Juni 3, 2026

Israel Kuasai 70% Gaza, Netanyahu Perintahkan Militer

1780013703746_pha-vo-lenh-ngung-ban-thu-tuong-israel-ra-lenh-cho-quan-doi-kiem-soat-70-dai-gaza-20260529070751

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi memerintahkan militer untuk mengambil alih 70 persen wilayah Jalur Gaza, sebuah eskalasi besar dalam konflik yang telah berlangsung dua tahun. Pernyataan itu disampaikan Netanyahu di tengah konferensi di permukiman Tepi Barat, menandai babak baru dalam strategi Israel kuasai 70% Gaza secara bertahap.

Dalam video yang ditayangkan oleh Channel 12 Israel, Netanyahu mengklaim bahwa pihaknya saat ini sudah menguasai 60 persen Gaza. “Kami sekarang menguasai 60 persen wilayah Jalur Gaza. Arahan saya adalah untuk bergerak ke 70 persen,” ujarnya. Sebelumnya, kata dia, angka itu masih 50 persen. “Pengarahan saya adalah bergerak, mengambil selangkah demi selangkah, pertama ke seluruh 70 (persen). Mulai dari sana.”

Langkah ini, menurut Netanyahu, dirancang untuk menekan Hamas dari semua sisi. “Kita menekan mereka dari semua sisi,” tegasnya. Tidak ada indikasi bahwa Israel akan menghentikan ekspansi teritorialnya di kantong Palestina yang sudah hancur itu. Laporan Radio Angkatan Darat Israel pada 3 Mei 2026 menyebutkan bahwa Israel mengendalikan 59-60 persen wilayah Gaza. Sementara CNN melaporkan angka 64 persen, dengan kondisi Gaza yang semakin porak-poranda akibat serangan udara dan darat yang terus berlanjut sejak serangan Hamas ke Israel selatan pada 2023.

Pengumuman Netanyahu pada 28 Mei lalu, yang kemudian dikonfirmasi pada konferensi 29 Mei, datang di saat tekanan internasional terhadap Israel justru meningkat. Namun, Netanyahu tampaknya memilih untuk mengabaikan seruan gencatan senjata dan fokus pada pendudukan fisik. Pernyataan “selangkah demi selangkah” mengindikasikan adanya rencana jangka panjang untuk menguasai seluruh Gaza, bukan hanya zona penyangga atau kantong-kantong strategis.

Para analis militer menilai bahwa penguasaan 70 persen wilayah akan memberikan keuntungan taktis luar biasa bagi Israel. Dengan menguasai lebih dari dua pertiga Gaza, Tel Aviv dapat memotong jalur logistik Hamas, mengisolasi kantong-kantong perlawanan, dan mengendalikan akses warga sipil ke wilayah utara dan selatan. Ini juga akan memperkuat posisi tawar Israel dalam setiap negosiasi pascakonflik, karena fakta di lapangan sering kali lebih menentukan daripada meja perundingan.

Dari sisi kemanusiaan, ekspansi ini menjadi mimpi buruk bagi 1,1 juta lebih pengungsi yang saat ini terjejal di wilayah selatan Gaza, dekat perbatasan Mesir. Setiap kali Israel mengumumkan zona baru yang akan “diamankan”, warga sipil kembali terusir ke area yang semakin sempit. Layanan kesehatan sudah runtuh total, dan organisasi bantuan melaporkan kelangkaan ekstrem makanan, air bersih, serta obat-obatan. Konflik Gaza berkepanjangan ini telah menciptakan salah satu krisis pengungsian tercepat di abad ini.

Di tengah eskalasi ini, dinamika geopolitik kawasan juga ikut bergolak. Ketegangan AS dengan Iran yang sempat mereda pasca-gencatan senjata 8 April lalu masih menyisakan luka. Selat Hormuz belum sepenuhnya normal, dan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran terus berlangsung. Iran sendiri tengah dalam negosiasi proposal pemisahan isu Hormuz dari program nuklirnya. Sementara itu, Israel melihat celah untuk bertindak lebih agresif di Gaza karena perhatian dunia sempat teralih ke konflik besar di Teluk Persia.

