Mei 25, 2026

Iran Ajukan Proposal Tandingan ke AS, Tuntut Blokade Dicabut dalam 30 Hari

IMG_20260512_065312

Ininih.com – Iran secara resmi menyerahkan proposal tandingan kepada Amerika Serikat melalui mediator Pakistan pada 10 Mei 2026. Bocoran dokumen yang diperoleh Associated Press dan Reuters pada dini hari 12 Mei mengungkap isi utamanya: penghentian konflik di semua lini, jaminan tidak ada agresi AS ke depan, pencabutan sanksi ekonomi, dan pengakhiran blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan awal dicapai. Proposal ini merupakan jawaban tertulis Teheran atas proposal 14 poin Washington yang disampaikan pada awal Mei — dan langsung memperlihatkan betapa jauhnya jarak antara dua posisi yang berhadapan.

Proposal Bocor Sebelum Respons Resmi AS

Yang menarik dari kronologi ini bukan isi proposalnya — tetapi urutannya. Trump sudah menyatakan respons Iran “totally unacceptable” pada 11 Mei, sehari sebelum bocoran proposal itu dibaca publik secara luas. Artinya, penolakan disampaikan sebelum dunia tahu apa yang ditolak.

Pada 12 Mei, pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada CNN bahwa Washington “sedang mengevaluasi” proposal Iran — pernyataan yang kontradiktif dengan pernyataan keras Trump sehari sebelumnya. Kementerian Luar Negeri Iran sendiri belum mengonfirmasi atau membantah keaslian dokumen yang bocor, namun juru bicara Esmaeil Baqaei menyatakan Iran telah mengirimkan proposalnya melalui saluran resmi dan menunggu respons.

Urutan yang kacau ini mencerminkan satu hal: negosiasi AS-Iran berjalan di dua jalur sekaligus — jalur diplomatik yang tertutup dan jalur retorika publik yang panas. Keduanya tidak selalu bergerak ke arah yang sama.

Jurang Antara Dua Proposal

Membaca kedua proposal secara berdampingan, jurangnya sangat jelas. Washington menuntut pembongkaran fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan, penghentian pengayaan uranium selama 12 tahun, serta penyerahan 440 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen. Teheran merespons dengan tuntutan yang sama fundamentalnya dari arah berlawanan: jaminan keamanan permanen dari AS, pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, pencabutan seluruh sanksi ekonomi, dan pembukaan blokade laut dalam 30 hari.

Poin blokade adalah yang paling sulit. Iran meminta AS mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhannya dalam sebulan setelah kesepakatan awal diteken — sementara Washington justru menjadikan penghentian aktivitas nuklir sebagai syarat utama sebelum membahas pelonggaran apapun. Kedua pihak meminta pihak lain bergerak lebih dulu. Tidak ada yang mau jadi yang pertama mundur.

Pakistan Terjepit, Jalur Alternatif Mulai Terbuka

Di tengah kebuntuan ini, Pakistan sebagai mediator berada dalam posisi yang semakin tidak nyaman. Islamabad harus meneruskan proposal Iran ke Washington sementara Trump sudah secara terbuka menyebut respons Teheran sebagai “garbage.” Meneruskan pesan yang sudah dicap sampah adalah tugas diplomatik yang berat.

Turki, Qatar, dan Oman mulai mengambil posisi. Presiden Recep Tayyip Erdogan menawarkan Istanbul sebagai lokasi negosiasi. Qatar dan Oman — yang selama ini memiliki saluran komunikasi lebih hangat dengan Teheran — disebut sebagai kandidat pengganti jika jalur Pakistan benar-benar buntu. China menyatakan mendukung dialog langsung antara kedua pihak, sementara Rusia mendesak AS untuk membaca proposal Iran “dengan kepala dingin.”

Sementara itu, harga minyak dunia masih bergerak di kisaran US$102 hingga 106 per barel pada 12 Mei — pasar belum melihat sinyal yang cukup kuat untuk bergerak ke salah satu arah. Jika AS menolak proposal Iran secara resmi dan mengumumkan peningkatan tekanan militer, analis memperkirakan Brent dapat menembus US$110 dalam waktu singkat, memperburuk tekanan pada cadangan minyak global yang sudah berada di titik terendah delapan tahun.

Gencatan Senjata Bertahan, Tapi Tipis

Secara formal, gencatan senjata AS-Iran yang diperpanjang tanpa batas waktu sejak April 2026 masih berlaku. Namun pasukan IRGC di pesisir selatan Iran dan sekitar Selat Hormuz tetap dalam status siaga penuh. Insiden sekecil apapun di laut — drone yang salah jalur, kapal yang salah posisi — berpotensi memicu respons yang tidak proporsional dari kedua pihak yang sama-sama sedang dalam tekanan domestik tinggi.

Dalam 48 jam ke depan, Pakistan diperkirakan akan menyampaikan proposal Iran secara formal ke Washington. Respons AS — apakah berupa penolakan total, penerimaan sebagian, atau proposal tandingan baru — akan menentukan apakah konflik AS-Iran memasuki fase diplomasi yang lebih serius, atau justru kembali ke eskalasi yang sudah beberapa kali nyaris tak terkendali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *