Blokade Iran Membayangi Meja Negosiasi AS-China di Korea Selatan
Ininih.com – Amerika Serikat dan China memulai konsultasi ekonomi tingkat tinggi selama dua hari di Korea Selatan pada Selasa, 12 Mei 2026. Delegasi China dipimpin langsung oleh Wakil Perdana Menteri He Lifeng, sementara AS menurunkan pejabat setingkat menteri perdagangan. Pertemuan ini menjadi konsultasi bilateral ekonomi pertama antara kedua negara sejak konflik militer AS-Iran meletus pada akhir Februari 2026 — dan berlangsung hanya sehari sebelum Presiden Donald Trump memulai kunjungan kenegaraan ke Beijing pada 13–15 Mei 2026.
Seoul Jadi Panggung Diplomasi Ekonomi Dua Raksasa
Korea Selatan resmi menawarkan diri sebagai tuan rumah pada 20 April lalu, setelah Washington dan Beijing sepakat pertemuan perlu dilakukan di negara ketiga yang netral. Lokasi spesifik konsultasi tidak diumumkan ke publik, dan agenda hari pertama berlangsung sepenuhnya tertutup tanpa konferensi pers.
Pasar langsung merespons positif. Indeks KOSPI Korea Selatan naik 1,2 persen pada sesi pagi, dipimpin saham-saham eksportir. Indeks MSCI Asia Pacific turut menguat 0,6 persen, sementara harga minyak dunia terkoreksi tipis 0,3 persen dari level tertingginya karena pasar berharap dialog ini dapat meredam sebagian ketegangan global.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyebut konsultasi ini sebagai “kehormatan” bagi Seoul tanpa mengomentari substansi perundingan. Posisi Korsel memang rumit — harus bersikap netral sambil menjadi fasilitator dua kekuatan yang saling bersaing.
Blokade Hormuz Masuk Meja Perundingan
Di balik agenda resmi yang mencakup stabilitas rantai pasok, tarif, dan hambatan non-tarif, satu isu membayangi seluruh proses konsultasi: blokade Selat Hormuz.
China adalah pembeli terbesar minyak Iran, menyerap sekitar 900.000 barel per hari atau sekitar 10 persen dari total impor energi Beijing. Penutupan Selat Hormuz yang telah berlangsung lebih dari dua bulan memukul langsung kepentingan energi China. Sumber diplomatik menyebut He Lifeng kemungkinan besar akan membawa isu ini ke meja perundingan — meminta AS mempertimbangkan akses energi China sebagai bagian dari paket negosiasi yang lebih luas.
Di sisi lain, Washington diperkirakan mendorong Beijing untuk mengurangi pembelian minyak Iran sebagai imbalan atas konsesi tarif. Ini adalah tekanan yang sama sekali tidak mudah bagi China: menjaga hubungan ekonomi dengan AS tanpa mengasingkan Iran yang selama ini menjadi mitra strategis dan pemasok energi kunci.
Sumber anonim di Teheran yang dikutip media internasional mengungkapkan kekhawatiran langsung — Iran memantau apakah China akan “mengorbankan” kepentingan mereka demi kepentingan perdagangan dengan AS.
Perdagangan Bilateral Turun, Tekanan Dua Arah
Konteks ekonomi konsultasi ini cukup berat. Perdagangan AS-China pada kuartal I 2026 tercatat turun 8 persen secara year-on-year akibat ketidakpastian geopolitik yang meningkat tajam sejak konflik Iran pecah. Nilai perdagangan bilateral kedua negara pada 2025 mencapai sekitar US$575 miliar — penurunan 8 persen berarti kehilangan puluhan miliar dolar hanya dalam satu kuartal.
Tarif AS terhadap produk China masih berlaku di kisaran rata-rata 7,5 hingga 19 persen tergantung sektor, turun dari puncak 25 persen di era sebelumnya namun masih menjadi hambatan signifikan bagi eksportir China. Konsultasi ini diharapkan dapat memberikan kepastian arah kebijakan — setidaknya sebagai sinyal bahwa dekoupling total bukan pilihan yang sedang diambil kedua pihak saat ini. Goldman Sachs sebelumnya memperingatkan cadangan minyak global kini berada di titik terendah dalam delapan tahun, dan jika konsultasi ini gagal, tekanan pada pasar energi dan rantai pasok global berpotensi semakin dalam.
Kunjungan Trump ke Beijing Jadi Taruhan Berikutnya
Hasil konsultasi Korea Selatan akan langsung menentukan suasana kunjungan Trump ke Beijing. Jika kedua delegasi berhasil menyepakati pernyataan bersama pada 13 Mei sore, kunjungan Trump kemungkinan akan berlangsung dalam iklim yang lebih kondusif untuk kesepakatan substantif. Sebaliknya, jika konsultasi buntu, Trump tiba di Beijing dalam tekanan diplomasi yang jauh lebih besar.
Satu hal yang hampir pasti: isu Iran tidak akan disebut secara eksplisit dalam pernyataan publik manapun. Namun pengaruhnya terhadap seluruh arsitektur perundingan akan terasa di setiap sesi tertutup — mulai dari tarif energi, akses pasar, hingga posisi China dalam tekanan AS terhadap Teheran.
Konsultasi AS-China di Seoul bukan sekadar pemanasan diplomatik. Ini adalah ujian apakah dua kekuatan terbesar dunia masih mampu memisahkan kepentingan ekonomi dari eskalasi geopolitik yang sedang berlangsung — sesuatu yang semakin sulit dilakukan di tengah konflik AS Iran yang belum menunjukkan tanda mereda.
