Trump Sebut Paus Leo “Lemah dan Mengerikan”, Paus Balas: Saya Tidak Takut
Trump sebut Paus Leo lemah dalam serangan publik yang langka terhadap pemimpin Gereja Katolik dunia — dipicu oleh kecaman keras Leo XIV atas ancaman Trump untuk menghancurkan peradaban Iran, dan dibalas Paus dengan pernyataan yang sama tegasnya dari atas pesawat kepausan.
Konflik ini bermula pada 7 April. Saat Trump menulis di Truth Social bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini” jika Iran tidak segera membuka Selat Hormuz, Paus Leo XIV merespons beberapa jam kemudian dari kediamannya di Castel Gandolfo. “Hari ini, seperti yang kita semua tahu, ada ancaman terhadap seluruh rakyat Iran, dan ini sungguh tidak dapat diterima,” kata Leo kepada para jurnalis. “Ada isu hukum internasional di sini, tetapi lebih dari itu, ini adalah isu moral demi kebaikan seluruh populasi.” Pernyataan itu disampaikan dengan tenang — tanpa menyebut nama Trump, tanpa retorika politik. Namun pesannya tidak bisa lebih jelas.
Trump tidak merespons langsung saat itu. Namun setelah Leo terus menyerukan gencatan senjata dan perdamaian selama beberapa pekan berikutnya — termasuk pidato vigil doa di Basilika Santo Petrus pada 11 April di mana ia berseru “Cukup perang! Cukup pamer kekuasaan! Cukup berhala uang dan diri sendiri!” — Trump akhirnya meledak. Melalui unggahan panjang di Truth Social pada Minggu malam 12 April, Trump menulis: “Paus Leo LEMAH dalam kejahatan, dan mengerikan untuk kebijakan luar negeri.”
Serangan Trump tidak berhenti di satu kalimat. Ia melanjutkan bahwa ia tidak menginginkan paus yang berpikir Iran boleh memiliki senjata nuklir, atau yang menganggap operasi militer AS di Venezuela sebagai hal yang mengerikan. Ia juga menyebut Leo terlalu condong melayani kaum kiri radikal dan bertindak lebih sebagai politisi daripada pemimpin agama. “Leo harus berbenah sebagai Paus, gunakan akal sehat, berhenti melayani kaum kiri radikal, dan fokus menjadi Paus yang Hebat, bukan politisi,” tulisnya. “Ini menyakitinya dengan sangat buruk, dan yang lebih penting, ini menyakiti Gereja Katolik.”
Keesokan harinya, di atas pesawat kepausan menuju Aljazair, Leo menjawab. “Saya tidak takut pada pemerintahan Trump atau berbicara keras tentang pesan Injil, yang saya yakini itulah alasan saya ada di sini,” katanya kepada para wartawan. “Kami bukan politisi. Kami tidak menangani kebijakan luar negeri dengan perspektif yang sama seperti yang mungkin ia pahami.” Paus menegaskan bahwa ia tidak pernah menyebut nama Trump secara langsung dalam kritiknya — ia mengkritik perang, bukan presidennya. “Saya percaya pada pesan Injil, sebagai pembawa damai,” tambahnya.
Trump kembali ditanya soal serangan itu di Joint Base Andrews dan menolak permintaan maaf. “Dia sangat menentang apa yang saya lakukan soal Iran, dan Anda tidak bisa memiliki Iran yang bersenjata nuklir,” katanya. “Saya rasa dia sangat lemah dalam kejahatan dan hal-hal lain, jadi saya tidak akan minta maaf.” Ketika ditanya lebih jauh, Trump menambahkan bahwa Paus tidak akan bahagia dengan hasil akhir konflik Iran — sebuah pernyataan yang terdengar lebih seperti ancaman daripada prediksi.
Reaksi dari sekutu Trump sendiri mengejutkan banyak pihak. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni — salah satu pemimpin sayap kanan Eropa yang paling dekat dengan Trump — secara terbuka mengecam serangan itu. “Paus adalah kepala Gereja Katolik, dan adalah hal yang benar dan normal baginya untuk menyerukan perdamaian dan mengecam semua bentuk perang,” kata Meloni dalam sebuah pernyataan resmi. Ini merupakan salah satu kritik paling langsung yang pernah Meloni arahkan kepada Trump sejak keduanya membangun hubungan kerja yang erat.
Di tengah perjalanan apostolik ke Afrika, Leo tidak melunakkan posisinya. Di Kamerun, ia berbicara di Katedral Santo Yusuf di Bamenda, mengutuk para pemimpin global yang ia sebut sedang “menghancurkan dunia” dengan menghabiskan miliaran untuk perang sementara rakyat menderita. Di Aljazair, ia berhenti di monumen kemerdekaan dari penjajahan Prancis dan menyatakan bahwa di tengah konflik yang terus berlipat ganda di seluruh dunia, membangun jembatan rekonsiliasi bukan pilihan — melainkan kewajiban. Ia tidak menyebut nama siapapun. Tidak perlu.
Yang membuat perselisihan ini lebih dari sekadar perang kata adalah konteks identitas yang rumit di baliknya. Leo XIV adalah Paus pertama yang lahir di Amerika Serikat — dari Chicago, Illinois — terpilih pada Mei 2025 setelah wafatnya Paus Fransiskus. Trump menyerangnya bukan sebagai pemimpin asing, melainkan sebagai orang Amerika yang dianggapnya berpihak pada musuh negara. Leo membalikkan framing itu sepenuhnya: baginya, berbicara tentang perdamaian bukan berpolitik — itu adalah inti dari mandat yang ia emban sejak hari pertama pontifikatnya, ketika ia menyerukan “perdamaian yang tidak bersenjata dan tidak mempersenjatai” dalam pidato pertamanya kepada dunia.
Di balik pertengkaran personal ini ada pertanyaan yang lebih besar tentang batas antara otoritas moral dan kekuasaan politik. Trump memandang kritik Paus sebagai gangguan terhadap kebijakan keamanan nasional. Leo memandang diam sebagai pengkhianatan terhadap Injil. Selama keduanya memegang posisi masing-masing — dan tidak ada tanda-tanda salah satunya akan mundur — benturan antara Gedung Putih dan Takhta Suci ini bukan hanya akan berlanjut, melainkan berpotensi semakin dalam seiring eskalasi konflik Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian permanen.
Internal link:
- “ultimatum Trump Iran 48 jam” — /konflik-dunia/ultimatum-trump-iran-48-jam-2026/
- “gencatan senjata AS-Iran rapuh” — /konflik-dunia/gencatan-senjata-as-iran-rapuh-2026/
- “kemandirian pertahanan Eropa” — /geopolitik/eropa-kemandirian-pertahanan-rearme-as-2026/
- “Selat Hormuz krisis maritim” — /konflik-dunia/selat-hormuz-blokade-krisis-maritim-mei-2026/
- “Trump Xi summit Beijing” — /geopolitik/trump-xi-summit-beijing-iran-taiwan-perdagangan-2026/
