Arab Saudi Kutuk Invasi Israel ke Lebanon, Tolak Pelanggaran Kedaulatan
Invasi darat Israel yang memperluas pendudukannya di Lebanon selatan pada akhir pekan lalu memicu kecaman keras dari Arab Saudi. Riyadh secara resmi mengutuk habis-habisan agresi militer rezim Zionis terhadap negara tetangganya yang disebut sebagai “saudara”.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, melalui pernyataan resmi yang dirilis Senin (1/6/2026), mengungkapkan penolakan kategoris Kerajaan terhadap segala bentuk pelanggaran kedaulatan Lebanon.
Riyadh: Serangan Israel Tindakan Agresi Terang-terangan
“Arab Saudi mengutuk agresi Israel terhadap wilayah Republik Lebanon yang bersaudara,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Kerajaan yang dikutip Saudi Gazette. Riyadh juga menyatakan “penolakan kategorisnya terhadap invasi Israel ke tanah Lebanon dan pelanggaran kedaulatan Lebanon.”
Sikap tegas Riyadh ini muncul hanya beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengumumkan perluasan operasi darat militer Zionis di Lebanon selatan untuk menduduki wilayah sekitar Sungai Litani hingga Beirut.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyerukan kepada komunitas internasional untuk “mengambil tanggung jawabnya dalam menghentikan agresi ini dan mengakhiri gerakan militer Israel yang bertujuan untuk memperluas pendudukan di wilayah Lebanon.”
Seruan Patuhi Perjanjian Taif dan Batasi Senjata
Yang menarik, Riyadh tidak hanya mengutuk serangan militer semata. Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap Perjanjian Taif yang menjamin perpanjangan kewenangan negara Lebanon atas seluruh wilayahnya.
Riyadh menegaskan kembali pentingnya “mematuhi keputusan pemerintah Lebanon untuk membatasi kepemilikan senjata hanya pada negara dan lembaga-lembaga yang sah.”
Seruan ini secara tidak langsung menyoroti peran kelompok Hizbullah yang selama ini menguasai Lebanon selatan. Dalam pandangan Riyadh, hanya dengan memulihkan kewenangan penuh pemerintah Lebanon atas seluruh teritorinya, stabilitas dan keamanan dapat dipulihkan.
Arab Saudi juga menekankan “pentingnya menjaga kedaulatan Lebanon dan keselamatan rakyat Lebanon sesuai dengan perjanjian internasional yang relevan.”
Bentrokan Militer Memanas di Lebanon Selatan
Pernyataan keras Riyadh ini muncul di tengah eskalasi terburuk dalam beberapa pekan terakhir. Pasukan pendudukan Israel berhasil merebut Beaufort Castle, benteng bersejarah berusia 900 tahun di Lebanon selatan, yang oleh media dideskripsikan sebagai “pendalaman terbesar Israel ke Lebanon” sejak tahun 2000.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan video, menginstruksikan militer Zionis untuk “memperdalam dan memperluas kontrol” atas wilayah Lebanon selatan yang dikuasai Hizbullah. Sementara itu, Katz mengancam akan mengubah area sekitar Sungai Litani di Lebanon selatan menjadi zona yang dikendalikan militer Israel, serta terus menyerang Beirut hingga Hizbullah menghentikan serangannya.
Upaya diplomasi tingkat tinggi pun dilakukan. Presiden AS Donald Trump disebut telah menelepon Netanyahu dan pejabat tinggi Hizbullah pada Senin malam (1/6/2026). Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa gencatan senjata yang disepakati pada April lalu sangat rapuh.
Dukungan Penuh untuk Lebanon di Tengah Krisis
Di sela-sela pernyataan resmi, Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan disebut sedang melakukan komunikasi intensif dengan mitranya di Lebanon untuk mengoordinasikan respons diplomatik, demikian laporan Al Arabiya English.
Pangeran Faisal juga menekankan “solidaritas penuh Kerajaan dengan Lebanon” dan kesiapan Riyadh untuk memberikan semua bentuk dukungan yang diperlukan untuk membantu Lebanon menghadapi agresi ini.
Analitis ke depan
Posisi tegas Riyadh ini menempatkan Arab Saudi pada poros yang menarik. Selama ini Saudi dipandang sebagai sekutu tradisional Washington. Namun dengan seruan penolakan keras terhadap invasi Israel ke Lebanon, Riyadh menunjukkan bahwa hubungan strategis dengan AS tidak menghalanginya untuk membela kedaulatan negara Arab lain.
Diplomasi Saudi kini bergerak aktif di dua lini. Pertama, memanfaatkan pengaruhnya di dunia Arab dan Islam (melalui OKI) untuk membangun tekanan kolektif terhadap Israel. Kedua, mendorong Washington untuk menahan sekutunya agar tidak memperluas pendudukan yang akan mengganggu stabilitas regional.
Yang perlu dicermati ke depan adalah bagaimana Riyadh menyeimbangkan dua kepentingan: menjaga hubungan strategis dengan AS untuk menghadapi Iran, sekaligus mempertahankan kredibilitas sebagai pelindung kepentingan Arab di tengah invasi Zionis ke Lebanon. Jika diplomasi Saudi gagal menghentikan serangan Israel, bukan tidak mungkin Riyadh akan mengambil langkah lebih lanjut yang dapat mengubah peta geopolitik Timur Tengah secara fundamental.
Internal Link :
“Iran hentikan negosiasi dengan AS, gencatan di Lebanon jadi prasyarat” — /konflik-dunia/iran-hentikan-negosiasi-as-israel-serang-lebanon-2026/
“Trump murka ke Netanyahu: ‘Kamu Gila, Semua Orang Membencimu'” — /konflik-dunia/trump-murka-netanyahu-lebanon-gila-batal-serang/
“130 konflik aktif dunia di 2026, tertinggi dalam sejarah modern” — /geopolitik/130-konflik-aktif-dunia-wef-2026/
“harga minyak Juni 2026 sentuh USD126, OPEC+ tambah produksi” — /ekonomi-global/harga-minyak-juni-2026-opec-tambah-produksi/
“ekonomi global di ujung uji di tengah pergeseran kekuatan dunia” — /ekonomi-global/ekonomi-global-di-ujung-uji-2026/
