China Potong Harga Bensin Diesel, Pemangkasan Kedua Sejak Perang Iran
China potong harga bensin dan diesel mulai Jumat (5/6/2026), langkah yang menjadi pemangkasan kedua kalinya sejak pecahnya perang Iran pada akhir Februari lalu. Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) mengumumkan batas maksimum harga eceran untuk bensin dan masing-masing diturunkan sebesar 505 yuan per ton atau setara dengan 77,52 dolar AS. Langkah ini mulai berlaku pada pukul 00:00 Jumat waktu setempat dan merupakan kali pertama harga BBM turun sejak awal konflik yang mengguncang pasar energi global tersebut.
Bagi konsumen mobil pribadi di China, pemangkasan ini berarti penghematan nyata. Berdasarkan data dari berbagai media keuangan dan energi China, harga per liter bensin 92 oktan turun sekitar 0,41 yuan secara nasional. Dengan demikian, pengisian tangki standar 50 liter akan menghemat sekitar 20,5 yuan atau sekitar 3 dolar AS per pengisian. Untuk bensin 95 oktan dan solar 0 oktan, masing-masing turun 0,44 yuan dan 0,43 yuan per liter.
Meskipun kali ini terjadi pemotongan, akumulasi kenaikan harga BBM di China sejak perang Iran meletus masih sangat signifikan. Sepanjang tahun 2026 hingga awal Juni, siklus penetapan harga BBM China telah mengalami delapan kali kenaikan, dua kali penurunan (termasuk kali ini), dan satu kali tidak berubah. Akibatnya, sejak awal konflik, harga bensin di China masih tercatat naik bersih sebesar 1.590 yuan per ton, sementara solar naik 1.530 yuan per ton. Dengan kata lain, pemangkasan kali ini belum mampu mengembalikan harga ke level sebelum perang.
Keputusan NDRC ini didasarkan pada formula yang memperhitungkan rata-rata bergerak harga minyak mentah internasional. Dalam siklus penetapan harga kali ini, rata-rata harga minyak dunia tercatat lebih rendah dibandingkan periode penyesuaian sebelumnya pada akhir Mei 2026. Penurunan ini terjadi di tengah sentimen pasar yang berfluktuasi mengenai kelanjutan konflik antara Iran dan kekuatan Barat, terutama Amerika Serikat, yang telah mengganggu pasokan minyak global dan mendorong harga minyak mentah ke level tinggi sepanjang tahun.
Namun, pemotongan harga ini juga mencerminkan tekanan ekonomi yang mulai dirasakan China. Lonjakan harga minyak global sebelumnya telah mulai menekan permintaan domestik terhadap produk minyak olahan. Data dari konsultan OilChem menunjukkan bahwa konsumsi gabungan bensin dan solar di China pada April 2026 turun 16 persen secara tahunan. Konsumsi Mei masih tetap lemah, turun 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025, setelah sepanjang tahun 2025 tercatat penurunan tahunan sebesar 3,7 persen.
Penurunan permintaan ini juga tidak terlepas dari percepatan adopsi kendaraan listrik (EV) di China. Dengan jutaan mobil listrik baru yang meluncur setiap tahunnya, tekanan terhadap permintaan bensin terus berlanjut dalam jangka panjang. Hal ini menjadi faktor struktural yang membuat China sedikit lebih tahan terhadap guncangan harga minyak global dibandingkan negara-negara berkembang lain yang masih sangat bergantung pada BBM fosil.
Dari perspektif makro, pemangkasan harga BBM ini memberikan sedikit ruang bernapas bagi konsumen dan industri China yang selama berbulan-bulan tertekan oleh biaya energi tinggi. Inflasi harga produsen (PPI) yang sempat melonjak akibat kenaikan harga energi diperkirakan akan sedikit mereda. Namun, tetap ada risiko bahwa jika konflik Timur Tengah terus berlanjut dan harga minyak global kembali melonjak, China bisa saja terpaksa menaikkan harga lagi dalam siklus berikutnya.
Analitis ke depan
Pemangkasan harga BBM di China pada awal Juni 2026 adalah angin segar bagi konsumen di tengah kenaikan harga yang terus berlangsung sejak perang Iran pecah. Namun, langkah ini juga mencerminkan tekanan besar terhadap perekonomian China. Penurunan permintaan BBM menunjukkan bahwa harga minyak mentah global yang tinggi sudah mulai membebani konsumen dan industri dalam negeri.
Di tingkat global, situasinya masih sangat rapuh. Stok minyak global, terutama minyak mentah, berada pada level rendah dan terus menyusut akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah. Jika konflik terus berlanjut dan Selat Hormuz tetap terganggu, tidak ada jaminan bahwa China akan bisa terus mempertahankan harga domestik di bawah tekanan biaya impor yang meningkat. Siklus penetapan harga NDRC berikutnya akan dibuka pada 18 Juni 2026. Analis pasar memperkirakan bahwa jika harga minyak mentah dunia tidak turun signifikan dalam dua pekan ke depan, China mungkin tidak akan melanjutkan tren pemotongan.
Bagi Indonesia, situasi ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, penurunan harga BBM China dapat sedikit mengurangi tekanan pada harga minyak global. Namun di sisi lain, China adalah importir minyak mentah terbesar di dunia. Jika permintaan China melemah secara signifikan karena lesunya ekonomi domestik dan percepatan transisi ke EV, hal itu akan mempengaruhi harga komoditas global lainnya, termasuk minyak sawit dan batu bara yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Oleh karena itu, meski pengumuman ini memberi sedikit kelonggaran, dinamika ekonomi dan geopolitik yang mendasarinya masih sangat fluktuatif. Pemerintah dan pelaku pasar harus tetap waspada terhadap potensi guncangan harga lain pada paruh kedua tahun 2026.
Internal link :
“Iran hentikan negosiasi dengan AS, gencatan di Lebanon jadi prasyarat” — /konflik-dunia/iran-hentikan-negosiasi-as-israel-serang-lebanon-2026/
“IMF peringatkan resesi global 2026 jika konflik Timur Tengah berlanjut” — /ekonomi-global/imf-peringatan-resesi-global-2026/
“Proyeksi ekonomi global OECD turun ke 2,1% pada 2026 di tengah konflik Timur Tengah” — /ekonomi-global/proyeksi-ekonomi-global-oecd-2026-21-persen/
“WMO peringatkan El Nino 2026: 80 persen peluang terjadi Juni-Agustus, guncang cuaca global” — /impact-global/wmo-el-nino-2026-80-persen-juni-agustus/
“Azerbaijan pacu green growth pasca COP29, target 30% energi terbarukan 2030” — /impact-global/green-growth-azerbaijan-energy-transisi-cop29-2026/
