Pemotongan SNAP AS Picu 3,5 Juta Warga Kehilangan Akses Pangan
Pemotongan SNAP AS yang dimulai pada Juli 2025 telah menyebabkan sekitar 3,5 juta warga kehilangan akses terhadap bantuan pangan, menurut data dari Center on Budget and Policy Priorities (CBPP) yang dirilis Februari 2026. Pemotongan ini merupakan konsekuensi langsung dari pemberlakuan Undang-Undang One Big Beautiful Bill atau H.R. 1 pada 4 Juli 2025, yang memperketat persyaratan kelayakan program bantuan pangan terbesar di Amerika Serikat. Dalam kurun waktu hanya tujuh bulan, jumlah peserta SNAP merosot dari lebih 42 juta menjadi sekitar 38,6 juta orang, menciptakan gelombang kerawanan pangan yang belum pernah terjadi sejak puncak pandemi COVID-19.
Data dari CBPP yang dikutip berbagai media menunjukkan bahwa penurunan paling tajam terjadi antara Oktober dan November 2025, ketika program SNAP kehilangan lebih dari satu juta penerima hanya dalam waktu 30 hari. Sebuah laporan Newsweek pada Maret 2026 mengonfirmasi bahwa pada Januari 2025 masih tercatat 42,8 juta penerima, namun pada Februari 2026 angkanya merosot menjadi 37,8 juta. Angka ini jauh lebih tinggi dari perkiraan awal, yang hanya memproyeksikan pengurangan sekitar 1,2 juta orang per tahun.
Yang membuat situasi ini semakin tragis adalah bahwa pemotongan bukan terjadi karena kondisi ekonomi penerima membaik. Survei dari Purdue University menemukan bahwa justru pada periode yang sama, tingkat kerawanan pangan rumah tangga melonjak dari 13,3 persen pada Oktober menjadi 16 persen pada November 2025. Dengan kata lain, orang-orang kehilangan bantuan di saat mereka justru semakin membutuhkannya. Pemerintahan Trump memang membanggakan diri karena telah “mengangkat” lima juta orang dari program food stamps, namun kenyataan di lapangan berkata lain: mereka kehilangan akses bukan karena tidak lagi miskin, tetapi karena aturan yang lebih ketat dan pemotongan dana yang disahkan Kongres bersama pemerintahan.
Dampak pemotongan SNAP langsung terasa di tingkat rumah tangga. Survei Federal Reserve New York yang dirilis Februari 2026 menemukan bahwa hampir 16 persen rumah tangga di AS mengandalkan donasi makanan pada awal 2026, naik dari 10,6 persen pada 2020. Di antara rumah tangga penerima SNAP yang masih tersisa, tingkat kerawanan pangan melonjak dari 36 persen sebelum pemotongan menjadi 46 persen pada November 2025. Ini berarti hampir separuh dari mereka yang masih menerima bantuan pun tetap tidak memiliki cukup makanan.
Pemotongan ini juga memicu efek domino yang menghancurkan. Anak-anak yang kehilangan SNAP juga kehilangan kelayakan otomatis untuk program lain seperti WIC (Special Supplemental Nutrition Program for Women, Infants, and Children). Akibatnya, kelompok paling rentan—ibu hamil, bayi, dan balita—kehilangan akses terhadap nutrisi kritis yang sangat mereka butuhkan pada 1.000 hari pertama kehidupan. Kerusakan fisik dan kognitif yang terjadi pada periode ini bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan, bahkan jika bantuan dikembalikan di kemudian hari.
Dari sisi anggaran, pemotongan SNAP juga membawa konsekuensi jangka panjang yang ironis. Anggaran administrasi SNAP dipangkas dari 6,2 miliar dolar AS menjadi hanya 3,2 miliar dolar AS, sementara anggaran personalia turun dari 82 juta dolar AS menjadi 56 juta dolar AS. Pemotongan ini langsung mempengaruhi kemampuan pemerintah dalam menyalurkan bantuan secara efisien di saat kebutuhan justru meningkat. Para peneliti dari JAMA Network memperingatkan bahwa pemotongan skala ini sangat mungkin meningkatkan kerawanan pangan, yang terkait dengan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, dan peningkatan biaya kesehatan.
Biaya kesehatan yang terkait dengan kerawanan pangan sendiri sudah mencapai 179 miliar dolar AS per tahun. Studi menunjukkan bahwa peserta SNAP biasanya menghabiskan 1.400 dolar AS lebih sedikit per tahun untuk perawatan kesehatan dibandingkan dengan non-peserta yang memiliki kondisi serupa. Artinya, setiap dolar yang dihemat dari pemotongan SNAP justru akan dibayar dua hingga tiga kali lipat di masa depan melalui biaya kesehatan yang lebih tinggi dan produktivitas yang lebih rendah.
Analitis ke depan
Pemotongan SNAP bukanlah kebijakan yang terjadi dalam ruang hampa. Ia adalah produk dari pergeseran filosofis yang lebih besar tentang peran negara dalam melindungi warganya yang paling rentan. AS saat ini sedang bereksperimen dengan pengurangan jaring pengaman sosial di tengah ekonomi yang rapuh dan harga pangan yang terus melonjak. Jika eksperimen ini gagal—dan semua indikator saat ini menunjukkan bahwa ia sedang gagal—konsekuensinya akan menghantui AS selama satu generasi.
Ke depan, setidaknya ada tiga skenario. Pertama, pemerintah mengembalikan dana SNAP dan melonggarkan persyaratan, yang akan menstabilkan kerawanan pangan tetapi membutuhkan biaya politik dan fiskal yang besar. Kedua, pemotongan berlanjut dan kerawanan pangan terus memburuk, memaksa negara bagian dan organisasi nirlaba mengambil alih beban yang tidak mampu mereka tanggung. Ketiga, terjadi krisis kemanusiaan terbuka yang memaksa intervensi darurat federal. Dari ketiganya, skenario kedua adalah yang paling mungkin terjadi dalam 12 bulan ke depan, kecuali ada perubahan signifikan dalam komposisi Kongres setelah pemilu paruh waktu.
Bagi Indonesia, pelajaran dari krisis SNAP ini adalah bahwa jaring pengaman sosial yang kuat bukanlah kemewahan, melainkan keharusan. Ketika harga pangan naik dan ekonomi melambat, program bantuan yang tepat sasaran dapat mencegah jutaan orang jatuh ke dalam kelaparan. Tanpa itu, bahkan negara sekaya AS pun bisa menyaksikan warganya sendiri mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan sepiring makanan.
Internal Link (minimal 5):
“krisis kelaparan AS 47,9 juta orang lebih parah dari pandemi” — /ekonomi-global/krisis-kelaparan-as-2026-lebih-parah-dari-pandemi/
“harga pangan naik lebih dari 30% sejak pandemi di AS” — /ekonomi-global/harga-pangan-naik-trump-tarif-inflasi-2026/
“disparitas kelaparan AS: 24,4% rumah tangga kulit hitam alami kerawanan pangan” — /sosial/disparitas-kelaparan-as-kulit-hitam-hispanik-termiskin/
“harga minyak Juni 2026 sentuh USD126, OPEC+ tambah produksi” — /ekonomi-global/harga-minyak-juni-2026-opec-tambah-produksi/
“ekonomi global di ujung uji di tengah pergeseran kekuatan dunia” — /ekonomi-global/ekonomi-global-di-ujung-uji-2026/