Netanyahu juga bermain di panggung domestik. Dengan koalisi pemerintahannya yang rapuh, menunjukkan citra “pemenang” di Gaza adalah kebutuhan politik. Pernyataan persentase 60 persen, lalu 70 persen, seolah menjadi angka sakral yang menunjukkan kemajuan nyata. Namun, para kritikus di dalam negeri bertanya: berapa lama lagi? Dan berapa biaya kemanusiaan yang masih harus dibayar warga Gaza maupun tentara Israel sendiri?

Krisis kemanusiaan di Gaza diperparah dengan runtuhnya sistem sanitasi, dan wabah penyakit mulai muncul di penampungan-penampungan padat. Organisasi kesehatan internasional mencatat lonjakan kasus kolera dan malnutrisi akut, terutama pada anak-anak. Dalam kondisi seperti ini, perintah untuk mengambil alih 70 persen wilayah tidak hanya berarti pertempuran, tetapi juga tanggung jawab pendudukan atas 2,3 juta penduduk Gaza yang sebagian besar masih terjebak di dalam.

Sementara itu, dampak ekonomi dari konflik mulai terasa di seluruh Timur Tengah. Harga minyak sempat naik tajam akibat kekhawatiran meluasnya perang, meski kini sedikit stabil. Negara-negara tetangga seperti Mesir dan Yordania khawatir gelombang pengungsi baru akan menembus perbatasan mereka. Perekonomian Lebanon, yang sudah porak-poranda, mendapat tekanan tambahan karena jalur perdagangan via darat ke Suriah dan Yordania terganggu.

Di level global, reaksi masih terbelah. Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump yang tengah sibuk dengan negosiasi nuklir Iran dan hubungan AS-China yang memanas, memberikan respons yang cenderung ambigu. Sementara negara-negara Eropa, yang mulai membangun kemandirian pertahanan mereka sendiri, kembali mengeluarkan pernyataan keprihatinan tanpa aksi konkret. Rusia, yang tengah dalam latihan nuklir bersama Belarus, memanfaatkan situasi untuk menunjukkan bahwa tatanan dunia yang dipimpin AS gagal menghentikan perang.

Secara strategis, langkah Netanyahu untuk menguasai 70 persen Gaza bisa menjadi bumerang jika tidak diimbangi dengan rencana politik yang jelas. Sejarah menunjukkan bahwa pendudukan militer tanpa solusi politik hanya akan melahirkan perlawanan generasi berikutnya yang lebih keras. Namun, dalam logika perang yang sedang berlangsung, Netanyahu tampaknya lebih memilih menciptakan fakta di lapangan sebelum kekuatan eksternal seperti AS atau PBB berhasil memaksakan paket perdamaian yang mengikat.

Ke depan, dunia akan mencermati apakah 70 persen adalah target akhir atau hanya batu loncatan menuju 80, 90, atau bahkan 100 persen. Jika Israel benar-benar merebut seluruh Gaza, maka pertanyaannya bukan lagi soal perang, melainkan soal pendudukan ulang jangka panjang yang akan menguras sumber daya dan legitimasi internasional Israel. Di sisi lain, jika Hamas masih mampu melancarkan serangan roket atau serangan terowongan dari sisa 30 persen wilayah yang belum dikuasai, maka gencatan senjata akan tetap mustahil dicapai. Satu hal yang pasti: warga Gaza sekali lagi menjadi korban utama dalam permainan kekuasaan yang tidak pernah berujung ini.


“konflik Gaza berkepanjangan” — /konflik-dunia/gaza-lebanon-gencatan-dilanggar-2026/
“krisis kemanusiaan di Gaza” — /konflik-dunia/wabah-penyakit-penampungan-lebanon-2026/
“dampak ekonomi dari konflik” — /ekonomi-global/ekonomi-timur-tengah-tekanan-konflik-energi-2026/
“hubungan AS-China yang memanas” — /geopolitik/trump-xi-summit-beijing-iran-taiwan-perdagangan-2026/
“ketegangan AS dengan Iran” — /konflik-dunia/iran-ultimatum-as-proposal-14-poin-uranium-2026/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *