Juni 3, 2026

Trump ancam Oman ledakkan Selat Hormuz jika Berpihak ke Iran

IMG_20260529_211750

Trump ancam Oman ledakkan Selat Hormuz dalam pernyataan yang mengejutkan seluruh kawasan: “Oman akan berperilaku seperti orang lain — atau kita harus meledakkan mereka. Mereka mengerti itu, mereka akan baik-baik saja.” Kalimat itu diucapkan Trump di hadapan wartawan dalam rapat kabinet di Gedung Putih pada Rabu 28 Mei, merespons pertanyaan apakah ia bersedia menerima kesepakatan jangka pendek yang memungkinkan Iran dan Oman berbagi kendali atas jalur air tersebut. Jawaban Trump tegas: tidak. “Tidak ada yang akan mengendalikan selat itu. Ini perairan internasional.” Departemen Luar Negeri AS kemudian memposting klip dan transkrip pernyataan itu — tanpa koreksi, tanpa klarifikasi.

Sekutu yang Tiba-tiba Jadi Sasaran

Yang membuat pernyataan ini luar biasa adalah targetnya. Oman bukan musuh AS. Oman adalah sekutu yang selama ini menjadi saluran diplomasi rahasia paling diandalkan Washington dalam berhubungan dengan Teheran — termasuk dalam fase negosiasi yang sedang berjalan saat ini. Oman juga sudah menjadi korban serangan Iran selama konflik berlangsung. Trump memperingatkan untuk “meledakkan” negara yang justru sedang membantu AS menyelesaikan konfliknya dengan Iran.

Gedung Putih tidak segera menanggapi pertanyaan apakah Trump salah bicara dan bermaksud merujuk pada Iran, bukan Oman. Ini bukan pertama kali Trump mencampuradukkan nama negara dalam pernyataan publik terkait konflik ini — ia sebelumnya pernah menyebut Venezuela dalam konteks yang jelas dimaksudkan untuk Iran. Tetapi kali ini Departemen Luar Negeri memilih memposting ulang pernyataan itu tanpa koreksi, yang secara efektif membuat ancaman terhadap Oman menjadi pernyataan resmi pemerintah AS yang terdokumentasi.

Konteks di balik pernyataan itu penting untuk dipahami. Iran dalam negosiasi yang sedang berlangsung mengindikasikan keinginan untuk menerapkan realitas baru di Selat Hormuz: mengenakan bea masuk pada kapal yang melintas dan berbagi pendapatan dengan Oman. Dari sudut pandang Teheran, ini adalah cara mempertahankan leverage ekonomi atas jalur yang selama ini menjadi sumber tekanan terbesar AS terhadap Iran. Trump menolak skema itu secara total — Selat Hormuz adalah perairan internasional dan tidak bisa dikuasai oleh pihak manapun, termasuk Oman sekalipun.

Risiko Diplomatik yang Tidak Bisa Diabaikan

Ancaman terhadap Oman, terlepas dari apakah itu salah ucap atau bukan, menciptakan komplikasi diplomatik yang nyata. Muscat adalah mediator aktif dalam negosiasi AS-Iran yang sedang berada di fase paling kritis sejak konflik dimulai. Jika Oman merasa posisinya sebagai perantara netral tidak lagi dihargai — atau lebih buruk, merasa diperlakukan sebagai target potensial — kepercayaannya untuk melanjutkan peran itu bisa terkikis.

Negara-negara Teluk lain yang menyaksikan ancaman ini juga akan menarik kesimpulan mereka sendiri. Arab Saudi, UEA, dan Qatar sudah diminta Trump untuk menekan Iran dalam negosiasi. Melihat Oman — negara yang paling kooperatif dengan agenda diplomatik AS di kawasan — diancam secara publik akan menjadi sinyal yang tidak menguntungkan bagi siapapun yang sedang mempertimbangkan seberapa jauh mereka bisa mempercayai komitmen Washington.

Negosiasi di Titik Paling Kritis

Ironi terbesar dari pernyataan Trump adalah momentumnya. Negosiasi AS-Iran sedang berada di fase yang oleh Menlu Rubio disebut “kemajuan substansial dalam 48 jam terakhir.” Kesepakatan kerangka pembukaan Selat Hormuz dalam 30 hari sedang difinalkan. Pakistan dan Oman adalah dua pilar mediasi yang paling aktif mendorong penyelesaian. Dalam kondisi itu, mengancam Oman secara publik — bahkan jika dimaksudkan sebagai gertakan terhadap Iran — adalah risiko diplomatik yang tidak proporsional dengan hasil yang ingin dicapai.

Selat Hormuz tetap menjadi jantung dari seluruh krisis ini. Dua puluh persen minyak global melewati jalur itu sebelum konflik — dan setiap hari selat itu tidak berfungsi normal adalah hari di mana ekonomi global menanggung biaya yang dibebankan ke konsumen dari Jakarta hingga London. Trump benar bahwa Selat Hormuz adalah perairan internasional yang tidak boleh dikuasai satu pihak manapun. Tapi cara menegakkan prinsip itu — dengan mengancam sekutu yang sedang membantu menyelesaikan krisis — adalah metode yang bisa membuat prinsip yang benar itu sulit dicapai di lapangan.


Internal link:

  1. “kesepakatan AS Iran Selat Hormuz 30 hari” — /konflik-dunia/kesepakatan-as-iran-selat-hormuz-30-hari-2026/
  2. “Pakistan optimis deal Iran Prancis Hormuz” — /konflik-dunia/pakistan-optimis-deal-iran-prancis-hormuz-2026/
  3. “blokade Selat Hormuz krisis maritim” — /konflik-dunia/selat-hormuz-blokade-krisis-maritim-mei-2026/
  4. “ultimatum Trump Iran 48 jam” — /konflik-dunia/ultimatum-trump-iran-48-jam-2026/
  5. “pola tenggat Trump Iran tidak dieksekusi” — /konflik-dunia/tenggat-trump-iran-tidak-dieksekusi-2026/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *