Mei 25, 2026

Israel Klaim Tewaskan 30 Militan Hizbullah, Front Utara Bergerak ke Perang Dua Front

3a9c3640-eb03-11ef-a9f0-1fe0b0397bb7.jpg

Ininih.com – Militer Israel mengumumkan telah menewaskan lebih dari 30 militan Hizbullah dan menyerang sekitar 70 lokasi di Lebanon selatan dalam sepekan terakhir, 6 hingga 12 Mei 2026. IDF juga mengklaim berhasil mencegat sejumlah roket yang diluncurkan dari Lebanon sebelum memasuki wilayah Israel. Pengumuman ini menandai eskalasi paling signifikan di front utara Israel sejak operasi ofensif baru dimulai pada 5 Mei — dan memperlihatkan bahwa konflik yang bermula dari Gaza pada Oktober 2023 kini telah membuka luka permanen di perbatasan Israel-Lebanon.

70 Lokasi Diserang, Roket Tetap Meluncur

Fase baru operasi militer Israel di Lebanon selatan dimulai pada 5 Mei dengan pernyataan IDF bahwa ini adalah “operasi terbatas untuk membersihkan ancaman dekat perbatasan.” Dalam tujuh hari berikutnya, serangan udara dan artileri dilancarkan secara intensif terhadap posisi-posisi Hizbullah di sepanjang perbatasan.

Namun label “operasi terbatas” semakin sulit dipertahankan. Tujuh puluh lokasi yang diserang dalam sepekan bukan angka operasi terbatas. Tiga puluh militan yang diklaim tewas bukan angka operasi terbatas. Dan roket yang terus meluncur dari Lebanon — meski berhasil dicegat di atas wilayah Lebanon selatan sebelum memasuki Israel — menunjukkan bahwa Hizbullah tidak mundur.

Sejak Oktober 2023, lebih dari 500 warga sipil Lebanon telah tewas berdasarkan data PBB, sementara lebih dari 100.000 warga Lebanon selatan mengungsi dari zona pertempuran. Di sisi Israel, sekitar 60.000 hingga 80.000 warga utara Israel masih belum kembali ke rumah mereka. Dua komunitas di dua sisi perbatasan, sama-sama hidup dalam displacement yang tidak memiliki tanggal akhir.

Iran di Balik Hizbullah, AS di Balik Israel

Konflik ini tidak berdiri sendiri. Hizbullah adalah proksi Iran paling kuat di kawasan, dan setiap serangan besar Israel ke Lebanon selalu dibaca Teheran sebagai serangan terhadap kepentingan strategisnya. Di tengah konflik AS-Iran yang sedang dalam fase negosiasi rapuh, eskalasi Israel-Hizbullah menambah satu variabel berbahaya lagi ke dalam kalkulasi yang sudah sangat kompleks.

Iran memiliki insentif untuk menggunakan Hizbullah sebagai kartu tekanan terhadap AS dalam negosiasi nuklir — memperlihatkan bahwa eskalasi di lapangan bisa diaktifkan kapan saja jika meja perundingan tidak menghasilkan sesuatu yang memuaskan Teheran. Sebaliknya, Israel memiliki insentif untuk membersihkan ancaman di utara sebelum situasi berubah menjadi lebih sulit jika kesepakatan AS-Iran tercapai dan tekanan terhadap Iran berkurang.

Amerika Serikat belum mengeluarkan pernyataan resmi atas klaim Israel pada 12 Mei. Gedung Putih secara umum mendukung hak Israel untuk membela diri, namun juga mendesak de-eskalasi — posisi yang semakin sulit dipertahankan ketika angka serangan terus naik setiap harinya.

Risiko Perang Dua Front Semakin Nyata

Israel saat ini bertempur di Gaza, terlibat konflik maritim tidak langsung dengan Iran melalui blokade Selat Hormuz, dan kini mengintensifkan operasi di Lebanon. Tiga front aktif sekaligus adalah beban yang belum pernah dihadapi militer Israel dalam satu periode sesingkat ini.

Jika Hizbullah memutuskan untuk merespons secara dramatis — meluncurkan roket besar-besaran ke Haifa atau bahkan Tel Aviv sebagaimana yang telah diancamkan — Israel akan berhadapan dengan perang dua front skala penuh. Koordinator Khusus PBB untuk Lebanon sudah memperingatkan bahwa eskalasi dapat “menjerumuskan kawasan ke dalam perang yang lebih luas.” Prancis, yang memiliki hubungan historis dengan Lebanon, mendesak penghentian segera permusuhan.

Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 yang seharusnya memaksa Hizbullah mundur dari perbatasan dan menempatkan UNIFIL sebagai penjaga sudah lama mati suri. Tidak ada mekanisme internasional yang benar-benar berfungsi untuk menghentikan eskalasi ini — hanya kalkulasi masing-masing pihak tentang seberapa jauh mereka berani melangkah sebelum biayanya terlalu besar untuk ditanggung.

Dalam beberapa hari ke depan, diplomat AS dan Prancis diperkirakan akan meningkatkan tekanan mediasi. Namun upaya serupa sejak 2024 tidak menghasilkan perubahan signifikan di lapangan. Selama negosiasi Iran-AS masih berjalan di tempat dan Gaza belum selesai, front Lebanon akan terus menjadi titik api yang menunggu percikan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *