Mei 25, 2026

SAUDI ARAMCO PERINGATKAN KRISIS MINYAK HINGGA 2027, 20.000 PELAUT MASIH TERDAMPAR DI SELAT HORMUZ

IMG_20260303_135705_700_x_450_piksel-2626140548

Ininih.com — Enam pekan setelah gencatan senjata AS-Iran berlaku pada 8 April 2026, Selat Hormuz masih jauh dari normal. Iran tetap membatasi lalu lintas kapal di selat yang sebelum konflik dilintasi 70 kapal per hari itu, sementara AS mempertahankan blokade lautnya terhadap kapal yang menuju atau keluar dari Iran. CEO Saudi Aramco Amin Nasser memperingatkan bahwa jika kebuntuan ini berlangsung hingga pertengahan Juni, pasar minyak global tidak akan pulih sebelum 2027. Di tengah situasi itu, lebih dari 20.000 pelaut dan 2.000 kapal komersial masih terdampar tanpa kepastian.

Blokade Ganda yang Mencekik Perdagangan Global

Situasi di Selat Hormuz saat ini bukan sekadar efek sisa perang — melainkan jebakan yang sengaja dipertahankan oleh kedua belah pihak. AS memberlakukan blokade laut sepihak sejak 13 April, setelah perundingan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. CENTCOM mengonfirmasi bahwa hingga 9 Mei, 58 kapal komersial telah dipaksa mengubah rute dan 4 kapal dinonaktifkan. Iran di sisi lain menolak proposal AS pada 10 Mei dan mengajukan draf tandingan yang oleh Trump disebut “sama sekali tidak dapat diterima.”

Di tengah blokade ganda ini, sejumlah kapal tanker memilih cara berbahaya: mematikan sistem pelacak AIS untuk menembus pengawasan. Kapal tanker Basrah Energy membawa 2 juta barel minyak UEA berhasil keluar pada 6 Mei setelah mematikan AIS, disusul dua kapal tanker Irak — Agios Fanourios I dan Kiara M — yang masing-masing membawa 2 juta barel dan berhasil melintas pada 10 Mei. Analis Citrini Research memperkirakan 4 hingga 5 kapal tanker per hari kini bergerak tanpa catatan AIS, yang berarti volume kargo aktual yang berhasil keluar jauh lebih tinggi dari yang terdeteksi secara resmi.

Irak mendapat pengecualian dari Iran karena statusnya sebagai “negara bersaudara” — tetapi pengecualian itu tidak banyak membantu. Ekspor minyak Irak anjlok dari 99 juta barel pada Februari menjadi hanya 18,6 juta barel pada Maret, karena ketergantungan pada kapal asing yang masih terikat pembatasan.

Prabowo ke Moskow, Nelayan Indonesia Tak Bisa Melaut

Dampak blokade telah menjalar jauh melampaui Teluk Persia. Di Indonesia, harga diesel hampir dua kali lipat sejak konflik pecah. Kapal-kapal nelayan besar yang biasanya berlayar berminggu-minggu kini berlabuh berbulan-bulan — setiap kapal membutuhkan tangkapan senilai setidaknya 700 juta rupiah hanya untuk impas biaya operasional. Ratusan nelayan berunjuk rasa di Jawa Tengah awal Mei, sementara Gubernur Ahmad Luthfi memperingatkan ancaman inflasi pangan.

Presiden Prabowo Subianto merespons dengan terbang langsung ke Moskow untuk bernegosiasi dengan Vladimir Putin, mengamankan kesepakatan 150 juta barel minyak Rusia dengan harga diskon. Menteri Energi Bahlil Lahadalia menyatakan pengiriman pertama bisa tiba dalam satu hingga dua minggu. Langkah Prabowo ini menjadi salah satu contoh paling konkret bagaimana krisis di Selat Hormuz memaksa negara-negara berkembang memutar ulang seluruh strategi energi nasional mereka dalam hitungan minggu.

Tenggat Pertengahan Juni dan Ancaman Krisis Dua Tahun

Peringatan Saudi Aramco bukan sekadar proyeksi bisnis. Sebelum konflik, 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz — sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Pasar sudah kehilangan 1 miliar barel sejak konflik pecah, dan kerugian terus bertambah 100 juta barel setiap pekan selat tetap tertutup. Jika pertengahan Juni datang tanpa terobosan diplomatik, efek domino yang mengikuti — dari inflasi energi global hingga krisis rantai pasok industri — akan membutuhkan waktu hingga 2027 untuk diurai.

Oman sudah bergerak meminta IMO memfasilitasi inisiatif kemanusiaan untuk membebaskan kapal-kapal yang terdampar. Prancis dan Inggris memimpin koalisi 50 negara untuk memulihkan lalu lintas maritim secara terkoordinasi, meski Prancis membantah akan mengerahkan kapal perang setelah Iran mengancam akan memberikan “respons tegas dan segera.” Negosiasi di Islamabad diperkirakan berlanjut, tetapi dengan Trump yang menolak mentah-mentah proposal Iran dan Teheran yang menuntut pencabutan blokade dalam 30 hari sebagai syarat awal — jarak antara kedua posisi masih terlalu lebar untuk dijembatani dalam waktu dekat.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *