduhan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan tuntutan AS tidak realistis dan melanggar hak Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir sipil. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tunduk terhadap tekanan asing.
Uranium dan Blokade Jadi Dua Titik Konflik Utama
Perbedaan posisi kedua negara berpusat pada dua isu: stok uranium dan urutan pembukaan blokade. Washington menuntut penghentian penuh aktivitas pengayaan uranium serta pembongkaran fasilitas nuklir utama. Iran hanya bersedia melakukan pembatasan sementara dan menawarkan pemindahan sebagian stok uranium ke negara ketiga — dengan syarat bisa dikembalikan jika AS keluar dari kesepakatan di masa depan.
Pada isu blokade, Iran meminta AS membuka blokade Selat Hormuz dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan awal ditandatangani. Washington menolak urutan itu — jaminan nuklir harus datang lebih dulu sebelum ada pelonggaran sanksi maupun pencabutan blokade.
Perbedaan urutan ini bukan sekadar teknis. Ini mencerminkan ketidakpercayaan mendasar antara kedua pihak yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.
Pasar Global Ikut Terguncang
Dampak kebuntuan langsung terasa di pasar energi. Harga minyak dunia kembali menembus kisaran US$104 per barel setelah investor khawatir konflik akan kembali mengganggu distribusi energi internasional — melanjutkan volatilitas ekstrem yang telah berlangsung sejak awal April.
Goldman Sachs sebelumnya memperingatkan cadangan minyak global kini berada di titik terendah dalam delapan tahun akibat gangguan distribusi yang dipicu penutupan Selat Hormuz.
Di lapangan, situasi keamanan juga memburuk. Uni Emirat Arab melaporkan berhasil mencegat dua drone yang diduga berasal dari Iran. Qatar mengecam serangan drone terhadap kapal kargo komersial di wilayah perairannya. Kuwait melaporkan drone tak dikenal yang memasuki wilayah udaranya.
Selat Hormuz sendiri tetap menjadi titik paling sensitif dalam krisis ini. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut setiap harinya. Meski gencatan senjata secara resmi masih berlaku, perang bayangan di udara dan laut terus berjalan — membuat risiko eskalasi baru tetap terbuka.
Pertemuan Trump–Xi Jadi Ujian Berikutnya
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing kini menjadi perhatian internasional. China merupakan pembeli terbesar minyak Iran, menjadikan Beijing pemain kunci dalam setiap skenario penyelesaian.
Washington berharap Xi dapat menekan Teheran agar lebih fleksibel dalam negosiasi. Namun analis menilai China kemungkinan besar tidak ingin terlihat terlalu berpihak pada strategi tekanan AS — terutama di tengah dinamika persaingan yang juga mencakup rivalitas AI antara Amerika Serikat dan China.
Dalam 48 hingga 72 jam ke depan, beberapa skenario masih terbuka: Iran mengajukan revisi proposal melalui mediator Qatar atau Oman, atau AS memperkuat kehadiran militernya di Teluk Oman sebagai sinyal tekanan baru.
Trump menyebut solusi diplomatik masih mungkin tercapai — namun retorika keras dari kedua pihak memperlihatkan jarak antara meja perundingan dan lapangan masih sangat jauh.
Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar jalur perdagangan energi. Ia telah berubah menjadi barometer seberapa besar risiko ekonomi dan geopolitik yang siap ditanggung dunia dari konflik dua kekuatan yang sama-sama menolak mundur.
